KesehatanNasional

Wamenkes Bersama Ketua GEMASIC Indonesia Bahas Peta Jalan Generasi Emas Indonesia

×

Wamenkes Bersama Ketua GEMASIC Indonesia Bahas Peta Jalan Generasi Emas Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ketua Generasi Emas Indonesia Cemerlang (GEMASIC Indonesia), Dr. dr. Wahdi, Sp.OG(K), SH, MH, bertemu dengan Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, untuk membahas Peta Jalan Generasi Emas Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. FOTO: LC

JAKARTA, (LC)–Ketua Generasi Emas Indonesia Cemerlang (GEMASIC Indonesia), Dr. dr. Wahdi, Sp.OG(K), SH, MH, bertemu dengan Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, untuk membahas Peta Jalan Generasi Emas Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa, (01/09/2026), pukul 11.00–13.00 WIB di ruang kerja Wakil Menteri Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta. Pertemuan membahas pentingnya sinergi dan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung visi besar pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Upaya tersebut dinilai sejalan dengan visi Kementerian Kesehatan periode 2025–2029 serta Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Pembangunan SDM Dimulai Sejak Prakonsepsi

Dr. Wahdi menyampaikan bahwa pembangunan SDM menuju Indonesia 2045 harus dilakukan secara berkelanjutan sejak prakonsepsi, 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), masa remaja, dewasa hingga lanjut usia.
Pendekatan tersebut membutuhkan strategi continuum of care across the life cycle atau pembangunan kesehatan berdasarkan siklus kehidupan.

Menurutnya, keberhasilan program tidak dapat dilakukan oleh pemerintah pusat semata. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, organisasi profesi, akademisi, tenaga kesehatan, hingga kader di tingkat masyarakat.

Pendidikan Etika, Disiplin dan Hukum bagi Tenaga Kesehatan

Dalam pertemuan tersebut, turut dibahas pembangunan SDM di bidang kedokteran dan tenaga kesehatan bersama Ketua Peradi Nusantara dan Wuisan Law School, Dr. (c). Ronald S., SH, MH.

Pembahasan difokuskan pada pentingnya pemahaman tenaga kesehatan terhadap etika, disiplin, standar pelayanan, hukum dan regulasi kesehatan, khususnya sebelum mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan terjun ke fasilitas pelayanan kesehatan maupun melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Wamenkes menyambut baik gagasan tersebut.

“Saya senang dapat bertukar pikiran bersama teman-teman yang tentu mempunyai pengalaman banyak sebagai praktisi kesehatan dan juga praktisi hukum. Ini tentu akan menjadi perhatian Kemenkes,” ujarnya

“Saya mengusulkan pendidikan hukum diberikan kepada mahasiswa sebelum terjun praktik di fasilitas kesehatan dan dalam pengabdian di masyarakat.” sambungya

Fokus Pencegahan, Imunisasi dan Penurunan Stunting

Wamenkes juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, organisasi profesi serta akademisi dalam mendukung program Asta Cita, khususnya di bidang kesejahteraan dan kesehatan. Beberapa program yang menjadi perhatian antara lain pencegahan dini, program cek kesehatan gratis, peningkatan cakupan dan mutu imunisasi rutin anak, serta percepatan penurunan stunting.

Menurut Wamenkes, pembangunan SDM merupakan modal utama pembangunan bangsa. Ia juga menyatakan dukungannya terhadap berbagai usulan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, terutama dalam mempersiapkan dokter dan tenaga kesehatan agar memberikan pelayanan yang berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.

“Pasien selamat, maka semua selamat,” imbuhnya.

Perlindungan Ibu dan Anak Jadi Fondasi Generasi Emas

Sebagai Ketua GEMASIC Indonesia sekaligus pencetus Gerakan JAMAPAI (Jaringan Masyarakat Peduli Anak Ibu) dan peraih penghargaan Inovasi POGI Awards 2025, Dr. Wahdi menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menekan angka kematian ibu dan bayi serta stunting.

Menurutnya, perlindungan ibu dan anak harus menjadi fondasi utama dalam melahirkan generasi Indonesia yang sehat dan unggul. Dr. Wahdi juga menyoroti pentingnya penerapan Maternal Early Warning Score (MEWS) Obstetri yang terintegrasi dengan Rekam Medis Elektronik (RME) dan ekosistem SATU SEHAT Kementerian Kesehatan.

Sistem tersebut diharapkan dapat membantu mendeteksi secara dini kondisi yang berpotensi menyebabkan keterlambatan penanganan dan meningkatkan risiko kematian ibu maupun bayi. Upaya tersebut dinilai sejalan dengan transformasi kesehatan Kemenkes, khususnya penguatan pelayanan kesehatan primer yang mengedepankan upaya promotif dan preventif.

Edukasi Remaja dan Pencegahan Pernikahan Dini

Selain intervensi klinis, Dr. Wahdi mengingatkan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak usia remaja serta edukasi pranikah. Ia menilai pencegahan pernikahan pada usia terlalu muda perlu menjadi perhatian bersama karena kehamilan pada usia remaja memiliki berbagai risiko kesehatan bagi ibu dan bayi.

Karena itu, edukasi pranikah serta pemantauan kesehatan sejak remaja perlu dilakukan melalui gotong royong lintas sektor, melibatkan pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, keluarga dan masyarakat.

Integrasi Data Kesehatan untuk Kebijakan

Menutup pembahasan, Dr. Wahdi menegaskan bahwa penyiapan SDM Indonesia yang tangguh membutuhkan komitmen bersama, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, organisasi profesi, akademisi, tenaga kesehatan hingga kader posyandu di tingkat desa.

Integrasi data kesehatan digital yang tengah dikembangkan Kementerian Kesehatan juga dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat pencatatan dan pelaporan kesehatan. Data yang terintegrasi diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan menjadi langkah konkret dalam membangun SDM Indonesia yang sehat, produktif dan berkualitas, sekaligus memperkuat fondasi menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045. (LC-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.