METRO, (LC)—Luar biasa! Apa sering di luar atau memang gaya dan moment yang suka menjadi kenangan bagi yang terlibat dalam suasana tertentu. Tidak mudah membuat suasana yang sangat formal dan beku menjadi suasana penuh dengan keakraban di antara para pejabat. Tapi, Sang senior ternyata mampu mengubah suasana tersebut benar-benar jadi semilir.
Selama pemantauan langsung mengikuti Rapat Pleno dan Rapat Parpurna DPRD Kota Metro Kamis (20/8/2026) kemarin, sejak pukul 14.00—21.30 WIB, lampungcentral.id melihat ada pemandangan yang “di luar dari biasanya” terjadi di gedung rakyat tersebut.
Malam itu, usai Rapat Pleno DPRD Kota Metro yang meraton diputuskan melanjutkan ke Rpat Paripurna, kendati waktunya terus bergerak tengah malam. Pemandangan itu sangat menyenangkan. Biasanya, sebelum acara dimulai walikota dan pejabatnya singgah dulu di ruang ketua DPRD. Menunggu aba-aba dimulainya acara.
Malam kemarin, sungguh berbeda. Walikota Metro Bambang Imam Santoso, Wakil Ketua I & II DPRD Ahmad Huzaini, Abdulhak, kemudian ada Sekda Ahmad Hariyanto, staf ahli Komarudin malah duduk-duduk di ruang di luar ruang rapat.
Suasananya terlihat sangat format dan formal, tidak banyak obrolan alias kaku. Namun, tak lama kemudian datanglah budayawan Indonesia Naim Emel Prahana yang langsung duduk berdampingan dengan walikota Bambang dan Wakil Ketua I DPRD Huzaini, mengambil posisi duduk berhadapan dengan Wakil Ketua II DPRD Abdulhak, Sekda A. Hariyanto, Komarudin.
Yang butuh waktu lama “sang senior” itu langsung mendobrak kebekuan suasana dengan obrolan ringan-ringan aja, tapi membuat gelak tawa mencairkan suasana setelah mendengar kalimat-kalimat yang diuntai dan dilontarkan sang senior yang juga jurnalis itu.
Suasana yang tadinya akan tegang-tegang karena formal, tiba-tiba tertawa semua. Apa kata senior kita yang akrab disapa dengan panggilan ‘abang’ itu?
“Tak ada yang gak selesai kalau komunikasi kita kayak gini,” ujar bang Naim melirik ke semua pejabat yang duduk di kursi sofa malam kemarin.
“Perlu…perlu ini dilakukan,” kata Bnag Naim lagi sambil menyebut, lalu izin ke Wakil Ketua II DPRD Abdulhak yang lebih senior lagi, baik usia maupun pengalaman di birokrasi. Yang disebut sama bang Naim senyum – senyum aja sambil duduk santai. Bang Naim melanjutkan, “kata pepatah orang Tiongkok…itu, itu lo dalam serial Dracin…..,” ucapan sang senior berhenti sejenak dia lanjutkan dengan menikmati sebatang rokok kesukaannya yang sudah mulai turun gret karena efisiensi.
“Kata pilosofi itu begini, aku tak butuh kau mencintaiku, yang aku butuh adalah orang yang dapat kupercayai….ha ha ha,” kelakarnya yang langsung disambut sama Abdulhak.
“Di Tingkok ya dinda,” kata Abdulhak.
“Ya he he he,” jawab sang senior.
Bahkan, saking konyolnya obrolan malam kemarin itu, bang Naim tiba-tiba nyeletuk, “wah..wah lupa aku, takut kalu ngomong banyak apalagi ada ustad di sampingku,” ujar dia sambil melirik Khuzaini dan Bambang Imam Santoso. Semua ketawa lagi.
Termasuk walikota dan pejabat yang ada di situ, tak dapat menahan tawa. Suasana benar-benar sangat semilir walau musim kemarau panjang. Obrolan pun diteruskan walau ngalor ngidul namun mampu memberikan kontribusi hembusan angin segar di antara yang ada malam kemarin itu. Rapat Paripurna masih menunggu beberapa saat kemudian.
Dari arah belakang dekat pintu masuk ada suara-suara cekikikan menyaksikan obrolan sangat-sangat ringan di tengah kesibukan para pejabat teras Kota Metro.
“La, bang Naim itu kan penyair. Kata-kata banyak dan ya mengalir begitu saja, jangan heran kalau kita ngobrol dengan abang ini,” suara itu diucap tidak begitu kuat. Saat itu ada beberapa wartawan di ruang tunggu terbuka di lantai II DPRD.
Suasana yang tadinya keliahatan sangat formal sampai-sampai sulit ada kata-kata yang diucapkan, menjadi semilir angin sepoi yang menyejukkan malam kemarin itu.
Apalagi, sang senior tiba-tiba diberi hadiah oleh Sekda Hari bungkusan kecil kayak bungkus rokok mahal, tapi bang Naim langsung menyimpan di dalam tas selempangnya.
Obrolan yang santai banget itu, akhir berhenti manakala acara Rapat Paripurna akan dimulai. Menyikapi hal itu bang Naim Cuma bilang, “Yo’i, monggo. Lanjutkan,” kata dia dengan ucapan yang jelas.
Akhirnya, baik walikota, wakil ketua, sekda dan pejabat lain yang ada saat itu pamit dengan “sang senior” yang malam itu juga memakai topi kain bundar. Kabarnya sih, topi itu dibeli oleh wartawan di Bandung.
Acara sudah dimulai, san senior masih tetap di ruang itu sendirian. Tak lama datangnya Ketua IWO, Yodi dan Ketua salah satu organisasi wartawan juga di Metro, Chairul Arifin. Obrolan pun berlanjut antar mereka bertiga soal ‘ghoib’. (LC-02)









