
LAMPUNG TIMUR, (LC)--Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah memiliki tujuan mulia: memastikan setiap anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup, sehat, dan sesuai standar.
Namun, realitas di lapangan kerap kali menjadi ujian bagi niat baik tersebut. Kasus yang mencuat di wilayah Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur menjadi potret kecil bagaimana sebuah program berpotensi bergeser dari pedoman teknis yang telah disusun.
Selasa, 9 September 2025, publik di media sosial ramai membicarakan menu MBG. Akun Facebook milik @ Kartini Sally membagikan foto paket makan yang diterima siswa, memicu perdebatan dan sorotan tajam. Dalam foto itu, terlihat menu terdiri dari nasi putih, tiga bakso, satu potong tempe, tiga buah kelengkeng, dan tumis labu.
Dalam postingan akun Facebook milik @ Kartini Sally membagikan status sebagai berikut;
“MbG hari ini sekolah kakak…makin kesini menunya makin pelit …pas aku up distrory WA ternyata menunya beda2 tiap dapur dan dapur yang kebetulan melayani sekolah kakak ini paling parah menunya udah g jelas,” tulisnya.
“Kalau sudah diamanati untuk kerjaan seperti ini mbok ya kerja nya itu dari hati yang amanah ,,pikir kan ini yang makan anak-anak loh kasih lah makanan yang layak. Kenapa dapur lain bisa ngasih MBG yang layak sedangkan ini.menu apa ini,,,miris sekali,” kesalnya.

Pada postingan akun tersebut, mendapatkan reaksi berbagai komentar dari sejumlah warganet sebagai berikut :
“Inikah yg namanya bergizi oh tidak nyari untung ya nyari untung tapi jangan banyak2 ya jangan di rusak kebijakan presiden dn wapres, porsi sedikit tapi yg bergizi,” cuit akun @sutariyanto.

“kalok ini mah parah,” komen akun @Ria Novita.
Bahkan akun facebook milik @Dapoer Hafiza mengomentari salah satu menu yang dinilai kurang layak diberikan.
“Lauk tempe cuma satu biji, mana kecil lagi jian parah bngt🥴,” cetusnya.
Dalam postingan itu, mengindikasikan adanya perbedaan signifikan antara menu tersebut dan petunjuk teknis (juknis) yang dikeluarkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Salah satu titik sorotan adalah porsi tempe. Dalam buku modul BGN, protein nabati berupa tempe dianjurkan sebanyak 1 potong ukuran sedang dengan berat 50 gram.
Namun, yang tersaji di ompreng siswa hanyalah 1 potong tempe berukuran kecil, diperkirakan hanya 20–25 gram. Dengan porsi itu, seharusnya siswa mendapatkan dua potong untuk memenuhi standar.
Tak hanya itu, menu bakso dan tumis labu menjadi sorotan netizen. Tumis sayuran labu porsi dinilai tak memenuhi porsi yang terdapat di ompreng tersebut.
Keberadaan tiga buah kelengkeng juga menimbulkan tanda tanya. Buah tersebut tidak tercantum dalam daftar buah yang direkomendasikan di buku modul standar gizi MBG. Hal ini mengindikasikan adanya kemungkinan improvisasi menu oleh penyedia, yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan gizi penerima manfaat.
Sementara itu, akun Facebook @ Kartini Sally mengatakan bahwa, Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipostingnya itu disajikan pada Selasa, 09 September 2025 disalah satu sekolah di Way Jepara.
“Kemarin itu menunya, di SD Negeri 1 Braja Sakti Way Jepara,” ujarnya kepada Media Lampungcentral.id, Rabu 10 September 2025.
Kartini Sally mengungkapkan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mitra dapur MBG yang disajikan tersebut tak jauh jaraknya.
“Dapurnya di belakang Masjid Baiturrahim, Way Jepara,” ungkapnya.
Kartini berharap, pihak pengelola SPPG mitra dapur MBG untuk dapat memberikan menu 4 sehat 5 sempurna sesuai dengan petunjuk teknis.
“Harapan untuk pengelola MBG untuk memperhatikan lagi menu nya yang sesuai standar jangan asal-asalan. Katanya dapat jatah permenu 15rb ya tolong emang benar-benar segitu jangan di kurangi lagi. Kasihlah makanan anak 4 sehat 5 sempurna ada nasi, sayur lauk-pauk nya buah susu. Yang emang benar-benar makanan sehat, jadi kami orang tua tidak kecewa,” tuturnya. (LC-002)









