Tanah Datar dan Aceh Tamiang
Oleh: DR.dr.Wahdi, Sp.OG(K), SH,MH,CHCCP. Ketua GEMASIC INDONESIA
Mencermati dua titik kejadian musibah Banjir Bandang yang terjadi di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tepatnya di Kecamatan Batupi Selatan di seputaran Danau Singkarak dan kejadian Banjir Bandang di Kabupaten Aceh Tamiang, tentu mempunyai pola yang berbeda dalam hal penyebab saat kejadian dan akibat yang disebabkan terhadap kerusakan infrastuktur dan korban manusia serta kerusakan lingkungan yang diakibatkan.
Saya yang langsung turun melihat kejadian 20 hari pasca musibah dan berusaha mencermati dan mengkaji peristiwa ini dari beberapa informasi media dan keterangan yang langsung saya peroleh dari masyarakat serta dinas terkait di pemerintahan dua kabupaten tersebut (Dinkes, BPBD ) dan juga informasi dari relawan yang sejak awal sampai saat ini masih berada di lokasi terdampak.
Dalam perjalanan melalui darat menyusuri pulau Sumatera melalui lintas barat sumatera (Lampung – Sumatera selatan – Jambi – Padang – Sumatera Utara sampai Aceh Tamiang ), saya mencermati adanya di beberapa daerah terjadinya tanah longsor saat musim hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi. Saya bertanya apakah ini tanda awal kerusakan alam akibat ulah manusia?
Sejak memasuki Sumsel yang melalui jalan lintas barat sumatera menuju Jambi saya dihadapkan dengan kejadian tanah longsor dibeberapa titik yang diakibatkan oleh kerusakan alam. Demikian juga saat menyusuri melalui hutan rakyat dari Jambi menuju Sumatera Barat – Sumatera Utara – Aceh Tamiang dimana tanaman hutan rakyat sudah banyak berubah menjadi tanaman sawit.
Perjalanan ini membutuhkan niat dan tekad yang kuat, stamina yang baik dengan kendaraan yang prima untuk menempuh jarak 1600-an kilometer menyusuri jalanan naik turun berliku, gelapnya rimba di beberapa tempat yang dilalui selama 58-an jam.

Menilai dari sudut pandang Pola banjir bandang di Tanah Datar (sekitar Danau Singkarak, Batipu Selatan) cenderung melibatkan luapan danau serta sungai yang membawa air jernih kehijauan (karena hutan terjaga).
Sepengamatan saya melihat banyak bebatuan besar yang jatuh dari bukit di lokasi kejadian yang mengakibatkan kerusakan berat rumah penduduk ( ada 130-an Rumah ). Meskipun air dari gunung cukup besar pada kejadian tersebut, namun dibawahnya ada Danau Singkarak yang menjadi hilir dan muara dari air besar tersebut.
Dan seperti apa yang disampaikan masyarakat, saat kejadian rumah dan apapun yang terdorong oleh besarnya air saat kejadian langsung masuk ke Danau Singkarak.
Ini pemandangan yang saya lihat 20 hari pasca kejadian, seolah-olah suasana kehancuran tidak tampak. Dan sebagai catatan penting bahwa masyarakat Malalo dengan ikatan kuatnya kekeluargaan, maka rekondisi nampak lebih cepat dilakukan. Dan sebenarnya masyarakat sudah beberapa kali menghadapi peristiwa arus air dari gunung yang debitnya meningkat saat hujan, meskipun tidak sebesar kali ini. Dan sebagai catatan tidak ada korban manusia yang meninggal ( zero victim) di sepanjang daerah kejadian ( Batupi Selatan ).
Hal ini diutarakan oleh tokoh masyarakat Bapak Fahmi dan tokoh Pemuda Bang Ronald. Masyarakat sudah mampu melakukan mitigasi bencana dengan membaca tanda- tanda alam dan menjadi kelestatian alam dengan tidak menebang pohon sembarangan dan ini dijaga oleh tokoh adat.

Sementara banjir di Aceh Tamiang lebih sering disebabkan luapan Sungai Tamiang akibat hujan ekstrem dan pola drainase yang buruk sehingga menghasilkan air keruh bercampur lumpur, dan seringkali lebih destruktif karena kondisi geografis menjadi langganan banjir yang mana aktifitas kegiatan masyarakat ( Pasar dan pertokoan, perkantoran ) banyak terjadi di seputaran sungai Tamiang.
Dari pengamatan saya, sebelum memasuki daerah yang berdekatan dengan sungai Tamiang kita akan melihat tanaman kelapa sawit yang luas.
Perbedaan Pola Banjir Tanah Datar dan Tamiang :
Tanah Datar (Singkarak):
Air berasal dari pegunungan akibat hujan besar dan air meluap dari Danau Singkarak dan dua sungai bear sekitarnya.
Air cukup jernih kehijauan (tosca) karena tutupan hutan relatif baik. Banjir besar membawa batu2an, menunjukkan adanya kiriman air dari dataran tinggi yang terjaga hutannya dengan batuan dari bukit.
