Oleh Naim Emel Prahana
SENI Debus Surosowan Banten berakar awal dari abad ke-16 pada masa Kesultanan Banten, semula hanya sebagai sarana dakwah dan penyebaran agama Islam oleh Nurrudin Ar-Raniry dan latihan spiritual bagi prajurit. Kemudian, masa Sultan Ageng Tirtayasa di abad ke 17 debus berkembang menjadi media untuk membangkitkan semangat juang melawan penjajahan Belanda, dengan nama ‘debus al-madad‘ atau ‘tebus’ sebagai alat tempur. Aliran Surosowan sendiri merupakan salah satu varian debus yang dikembangkan di Banten.
Dalam perkembangannya, debus menjadi hiburan dan seni budaya. Debus menjadi identitas budaya Banten sehingga menjadi salah satu kesenian yang sering dipertunjukan pada acara hajatan dan acara resmi pemerintah provinsi Banten. Menyimak isi buku Debus kebudayaan di kemdikbud.go.id. 17 Desember 2015. Diakses tanggal 31 Mei 2020. Kesenian Debus, Sejarah dan Ciri Khas Wisata Banten”. (arsip asli tanggal 19 November 2011), kemudian sejarah singkat Debus oleh Keluarga Pencak Silat Nusantara.
Menyebutkan, awal mula debus di Banten yang sejarahnya menyatu dengan Keraton Surosowan dibangun pada masa Sultan Hasanuddin (1552–1570). Keraton yang dibangun dengan kemegahan tersebut akhirnya dihancurkan. Karena Kesultanan Banten tidak rela dan tidak mau kalau Keraton mereka diambil dan diduki oleh Belanda.
Pada tahun 1680—1681 Keraton tersebut dibangun kembali oleh Sultan Haji. Keraton yang dibangun Sultan Haji itu berdiri megah sampai 1808. Karena, di tahun 1808 keraton dihancurkan kembali oleh Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abdul Fatah menghancurkan keratonnya sendiri. Karena tidak rela jika diduduki oleh Belanda.
Begitu juga dengan Keraton Kaibon Banten. Sejak saat itu, Keraton Surosowan hanya tinggal puing-puingnya. Sebagian besar sisa-sisa bangunan masih terpendam di dalam tanah, dan hanya sebagian kecil yang sudah dimunculkan lewat beberapa kali ekskavasi yang dilaksanakan oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Universitas Indonesia sejak 1967.
Tetapi, tidak dengan seni pertunjukannya. Sekarang dikelola oleh keluarga Kraton bersama dengan Provinsi Banten untuk pemeliharaannya. Sekilas menyimak dialog di RRI Jakarta dengan narasumber dari Disporapar Kabupaten Serang, Provinsi Banten, H. Beni Kusnandar, SSn, MSi tersirat makna religi dari lair hingga perkembangan debus Surosowan. Di bawah ini saya kutip isi dialog tesebut:
Semua bentuk kesenian yang bernuansa religi Islam bisa dipastikan lahir dari Kasultanan Banten. Di tahun 1526 kesenian Debus berfungsi sebagai penyebaran agama Islam. “Kasultanan Banten sumping ka sakelompok masyarakat sakampung, nuju ka hari ta kagaduh peradaban naon, upami panginten ngajak, hei, masuk Islam, bingung panginten,” ujar Beni Kusnandar mengawali pembicaraanya. Masuknya ajaran Islam disisipkan dalam bentuk kesenian Debus.
Para prajurit dan para Kyai pemuka agama Islam dari Kraton Surosowan menampilkan kesenian Debus. Pertunjukan Debus adalah bentuk ungkapan kesaktian prajurit, kebal dari berbagai senjata tajam, sehingga masyarakat yang menonton tertarik untuk bisa bermain Debus. Berdasarkan penuturan Profesor Tiami, salah satu Budayawan Banten, apabila ingin bermain Debus syarat yang harus dilakukan adalah membaca Syahadat dan puasa tiga hari, tujuh hari dan empat puluh hari. Selain puasa juga harus menjalankan sholat dan tidak pernah meninggalkannya.
