Oleh Naim Emel Prahana
SALAM untuk penyair Edy Samudra Kertagama yang telah mengalir bak air sungai di lekuk tubuh bumi, di jalur alirannya, tebing dan disela-sela bebatuan. Lalu, menikmati suara riak air sungai menuju muara. Pertemuan suasana air pegunungan – bersumber dari perut bumi dengan air laut ‘asin’ bergelombang dahsyat. Namun, nikmat menikmati suasana itu luar biasa di dalam puisi-puisi Edy Samudra Kertagama.
Aku mencoba menikmati puisi selanjudnya kusebut “mengalirnya romantika” dan nafas sang aktor dalam puisi-puisi esay pendek. Padahal, esay itu kan panjang. Baik, itu hanya sebutanku saja.
Salah satu sifat puisi-puisi adalah unsur ‘dialogis’—apakah unsur itu cenderung dan kuat ke sektor norma tertentu atau merpakan gambaran dialogis sang penulis—(mungkin) sekaligus sebagai penyair tentang dinamika kehidupan yang sesungguh penuh kasih sayang. Ada pesan larangan dan pesan mengajak; setidak-tidaknya antara penyair (sekaligus penulis puisinya) dengan berbagai cita rasa.
Selentingan aku dengar puisi-puisi Edy Samudra Kertagama sangat ‘romantis’. Aakah karena kelembutan makna kata-kata yang dipilih atau memang protype sang penyairnya yang seingat aku jarang membuat pernyataan-pernyataan. Karena, Edy (mungkin) sadar dan itulah seharusnya seorang penulis dan sekaligus penyair tidak ikut-ikut jadi wasit atau hakim garis dalam dunia sepak bola.
Sepintas yang aku kenal tentang sosok Edy Samudra Kertagama adalah seorang penikmat panggung yang bersuara lembut. Namun, penyair ini seperti mesin diesel. Lama-kelamaan akan hebatlah kekuatan mesin itu melalui tenaga segenap pikiran yang dialirkan. Di bawah ini aku mengutip puisi berjudul:
Pemburu Itu
Di tengah padang jauh di balik pematang
bayangan hitam tampak mengintai
sesekali terdengar tembakan menggema
maka robohlah ia, kemudian matanya menurun
dan berhenti di ujung jalan menuu sungai.
O, pemburu itu, selalu saja datang
untuk menanam keping luka dalam dagingku.
(Lampung, 2016)
Edy, juga sangat mecintai makhluk lain yang ada di alam semesta, karena sesama makhluk dirinya merasa menyatu dalam beberapa aspek. Ketidak sukaan penyair ini dengan kekerasan digambarkannya dalam puisi “Pemburu Itu”. Ada kata “O, pemburu itu, selalu saja datang”
Dalam pengertian buka pemburu binatang dalam fakta sehari-hari, mungkin adalah terjemahan dari godaan-godaan makhluk manusia ‘sifat’ lain. Ispirasi puisi Pemburu Itu erat kaitannya dengan puisi disampingnya “Sungai”, lalu Cornelius Yang Mabuk, Sisa Dermaga, Hikayat Hujan dan masih ada beberapa puisi lagi.
Dialog-dialog puisi Edy Samudra Kertagama sangat menakjubkan. Mengalir dan menari di atas pengembangan imajinasi dan ilusi yang dicoba untuk dinetralisir, agar dapat diraba bukan hanya dirasakan. Aku sendiri sangat menyukai puisi-puisi seperti Senja & Gerimis. Dan itu, dirangkum melalui kedekatan Edy dengan sosial, lingkungan, perjalanan fisik dan non fisik, sampai kepada tafakur sepanjang malamnya. Itu usaha pencarian jiwa, frasa kata dan jasmani puisi-puisi yang diciptakan.
Edy tak bisa pungkiri kalau puisinya terpengaruh oleh jiwa-jiwa naskah drama dan kecenderungan puisi penyair lain yang dia anggap senafas dan sealiran sampai muara sungai. Mungkin, karena Edy, juga menggeluti dunia panggung tadi. Walau tidak normatif, menurutku puisi Edy itulah jiwanya. Puisinya menjadi cerminan kegelisahan menjelang sampai di pelabuhan.
Di balik itu semua, tentu aku mengatakan puisi Edy adalah keseriusan yang sangat luar biasa di dunianya. Tapi, aku tidak mengatakan “tidak main-main”, hanya ada kata serius—memaknai perjalanan Edy di dunia sastra khususnya puisi.
Tubuh-tubuh puisi Edy sangat gemulai, alur ceritanya bersambung sampai selesai. Dari dulu, aku melihat Edy sangat konsisten dengan pilihan sebagai penyair sebagai aktor panggung. Ada satu puisi lain dari Edy Samudra Kertagama, dibawah ini;
Bulan Dalam Cawan
Wajahmu elok bak buah manggis
tubuhmu putih terlilit kain nida
kedua matamu pun seperti mata rajawali
suka memandang langit
ketika tubuh sedikit mau basah
sementara tiap kali kau meraung
tiap kali itu pula kau minta ditimang
(…………………………dst)
Ada sesuatu yang menarik dari puisi alinea pertama itu menurutku, sampai di kalimat “sementara tiap kali kau meraung”, coba sandingkan dengan kalimat dalam puisi “Pemburu Itu” atau di puisi lain merupakan rangkuman dari romantisnya Edy dalam perjalanan penciptaan puisi. Pergulatan itu, dirangkai menjadi meriah dan hidup dalam puisi yang mengedepankan dialogis. Sekali lagi itulah penyair yag menulis puisinya “bukan katanya” tetapi “kataku” seperti itu sebagai implementasi berbagai pertemuan suasana.
Sekali lagi, aku sangat mengapresiasi puisi-puisi Edy Samudra Kertagama apapun julukannya, komitmen dan kesungguhannya akan menempatkan dirinya sebagai penyair bertalenta ‘amazing’.
Jalan Strawbery Yosomulyo
Naim Emel Prahana









