METRO, (LC)—Ruang Pojok rumah komunitas seni sastra di Kota Metro ternyata mampu menggerakkan para seniman, khususnya penyair untuk hadir di kota ‘kolonisasi’ Metro. Apalagi, eventnya Festival Bahasa dan Sastra Metro 2024 yang sudah dihelat sejak sebulan lalu.
Nanti diceritakan tentang Ruang Pojok penghelat festival bahasa dan sastra 2024 di bulan Oktober ini dengan tema cukup menarik “Menyelami kreativitas, menyatu dengan budaya, Sastra untuk Generasi Masa Depan”. Komunitas yang dijaga Ucok Solihin—ternyata juga Ketua Dewan Kesenian Metro (DKL), merekrut banyak peserta festival termasuk berbagai komunitas.
Dari festival itu muncul beberapa penyair, cerpenis dan esay Gen-Z dari Bengkel Sastra Alih Wahana, Komunitas Cakau, UKM Impas IAIN Metro, UKM Impasi Umala Metro, sampai pelajar SMA yang ada di Kota Metro dan Lampung Timur. Adalah Gedung Sesat Lama Kota Metro Minggu tanggal 20 Oktober 2024 semuanya silaturrahim di acara Festival Bahasa dan Sastra Metro 2024.
Yang lebih menarik lagi, munculnya dua sosok penyair yang sejak 80-an malang melintang di Indonesia melalui berbagai kegiatan dan media cetak – surat kabar, majalah dan buletin. Siapa lagi kalau bukan “paus Sastra” Lampung, Isbedy Stiawan, ZS dan Naim Emel Prahana. Kehadiran keduanya itu, kendati sama-sama berdomisili di Lampung jarang berkumpul alias bertemu dan sudah lama tidak pernah pentas baca puisi satu panggung. Barangali kesibukan keduanya berbeda.
Isbedy Stiawan ZS juga, tak lagi lagi bagi masyarakat Asean—Isbedy sering sekali diundang ke Brunai Darussalam, Malaysia dan Singapura. Sementara Naim Emel Prahana lebih banyak bergerak dibidang sosial dengan Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat), yang juga masih sering menulis puisi, kolom dan esay. Tiba-tiba keduanya bertemu di Festival Bahasa dan Sastra Metro 2024. Sudah pasti kalau ketemu ceritanya adalah “kisah lama” dalam cerita motivasi kreativitas keduanya.
Pagi itu, kata Naim ia membuka ponselnya melihat ada panggilan dari sang paus sastra Isbedy Stiawan.
“Aku coba menelepon melalui WA, ternyata WA-nya ceklis satu,” ungkap Naim seraya menambahkan dia hubungi ketua DKM, Ucok Solihin. Ternyata sang paus berada di Kota ‘Rambutan’ Metro. Saat itu juga akui penyair Naim ia bergegas ke DKM.
“Gak tahunya ada acara puncak Festival oleh LKP Komunitas Ruang Pojok,” ungkap Naim sambil tertawa.
Naim mengakui memberikan apresiasi tinggi kepada komunitas Ruang Pojok yang dengan insten terus berkreativitas dan sudah mulai berwujud karya-karya yang dihimpun. Hal itu katanya, mengingatkan puluhan tahun silam antara 1985—1990 di Metro saat itu masih bagian dari wilayah kabupaten Lampung Tengah. Geliat seni sastra sangat luar biasa.
Mulai dari teater yang jumlahnya mencapai 13 teater, para pembaca puisi karena ada Radio Swasta Dei Marganusa membuka rubrik baca puisi setiap minggunya. Kebetulan saat itu pimpinan harian (PH) Radio Marganusa adalah Naim Emel Prahana yang stasiunradionya ada di 15B Barat Metro Pusat. Sayang suasana yang sangat repsentatif itu makin hari makin pudar setelah berdirinya DKM saat Lampung Tengah beribukota di Metro.
Hal yang lebih menarik lagi apa yang diungkapkan oleh Isbedy Stiawan ketika dia memberikan catatan khusus tentang pengertian serta proses penulisan ‘esay’. Isbedy dengan pengalamannya yang cukup panjang di dunia tulis menulis menguraikan bagaimana esay itu sebenarnya. Esay itu, jelas Isbedy merupakan tulisan spesifik tentang sastra.
“Esay berbeda dengan artikel atau opini,” tegas Isbedy yang membuat penggiat satra di Kota Metro semakin khusyuk menyimak paparan Isbedy. Bahkan sebagaimana biasanya, dalam pertemuan seperti ‘so’ pasti kenangan perjalanan sesama penyair dikenang kembali.
Isbedy Stiawan saat puncak acara Festival Bahasa dan Sastra Metro 2024 sempat membacakan puisinya yang bertutur tentang rumah tua di pinggir rel di Rawa Subur yang akhirnya menjadi kawah lahirnya kreativitas dan populeritas Isbedy sebagai penyair dan cerpenis Indonesia sampai sekarang.
“Itu sangat membekas dalam perjalanan karier kepenyairanku,” ujar Isbedy sambil tertawa.
Penyair Isbedy Stiawan ZS yang dalam penampilan sehari-harinya selalu sederhana dan memiliki icon adalah topi yang selalu hadir di atas kepalanya. Perbedaannya dengan penyair Naim Emel Prahana adalah ‘topi’ dan’kacamata’ hitam bagi Naim Emel Prahana.
Hadir juga dalam acara puncak Festival Bahasa dan Sastra Metro 2024 Kepala Badan Bahasa Provinsi Lampung, Desi Ari Pressenti, SS, Mhum—sekaligus membuka acara, penyair dan pengamat sastra, Arman AZ (Bandarlampung), Amin Budi Utomo, Denny Ardiansyah, Yulizar Lubay dan tentunya Solihin Utjok si pemilik kawasan Kota Metro. (LC-1)









