Kota Metro

Legenda Angkutan Kota di Metro Menyedihkan

×

Legenda Angkutan Kota di Metro Menyedihkan

Sebarkan artikel ini
Satu-satunya angkot yang tersisa di Kota Metro melayani route Terminal Kota - Terminal Induk Mulyojati 1c. FOTO:NEP/LC

METRO, (LC)—Masa kejayaan angkutan umum jenis angkutan kota yang populer di bibir masyarakat dengan nama ‘angkot’ saat ini benar-benar the end padahal sebelum pemekaran wilayah Kabupaten Lampung Tengah dan periode pertama Metro sebagai kota sejajar dengan daerah kabupaten sangat top markotop.

Setelah periode ketiga kepemimpinan walikota di Metro angkutan kota yang sangat merakyat itu mulai terasing di negerinya sendiri. Terlebih ketika Terminal Kota tempat tujuan dan keberangkatan angkot Metro dirubah menjadi pasar sayur saat Kota Metro dipimpin oleh walikotanya Lukman Hakim.

Sebelumnya, jumlah angkot di Metro mencapai 300-an bahkan sampai 400-an kalau ditambah dengan armada angkot dari Tegineneng (Batanhari Ogan), Wates, Punggur, Gaya Baru, Sukadana, Raman Utara, Bataghari Sekampung sangat banyak.

Sejarah angkot Metro khusus di dalam kota jumlah terbanyak adalah angkot trayek Terminal Kota—Terminal Induk Muljojati 16C. Saat itu, ketika berdirinya Paguyuban Keluarga Terminal 16C disingkat dengan Kenal 1c jumlah angkot jurusan/trayek itu mencapai 275 unit.

Walaupun jurusan Terminal Kota—Terminal Mulyojati adalah jalur ‘putus’ namun penumpangnya sangat banyak. Posisi kedua ditempati angkot jurusan Batanghari yang berada juga di kawasan kampus dengan warna angkot merah tua.

Pada saat itu sampai 2007 trayek angkot di Kota Metro terdiri dari Terminal Kota ke  Kampus, Batanghari Sekampung sampai Pugung Rahardjo, Sukadana sampai Way Jepara, Punggur sampai Gaya Baru, Wates sampai Bangunrejo—Kalirejo, Raman Utara, Pekalongan, Trimurjo sampai Tegineneng dan trayek terminal kota ke Jalan Hasanudin Yosomulyo. Ditambah dengan trayek terminal kota ke 22 Hadimulyo sampai Banjarsari.

Mungkinkah masa itu adalah masa jaya dan masa pasang surut keberadaan angkutan rakyat ‘angkot’ di Kota Metro. Nyata sekarang sangat langka untuk dapat melihat angkot ngetem di terminal kota. Sedangkan di terminal induk Mulyojati 16C hanya tersisa 1 (satu) unit angkot yang dimiliki oleh Syam.

Saat bincang dengan LC di Terminal Induk kelas A Mulyojati, Rabu (6/11/2024), Edo yang puluhan tahun lebih kerja di terminal Mulyojati mengakui keberadaan angkot saat ini sudah tidak ada.

Ada beberapa penyebab matinya armada angkot di Metro kata Edo, selain berubahnya fungsi terminal kota zaman walikota Lukman Hakim, juga kehadiran grab, gojek, motor dan travel pribadi semakin banyak.

“Kemudian, penumpang lebih memilih naik ojek online ketimbang naik angkot,” kata Edo.

Hal serupa diakui oleh Syam yang masih bertahan dengan angkotnya warna oranye dan selalu nongkrong di terminal Mulyojati bahwa perlu adanya perhatian pemerintah kota, bagaimana menghidupkan kembali angkot yang tarifnya sangat merakyat itu.

Kalau mau jujur, kata Syam di kota lain walau menjamur ojek online, travel atau taksi angkot masih tetap menjadi pilihan warga masyarakat.

“Kenapa di Kota Metro persoalannya seakan runyam sekali,” tanya Syam.

Apa yang diungkapkan oleh Edo maupun Syam memang sebuah realitas yang tak dapat disembunyikan. Tentu, pihak Dishub provinsi Lampung yang mengelola Terminal Induk Mulyojati perlu mencari solusinya. (LC-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.