Aceh Tamiang:
Disebabkan luapan Sungai Tamiang akibat hujan ekstrem, air cenderung keruh bercampur lumpur, karena topografi dan kemungkinan kerusakan hutan yang lebih parah, menciptakan “banjir bandang” yang lebih masif dan merusak dengan membawa kayu- kayu.

Penyebab Utama :
Tanah Datar: Kombinasi hujan lebat dan luapan dari Danau Singkarak yang menjadi penampung air hujan dari wilayah sekitar.
Aceh Tamiang : Curah hujan ekstrem yang sangat tinggi secara terus-menerus, membuat Sungai Tamiang meluap dan menyebabkan banjir besar serta longsor tebing, memutus akses.
Dampak dan Pola Bencana :
Tanah Datar (Batipu Selatan): Cenderung mudah diisolasi dengan cepat. Memerlukan evakuasi lewat danau, air naik cepat, namun airnya relatif lebih bersih.
Aceh Tamiang:
Seringkali disebut “langganan banjir”, kondisinya bisa sangat parah hingga terisolir total (“kota zombie”), dampak kerusakan infrastruktur lebih besar, dan airnya lebih berlumpur.
Frekuensi dan Karakteristik Umum :
Aceh Tamiang:
Sering mengalami banjir bandang yang lebih merusak dan masif, terkait pola cuaca ekstrem yang lebih sering.
Tanah Datar:
Meskipun terjadi banjir bandang, karakternya lebih spesifik terkait luapan danau, dengan air yang lebih “bersih” akibat kondisi hutan sekitar yang relatif terjaga.
Di dua lokasi kejadian, Tim AMC GEMASIC setibanya dilokasi kejadian hal pertama yang dilakukan adalah berkoordinasi dan selalu mengunjungi Posko Tanggap Darurat Bencana.
Melakukann identifikasi awal, Pemantauan wilayah setempat, early warning system. Dengan fokus bergerak mengunjungi saudara- saudara kita yang terdampak, terutama kelompok rentan (Perempuan ibu hamil dan anak serta orangtua).
Dari pantauan tim di Batipu selatan Danau Singkarak kabupaten Tanah Datar, tim dapat segera mendapatkan informasi dampak kerusakan berat fasilitas dan rumah penduduk sebanyak kurang lebih 130-an rumah akibat hujan besar dan lama yang menyebabkan banjir bandang dan runtuhnya batu- batuan, dimana rumah penduduk dan beberapa kendaraan langsung terseret dan tenggelam di dasar Danau Singkarak. Tidak ada korban jiwa manusia.
Sedangkan, untuk kasus banjir di Aceh Tamiang, pemerintah pusat dan daerah harus lebih cepat dan tanggap oleh karena besar dan luas cakupan daerah yang terdampak serta kondisi alam yang masih besar curah hujannya sampai saat ini.
Peran pemerintah bersama relawan serta masyarakat setempat sangatlah penting dalam sinergi kolaborasi.
Perlunya aksi cepat Tepat tanggap bencana dan mitigasi kekhususan di Aceh Tamiang, utamaya difokuskan menjaga para korban untuk terhindar dari penyakit pasca bencana ( Transisi bencana menyebabkan transisi pola kesehatan ) dengan munculnya penyakit akibat lingkungan yang buruk, stress psikologi berkepanjangan, kebutuhan pangan dan sandang yang terbatas, hilangnya hunian keluarga, tempat penampungan yang tidak akan selamanya dan tidak akan senyaman sebelum kejadian.
Sangat penting pemulihan pasca bencana melalui trauma healing oleh tim gabungan pemerintah pusat dan daerah, relawan dengan pendekatan psikososial, konseling, serta fokus pada kelompkk rentan (bayi dan anak, perempuan terutama hamil- masa menyusui, lansia, disabilitas).
Pemerintah menjamin kebutuhan pangan, sandang dan hunian yang nyaman selama pasca panjang yang mendekati normalisasi sebelum kejadian bencana.
Pemerintah menjamin pekerjaan kepada kepala keluarga korban terdampak bencana dengan upaya padat karya mengajak serta dalam rekonstruksi akibat kerusakan yang terjadi.
Jangan sampai kepala keluarga sebagai tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan yang lama berkelanjutan. Dampaknya akan meninbkatkan angka kemiskinan.
Lakukan kegiatan pembelajaran yang membuat ceria anak-anak untuk mengembalikan rasa aman dan gembira, sambil terus dilakukan restrukturisasi infrastruktur dan penyediaan fasilitas dasar (air bersih, sanitasi) di pengungsian.
Upaya ini bertujuan memulihkan kondisi psikologis korban, membantu adaptasi, dan membangun kembali mental masyarakat yang terdampak parah hingga terisolasi.
Mitigasi dan Restrukturisasi
Fase Darurat
1. Evakuasi, pengungsian sementara (posko), penyediaan sanitasi, pengawasan penyakit menular, dan bantuan logistik dasar.
2. Fase Pemulihan: Perbaikan infrastruktur, rekonstruksi wilayah, dan penciptaan lapangan kerja baru pascabencana.
3. Upaya Trauma Healing
Metode:
Pendekatan Humanis: Komunikasi yang hangat dan suportif.