Selain Debus, kesenian Terbang Gedhe, Ratipan, Dalak Ilan, Yalil, dan Dzikir Saman juga lahir di Kasultanan Banten. Atik Sopandi, SKar dalam bukunya Sejarah Karawitan Indonesia, Kesenian Terbang Gedhe lahir di Panggung Jati Serang, identik dengan ajaran Nabi Muhammad SAW menerima wahyu lima waktu sholat. Maka untuk pertunjukan tebang gedhe menggunakan lima alat musik, yaitu : Koneng, Kempul, Bibit, Sela dan Terbang Gedhe yang merupakan penggambaran Isra Mira’.
Sedangkan yang lahir di masyarakat sebagai hiburan, adalah Ubruk, sepadan dengan Longser sandiwara daerah. Juga kesenian Beluk yang berupa nyanyian laki-laki yang bernadakan tinggi dan panjang, berfungsi untuk mengusir burung di sawah, dan yang terakhir adalah Angklung Buhun. Bentuk kesenian yang paling tua di Banten. Di temukan di sungai Ciruas, Kampung Pulo Serang.
Menurut penuturan sekarang yang merawatnya, yang sudah keturunan yang ke tiga puluh, Angklung Buhun adalah ibu dari Angklung Baduy yang bernama Mayangsari, Fungsi Angklung Buhun seperti Tarawangsa di Sukabumi, untuk musik persembahan kepada Dewi Sri. Dari Keraton Surosowan Banten lahirlah kesenian religius Islam, berjalan beriringan dengan kesenian yang lahir dari masyarakat. Semoga selalu bersinergi dalam kedamaian.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa awal mula dan fungsi awal debus lahir abad ke 16. Kesenian ini pertama kali dikenal pada masa Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570) sebagai sarana dakwah Islam. Dan, debus merupakan Latihan spiritual digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam oleh Nurrudin Ar-Raniry, yang memperkenalkan tarekat Rifa’iyah. Para pemeluknya diajarkan untuk memohon pertolongan Allah melalui doa dan dzikir agar kebal dari benda tajam.
Pada masa penjajahan abad ke 17 masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692) debus digunakan untuk membangkitkan semangat rakyat Banten dalam menghadapi penjajahan Belanda. Juga, Debus menjadi bagian dari latihan perang bagi para panglima perang dan prajurit, yang disebut ‘tebus’. Dalam seni pertunjukannya, debus menggunakan berbagai peralatan. Selain alat tebus, seperti pedang, golok, keris, dan tombak juga digunakan dalam latihan dan pertunjukan debus.
Aliran Surosowan
Nama lainnya “Debus Surosowan” yang merujuk pada nama istana Kesultanan Banten, yaitu istana Surosowan. Ciri khas debus aliran ini yang semula dikembangkan di lingkungan kesulatnanan dan memiliki beberapa ciri khas, termasuk kesenian tari, suara dan seni kebathinan. Pertunjukan debus dapat menampilkan aksi ekstrem seperti menusuk tubuh dengan senjata tajam, memakan bara api, dan atraksi lainnya yang dilakukan dengan mengucapkan doa dan dzikir.
di zaman modern seni debus mengalami kebangkitan, yang sebelumnya sempat hilang seiring melemahnya kesultanan Banten. Kebangkitan debus itu muncul dan berkembang kembali sejak tahun 1960 yang awalnya hanya sebagai sarana hiburan. Saat ini, debus menjadi bagian dari warisan budaya Banten yang terus dilestarikan, meskipun menghadapi tantangan seperti pengaruh media sosial.
Kesenian debus yang sering dipertontonkan di antaranya: menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka, mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok, makan api, menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tembus tanpa mengeluarkan darah. Kemudian, menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh, menggoreng telur di atas kepala, membakar tubuh dengan api, menaiki atau menduduki susunan golok tajam, bergulingan di atas serpihan kaca atau beling.
Debus dalam bahasa Sunda berarti tembus juga dalam bahasa Arab berarti senjata tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar. Bagi sebagian masyarakat awam kesenian debus memang terbilang sangat ekstrem. Pada masa sekarang, debus sebagai seni beladiri yang banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat. (dikutip dari berbagai sumber)









