Kota Metro

Kenangan Bersama Drs. H. Mosez Herman, MM Tokoh Berpengaruh di Lampung

×

Kenangan Bersama Drs. H. Mosez Herman, MM Tokoh Berpengaruh di Lampung

Sebarkan artikel ini
Mosez Herman ketika menghadiri Konferensi Istimewa PWI Cabang Lampung Wilayah Timur di Kantor Camat Metro Pusat tahun 2000. Moses sosok yang sangat akrab dengan wartawan. FOTO: dok naim emel prahana/LC

Selamat Jalan Kakanda, Semoga Husnul Khotimah

METRO, (LC)—Bukan hanya masyarakat eks Kabupaten Lampung Tengah (sebeloum pemekaran tahun 1999), khususnya Kota Metro. Masyarakat Lampung sangat terkejut dan merasa kehilangan atas berpulangnya mantan Walikota Metro yang pertama Drs. H. Mosez Herman, MM Minggu, 22 Maret 2026 sekitar pukul  17.08 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeluk, Tanjungkarang—Bandarlampung.

Sontak berita duka memenuhi platform media sosial dan media – media online memberitakan wafatnya mantan walikota Metro tersebut. Mosez Herman tak dapat dipungkiri adalah sosok yang menanamkan landasan pembangunan di Kota Metro setelah pemekaran dari Kabupatyen Lampung Tengah.

Sebagai waliklota pertama, tugas dan tanggungjawab Mosez Herman yang waktu itu berpasangan dengan wakilnya, H. Lukman Hakim, SH sebagai walikota dan wakil walikota Metro periode 2000—2005. Karena, Kota Metro yang menjadi otonom itu hanya terdiri dari 2 wilayah kecamatan yaitu kecamatan Metro dan Bantul.

Mengenang secara umum perjalanan Mosez Herman hingga menjadi orang nomor satu di Kota Metro lampungcentral.id menampilkan sosok Mosez Herman yang dikutif dari arsip Harian Lampung Ekspres Plus—yang sebelumnya adalah SKU Tamtama.

Mosez Herman dilahirkan di Lahat pada tanggal 2 Juli 1951 dan di Lampung beliau tinggal di  Jl Sumpah Pemuda No. 5-6, Way Halim, Bandarlampung dalam usia 73 tahun. Rekam jejak kepemimpinan Mosez Herman di Lampung banyak sekali. Ia pernah jadi Camat Metro yang dilantik pada 15 Maret 1986 (sebelum Metro jadi daerah otonom tingkat II). Kemudian, Mosez menjabat sebagai Sekda Kabupaten Lampung Barat. Ketika beliau jadi Sekretaris Daerah (Sekda) di Liwa, penulis pernah bertemu beliau di suatu pagi yang sangat dingin. Waktu itu penulis ditugaskan untuk meliput berita di Kota Liwa.

Habis apel pagi di halaman Kantor Bupati Lampung Barat, beliau langsung menyambut penulis dan mengajak makan jagung rebus. Suasana dengan cuaca dingin, makan jagung rebus yang masih panas, sungguh mengayikkan.

“Adinda nginap di mana?” kata Mosez Herman yang selalu aku panggil dengan akrab sebutak kakak.

“Belum tahu, kak,” kataku sambil mengunyah jagung rebus. Mosez waktu itu tertawa dengan sifat yang sangat akrab mengatakan kepada penulis. “O iya, coba adinda cari hotel yang paling bagus di Liwa, nginaplah di sana. Kalau sudah dapat kasih tahu kakak,” ujar Mosez yang masih berkumpul dengan para PNS (sekarang ASN) di halaman kantor Bupati Lampung Barat.

“Siap, kak!” jawabku singkat.

Kemudian, aku pamit dan dalam hatiku, mana ada hotel yang paling bagus di Liwa, semuanya berstatus penginapan. Tapi, okelah gak masalah, gumamku sambil menuju salah satu komplek Villa di Hamtu Biu, pemiliknya seorang teman WNI keturunan Cina di Telukbetung. Setelah selesai liputan di Liwa cuma dua hari, akupun ke kantor Sekda di Komplek Kantor Bupati Lampung Barat ingin pamit pulang ke Bandarlampung dengan Mosez Herman. Sejak itu hubunganku dengan Kak Mosez Herman semakin akrab seperti kakak adik, apalagi ketika aku pulang ke Metro tahun 2004 dari Bandarlampung.

Aku masih ingat betul, ketika pemilihan walikota pertama Kota Metro yang diikuti hanya dua pasangan. Pasangan pertama Ir. D. Shantory—Ir Supriyadi dan pasangan kedua Drs Moses Herman—Lukman Hakim, SH. Pemilihannya dilakukan di kantor Camat Metro Pusat (sekarang kantor BPKAD) di lantai atas. Pemilihan walikota Metro waktu itu dipilih oleh DPRD.

Pasangan Mosez Herman—Lukman Hakim (Lukman Hakim waktu itu camat Seputih Raman) dihelat oleh Partai Golkar, PPP, Fraksi ABRI dan pasangan Ir. D. Shantory—Supriyadi didukung oleh PDI. Pemilihannya sangat seru, pengumpulan suara saling kejar mengejar dan akhirnya Mosez Herman—Lukman Hakim unggul 1 (satu) suara dari pasangan Shantory dan Supriyadi.