Konseling Ringan: Membantu meredakan tekanan emosional.
Aktivitas Anak: Bermain dan interaksi untuk mengembalikan keceriaan dan mengurangi trauma.
Tujuan: Membantu korban merasa kuat, aman, mampu beradaptasi, dan optimistis kembali.
Kesimpulan:
Penanganan banjir Aceh Tamiang memerlukan pendekatan holistik: mitigasi struktural jangka panjang untuk mengurangi risiko, rekonstruksi fisik, serta trauma healing intensif untuk memulihkan kesehatan mental masyarakat yang rentan akibat bencana berulang ini.
Tim Trauma healing AMC GEMASIC yang sudah beberapa kali terlibat dalam bencana yang terjadi dibeberapa bencana di Indonesia tentu tidak dapat bekerja sendiri dengan segala keterbatasannya.
Dan mohon ampun kepada Allah sungguh keberadaan saya di beberapa kejadian bencana ( dan sebagai catatan saya adalah seorang dokter kepala puskesmas Suoh- Lampung Barat, daerah yang sangat terpencil yang saya merasakan sendiri beban pasca gempa berkelanjutan serta akibat pasca gempa berkepanjangan berupa wabah penyakit dan banjir susulan yang banyak memakan korban jiwa pada tahun1994, dimana saya berada ditempat yang terisolasi dari pusat pemerintahan kabupaten, 12 jam perjalanan kaki melalui kawasan hutan belantara).
Saya juga sejak kuliah sudah menjadi tim SAR Jawa Tengah, yang beberapa kali terlibat dalam pendakian gunung untuk mencari dan menyelamatkan korban ( search and rescue).
Trauma healing adalah suatu proses pemberian bantuan berupa penyembuhan untuk mengatasi gangguan psikologis seperti kecemasan, panik, dan gangguan lainnya karena lemahnya ketahanan fungsi-fungsi mental yang dimiliki individu pasca peristiwa yang berdampak buruk.
Koordinator lapangan harus membagi kerja para relawan untuk berbagi peran dalam hal membantu mendampingi korban bencana kembali kepada kehidupan yang seperti sebelum bencana. Dalam beberapa kasus seperti bencana besar ( Tsunami Aceh dan beberapa daerah lainnya seperti tsunami Palu ) tentu membutuhkan waktu yang lama, namun upaya yang krusial adalah bimbingan rohani kepada korban bencana.
Pemerintah Pusat dan Daerah tentu berkewajiban dalam menyelaraskan hal ini.
”Saya yakin pemerintah tidak akan bisa maksimal, demikian juga Relawan bila tidak ada koordinasi dan kolaborasi yang sinergi.”
Pemerintah wajib melindungi dan mensejahterakan masyarakatnya dengan kemampuan TANGGAP DARURAT yang CEPAT dan TEPAT SASARAN.
Untuk itulah pemerintah harus fokus pada PRINSIP TRAUMA HEALING.
1.Perbaikan infrastruktur dan akses jalan
2.Bentuk tim Trauma Healing dengan
pembagian tugas yang tepat dan dilakukan oleh orang yang tepat.
3.Fokus kepada kelompok rentan ( Perempuan, anak, lansia, disabilitas akibat bencana)
4.Mengembalikan lapangan pekerjaan kepada semua kepala keluarga untuk menghidupi anggota keluarganya.
5.Pemerintah wajib memberikan perhatian penuh sampai keadaan dianggap mulai menyerupai sebelum terjadinya musibah.
Kita ingin mengembalikan keceriaan anak-anak bangsa ini untuk selalu optimis setelah dilanda bencana.
Dengan demikian, harapannya mereka dapat melupakan bencana yang telah terjadi untuk menatap dsna menggapai harapan masa depan “ INDONESIA EMAS”.
Pemerintah tidak hanya sekedar meng- edukasi masyarakat tentan PHBS dan GERMAS, yang saya kira itu sudah dilaksanakan sebagian masyarakat.
Pemerintah harus berani mengedukasi dan menghukum mereka yang membuat kerusakan bumi Indonesia.
Pemerintah harus tegas dan pro rakyat untuk menutup kegiatan pembalakan hutan dan ilegal logging dan siapapun yang merusak alam dan lngkungan tanpa pandang bulu, serta melakukan antisipasi dan mitigasi yang lebih profesional dan terukur.
”Sekali lagi dari pengalaman saya yang langsung mengalami dan langsung berada di daerah bencana, bahwa pemerintah tidak boleh ada hanya saat bencana terjadi dengan hanya melakukan kegiatan mengevakuasi, namun wajib ada dalam kegiatan berkelanjutan, yaitu Trauma Healing.
Trauma healing dapat menjadi langkah rehabilitasi yang tepat bagi para korban bencana untuk bisa menyembuhkan diri dari tragedi memilukan pasca bencana.
Peran trauma healing adalah mampu mengalihkan pikiran buruk terhadap bencana agar warga tidak berlarut-larut dalam kesedihan serta bisa mengambil hikmahnya.
Dalam prosedurnya, mereka akan diajak melakukan kegiatan yang menyenangkan sehingga bisa melupakan trauma terhadap bencana.







