Lampung Timur

Mahasiswa UIN Jusila Kenalkan Fotografi di Pondok Pesantren Al Imam

×

Mahasiswa UIN Jusila Kenalkan Fotografi di Pondok Pesantren Al Imam

Sebarkan artikel ini
Foto bersama Mahasiswa UIN Jusila didampingi Dosen Pendamping Dr. Aliyandi A. Lumbu, M.Kom.I.(Batik) bersama Santri Pondok Al Imam. Foto / Istimewa

‎LAMPUNG TIMUR, (LC)–Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana sivitas akademika tidak hanya berkutat dalam kegiatan belajar-mengajar dan penelitian, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

‎Dalam rangka menjalankan amanah tersebut, sekelompok mahasiswa yang terdiri dari Aziz Kurniawan, Dedi Setiawan, Ifnu Agung Prayoga, dan Vira Nur Azizah, melaksanakan kegiatan PKM di Pondok Pesantren Al Imam, Kecamatan Metro Kibang, selama dua hari pada 26 dan 27 Juni 2025.

‎Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendampingan langsung oleh Dr. Aliyandi A. Lumbu, M.Kom.I., selaku dosen pembimbing yang secara aktif turut serta memantau jalannya pelaksanaan program, memberikan masukan, serta menjembatani komunikasi antara pihak kampus dan lembaga pesantren.

Adapun pihak pesantren, dalam hal ini diwakili oleh Ustadz Suparman, S.Pd.I., menyambut dengan tangan terbuka dan penuh antusiasme atas inisiatif kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa.

‎Tema utama dalam pengabdian ini adalah mengenai Fotografi, sebuah topik yang dinilai relevan dengan kebutuhan zaman serta mendukung peningkatan keterampilan santri dalam bidang media visual. Materi disampaikan oleh Ifnu Agung Prayoga, salah satu mahasiswa sekaligus praktisi fotografi yang memiliki pengalaman di bidang dokumentasi visual, baik untuk kepentingan akademik maupun industri kreatif.

Hari pertama kegiatan diawali dengan sesi pembukaan dan perkenalan antara tim pelaksana dengan pengurus pondok serta para santri yang menjadi peserta.

Dalam sambutannya, Ustadz Suparman menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas kehadiran mahasiswa dan dosen pembimbing. Ia menekankan pentingnya keterlibatan pihak luar untuk menambah wawasan dan pengalaman para santri. Dr. Aliyandi A. Lumbu juga memberikan pengarahan singkat mengenai tujuan dan manfaat dari kegiatan ini, serta mengajak para santri untuk aktif terlibat dalam setiap sesi yang disediakan.

Memasuki sesi inti, para peserta dikenalkan dengan teori dasar fotografi yang mencakup pengenalan jenis-jenis kamera, fungsi tombol dan menu pada kamera digital, prinsip pencahayaan (lighting), komposisi foto, hingga teknik pengambilan gambar menggunakan kamera. Materi disampaikan secara interaktif dengan dukungan visual berupa white board dan demonstrasi langsung oleh pemateri.

‎Suasana belajar berlangsung dengan hangat dan penuh antusiasme. Santri tampak antusias mengikuti setiap penjelasan. Hal ini menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap dunia visual, terutama dalam konteks bagaimana fotografi dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dakwah yang lebih efektif dan menarik.

Setelah sesi teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung di lingkungan pondok pesantren. Para peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil dan dipandu untuk mencoba memotret objek-objek di sekitar mereka, seperti kegiatan santri, suasana pondok, hingga pemandangan alam sekitar. Mahasiswa pelaksana berperan sebagai fasilitator sekaligus mentor dalam proses praktik ini, membantu peserta mengatur komposisi, mencari angle terbaik, serta mengatur pencahayaan secara sederhana.

‎Hari kedua kegiatan difokuskan pada evaluasi hasil karya peserta dan diskusi. Setiap kelompok diminta untuk memilih dua hingga tiga foto terbaik hasil pengambilan gambar sehari sebelumnya, lalu mempresentasikannya di depan forum. Dalam sesi ini, santri diberi kesempatan untuk menjelaskan maksud atau pesan dari foto yang diambil. Tim mahasiswa dan dosen kemudian memberikan umpan balik, baik dari segi teknis maupun artistik.

Diskusi berlangsung dengan penuh semangat dan saling menghargai. Beberapa karya santri menunjukkan potensi luar biasa dalam memahami narasi visual dan kreativitas. Tidak sedikit dari peserta yang mengungkapkan keinginan untuk terus mengembangkan keterampilan fotografi mereka, bahkan berharap agar kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda rutin di pesantren.

Selain materi fotografi, mahasiswa juga menyisipkan edukasi singkat mengenai etika dalam penyebaran foto di media sosial, termasuk pentingnya menjaga privasi, menghindari foto yang mengandung unsur hoaks atau provokasi, serta bagaimana menggunakan media digital sebagai sarana dakwah yang positif. Penanaman nilai ini dinilai penting mengingat tingginya penggunaan media sosial di kalangan remaja, termasuk para santri.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Al Imam ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa, tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai pembelajar yang turut menyerap nilai-nilai keislaman dan kebersamaan di lingkungan pesantren. Program ini juga menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia kampus dan institusi keagamaan dapat melahirkan kegiatan edukatif yang bermakna dan berkelanjutan.

‎Harapannya, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan tema-tema lain yang relevan, sehingga mahasiswa dapat terus hadir di tengah masyarakat dan memberikan dampak positif melalui ilmu yang dimiliki. (Kontributor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.