Saat menjadi daerah otonom Kota Metro belum memiliki anggaran yang memadai dan anggaran masih disubsidi oleh eks kabupaten induk Lampung Tengah yang ibukotanya pindah ke Gunungsugih. Sementara, rumah dinas Bupati Lampung Tengah waktu itu bupatinya masih Kakanda Herman Sanusi menempati rumah dinas walikota Metro sekarang ini, sampai bupati Lampung Tengah dipimpin oleh Andy Achmad Sampurnajaya.

Mosez Herman sangat dekat dengan wartawan, ia selalu bicara blak-blakan, tegas, lugas dan sangat bijak. Tak heran kalau mobil dinasnya (Walikota) sering ditumpangi oleh wartawan, khusus penulis. Saat PWI Perwakilan didirikan dan dirintis sejak tahun 1986, tahun 1999—2000 Walikota Metro menyetujui berdirinya Balai Wartawan sebagaimana diusulkan oleh PWI Lampung Wilayah Timur (Lampung Tengah, Lampung Timur dan Kota Metro).

Beberapa pilihan lokasi Balai Wartawan PWI yang akan dibangun Pemerintah Kota Metro, antara lain di Hadimulyo Barat sekitar Balai Serbaguna Kantor Kelurahan, kemudian di samping kantor Perpustakaan dan akhirnya Pemkot Metro yang didukung oleh DPRD khusus Komisi D yang diketuai Amir Hamzah, SH pembangunan ditetapkan di Tejoagung 24 Metro Timur. Jadi, Balai Wartawan di perbatasan Kota Metro dengan  Banjarrejo Lampung Timur itu sah dan resmi milik PWI Kota Metro setelah PWI Lampung Wilayah Timur yang diketuai oleh Naim Emel Prahana melakukan pemekaran PWI Lampung Wilayah Timur menjadi tiga perwakilan PWI. PWI Perwakilan Lampung Tengah setelah rapat di rumah Dahlan Sikumbang ditetapkan Ketuanya Dahlan Sikumbang (wartawan Lampung Ekspres).

Kemudian, hasil rapat di kediaman Rahmat Palal (kakak Bupati Lampung Timur Satono) menetapkan Ketua PWI Lampung Timur adalah CTE Rahmat Palal (wartawan Lampung Post). Sementara PWI Metro dilanjutkan oleh Naim Emel Prahana (wartawan Lampung Ekspres) sebagai ketuanya sampai habis masa jabatan dan kemudian digantikan oleh Agus Candra (Lampung Post). Sayangnya, Balai Wartawan itu belum sempat ditempati PWI Metro, karena waktu peresmiannya diambil oleh oleh Edy Ribut Herwanto bersama Makruf (juga anggota PWI) dengan PWKM-nya (Persatuan Wartawan Kota Metro), sehingga Ketua PWI Metro menginstruksikan untuk tidak menghadiri peresmian Balai Wartawan tersebut.

Perhatian Mosez Herman sebagai Walikota dan Lukman Hakim sebagai Wakil Walikota kepada pers di Kota Metro sangat besar. Walau demikian PWI Kota Metro dibawah kepemimpinan ketuanya Naim Emel Prahana dan sekretarisnya M. Dencik Effendi Murod (alm) tetap tidak mau mengajukan bantuan dana ke pemerintah.

Perioderisasi kepemimpinan Drs Mosez  Herman—Lukman Hakim 2000—2005 berperan besar menancapkan dasar pembangunan Kota Metro yang sangat luar biasa. Pelebaran ruas Jalan Jend Sudirman dari Pos Polisi Kota sampai perbatasan Metro—Tempuran (Lampung Tengah), Mosez juga membangun 5 (lima) kantor Polsek dan melakukan pemekaran awal kelurahan-kelurahan yang ada di Metro.

Saat pelebaran Jalan Sudirman, Mosez selalu hadir di tengah-tengah masyarakat, agar proses pelebaran berjalan sebagaimana mestinya. Alhasil, Mosez berhasil melakukan pelebaran ruas jalan tersebut dengan tanpa hambatan.

Penulis mengatakan, perana Mosez Herman terhadap keberadaan PWI di Kota Metro khususnya luar biasa. Setiap ada acara beliau selalu hadir. Baik di Kantor Deppen (Departemen Penerangan) di dekat Kantor Golkar Sekarang, termasuk pemilihan Ketua PWI Lampung Wilayah Timur di Kantor Camat Metro Pusat dan pelantikan kepengurusan PWI di Gedung Wanita yang dihadiri langsung oleh Ketua PWI Pusat.

Itulah sekelumit kenangan bersama Drs. Moses Herman walikota pertama Kota Metro dan penulis menyampaikan ucapan TURUT BERDUKA CITA atas meninggalnya kakanda Mosez Herman semoga ayunda dan keluarga diberi ketabahan, keikhlasan dan keimanan. Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, semoga husnul khotimah.

Daftar Nama Walikota dan Wakil Walikota Metro sejak 1999:

  1. H. Mosez Herman, MM—H. Lukman Hakim, SH 2000—20025
  2. Lukman Hakim, SH—H. Djohan, SE 2005—2020
  3. Lukman Hakim, SH—Saleh Chandra 2010—2015
  4. Ahmad Pairin—H. Djohan, SE 2015—2021
  5. Dr. dr. H. Wahdi, SH, MH—Drs. H. Komaruzzaman, MM 2020—2025
  6. Bambang Iman Santoso—Dr. M. Rafiq Adi Pradana 2025–2030

Pejabat Walikota Metro sementara:

  1. Joko Umar Said 2004—2005 (transisi)
  2. Achmad Crisna Putra 2015—2016 (transisi)
  3. Misnan 2021 (transisi)
  4. Descatama Paksi Muda 2024 (transisi). (LC-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.