METRO, (LC)—Yayasan Boemi Dan Kita yang dikelola anak-anak muda Lampung meluncurkan produk (launching) Collection Waste Center—tempat pengumpulan sampah anorganik di Jl Bison No 29 Purwosari, Metro Utara Kota Metro dan dihadiri warga beserta para undangan dari berbagai instansi di Kota Metro.
Launching Collection Waste Center oleh Direktur Yayasan Boemi dan Kita, Ridho Iqbal Firdaus, SAB selain semangat dan tekad anak-anak muda Kota Metro, juga dimaksudkan untuk mengatasi masalah sampah di tengah kehidupan bermasyarakat saat ini.
Launching Collection Waste Center dilakukan sebuah rumah produksi pengumpulan sampah anorganik, Jumat (15/12/2024) menurut Ridho sebagai Ketua Yayasan Boemi dan Kita, merupakan bagian dari mendaur ulang sampah anorganik menjadi bermanfaat dan bernilai ekonomis.
Dijelaskan oleh Ridho Iqbal Firdaus Launching Collection Waste Center di Jl Bison Metro Utara itu merupakan launching kedua kegiatan mereka mengolah sampah anorganik di Lampung, yang pertama sudah ada di Bandarlampung.
Di lokasi pengumpulan sampah, Yayasan Boemi dan Kita yang oleh Ridho disebut aktivitas Jalan Kerinsi Grup, sudah memiliki 2 (dua) unit mesin pengopres plastik dan juga ada mesin pembuat tali rapiah.
Menurut Ridho—alumni Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE UII) itu, pihaknya bekerjasama dengan beberapa perusahaan yang juga dikelola oleh anak-anak muda yang sangat antusias untuk mendaur ulang limbah, khususnya anorganik.
“Sampah sudah lama menjadi isu global,” ujar Ridho seraya menambahkan tentang dampak yang paling serius kalau sampah tidak dikelola dengan baik.
Selain menjadi salah satu peyebab menyebarnya beberapa jenis penyakit, juga jika limbah sampah masuk ke dalam tanah, maka dampak paling serius adalah tercemarnya air bersih.
Yayasan Boemi Kita berkomitmen minimal target yang akan dicapai sebulan kegiatannya mampu mengumpulkan 100 – 300 ton sampah.
“Kami berkomitmen untuk meningkatkan jumlah pengumpulan sampah untuk didaur ulang di Lampung dan Sumatra dengan target 100 hingga 300 ton per bulan,” kata Ridho.
Untuk itu, tambah Ridho mereka akan melakukan proyek penanaman pohon bersama teman-teman komunitas di Lampung, dengan konsep baru dalam program bersama berbagai lapak rongsokan.
Yayasan Boemi Kita, juga sudah menjalin kerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unila dimulai dengan peluncuran program Eduwaste yang mengedukasi mahasiswa dan dosen tentang pengelolaan sampah secara praktis.
“Program ini juga melibatkan partisipasi aktif dalam kegiatan pemilahan dan daur ulang sampah,” tambahnya. Bahkan, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unila, Prof. Nairobi menyampaikan dukungannya atas program tersebut.
“Kami sangat mendukung inisiatif ini karena dapat menumbuhkan kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa dan masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah,” ujar Prof. Nairobi.
Collection Waste Center nantinya menjadi pusat pengumpulan, pemilahan, dan distribusi sampah untuk didaur ulang. Sampah yang terkumpul dipilah berdasarkan jenisnya untuk memastikan proses daur ulang lebih efisien.
“Program ini tidak hanya mengurangi sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga membuka peluang untuk pengembangan ekonomi sirkular, seperti penciptaan lapangan kerja baru di sektor daur ulang,” jelas Ridho.
Ketua Yayasan Boemi Kita, kata Ridho merupakan program bagian dari upaya memperluas jaringan daur ulang di Provinsi Lampung. Melalui pendekatan berbasis kampus, diharapkan kesadaran mengenai pengelolaan sampah dapat berkembang pesat di kalangan generasi muda.
Hadir saat launching Collection Waste Center itu terlihat guru besar UIN Bandarlampung, Prof. Dr. Drs, Mustafa Wageyanto, SAg – sekarang aktif juga meminit sebuah yayasan LKBH, Camat Metro Utara, H. Heri Hendarto, Sekretaris LH, Ir. Yerry Kartiko, Kasubag TU RSUD A Yani, Rudy, Lurah Purwosari, Sutoro, dan budayawan Naim Emel Prahana. (LC-01)









