Oleh : Arlyan Pramana Syah Putra
Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan HMI Cabang Metro
Kota Metro di samping sebagai kota terbesar kedua di Lampung setelah kota Bandarlampung, sampai saat ini perkembangan eks ibukota Kabupaten Lampung Tengah terbilang daerah kota dengan pertumbuhannya di beberapa sektor cukup prosfekif, seperti sektor ekonomi, pendidikan, infrastruktur, sosial budaya dan lainnya.
Dengan perkembangan seperti itu mengakibatkan pertumbuhan beberapa asfek cukup baik, dan tentu dampak sampingannya bahwa Kota Metro menjadi daerah tujuan berbagai masyarakat. Baik dari Lampung Timur dan Lampung Tengah, Pesawaran, dan Lampung Selatan sebagai wilayah penyanggah di sekitar Kota Metro. Kedatangan masyarakat luas di luar Kota Metro ke Metro dengan berbagai alasan dan tujuan. Mungkin salah satunya kuliner murah, kemudian banyaknya sekolah mulai dari PAUD sampai perguruan tinggi.
Perkembangan suatu daerah katakanlah kabupaten/kota atau provinsi atau suatu tempat, sudah tentu erat kaitannya dengan kepemiminan di suatu daerah tersebut. Demikian juga dengan Kota Metro yang sejak menjadi otonom tahun 1999 (merupakan hasil pemekaran Kabupaten Lampung Tengah). Menurut catatan penulis sudah terjadi enam kali pergantian walikota, dengan lima walikota sampai tahun 2025.
Walikota Metro I, II, III, IV dan V terdiri dari Drs. H. Mosez Herman, H. Lukman Hakim, SH (dua periode), Ahmad Pairin, dr. Wahdi Sirajuddin dan 2026 walikota Metro adalah H. Bambang Iman Santoso. Dibawah kepemimpinan Bambang Iman Santoso dan Muhammad Rafiq Adi Pradana yang sudah berlangsung 1 (satu) tahun. Tentu, hasil kerja pasangan itu sudah diraba, dilihat dan dinilai dengan fakta. Apakah program yang mereka luncurkan saat kampanye pilkada tahun 2024, benar-benar ditepati atau sudah kelihatan hasilnya apa belum?
Sayangnya, selama satu tahun pertama kepemimpinan Bambang – Rafiq belum terlihat adanya indikasi serius untuk menjalankan program mereka dengan hasil nyata, bukan narasi politik. Untuk saat ini, kepemimpinan era Bambang Iman Santoso dan Muhammad Rafieq Adi Pradana, banyak riak-riak dan gelombang kurang positif menggelegar ke permukaan masyarakat Kota Metro.
Banyaknya kritik dan isu tak sedap yang ke luar dari tubuh pemerintahannya dibandingkan apluse dari masyarakat dan prestasinya, tagline diawal pilkada yaitu adalah METRO BAHAGIA. Nyatanya sampai hari ini itu belum terealisasi dengan maksimal. Baik dari jalan rusak, penerangan jalan umum yang tidak rata, kasus banjir yang tidak selesai-selesai hingga jual beli jabatan.
Dalam janji prioritas atau 13 program unggulannya banyak sekali yang menyangkut soal pendidikan gratis, jaminan kesehatan, kesejahteraan untuk honorer dan ASN sampai upah minimum naik untuk guru ngaji dan lansia bahagia.
Mungkin dari 13 janji itu ada yang sudah terealisasi tapi belum maksimal, tapi publik menginginkan maksimal? Mengapa dikarenakan masyarakat sangat mengharapkan pemimpin yang berintegritas dan bertanggung jawab atas amanah yang diembannya.
Lalu, “Metro Bahagia” apakah akan benar-benar terealisasi? Dari audiensi sampai dengan aksi demontrasi berulangkali sudah dilakukan oleh seluruh Aliansi Mahasiswa Kota Metro, bahwasanya para Aliansi Mahasiswa peduli pada tempat tinggal mereka. Dan, mengingatkan pada pemimpinnya untuk segera berbenah. Bukan hanya sekedar acara acara seremonial serta jual beli jabatan yang selalu diutamakan, yang terbaru ialah para Aliansi Mahasiswa Kota Metro memberikan, kado terhadap 1 tahun kepemimpinan Walikota yaitu berupa daster dan lipstik.
Kepala Daerah adalah wajah dari pemerintahan Kota/Kabupaten tersebut yang ia pimpin. Kelalaiannya mengurus permasalahan yang ada di daerahnya menandakan adanya ketidak harmonisan di tubuh pemerintahannya. Publik marah dan kecewa terhadap gaya kepemimpinannya yang cenderung tidak bisa cepat dan tanggap jika ada masalah di suatu tempat di daerahnya. Bahagia secara hatrfiahnya yaitu adalah merasa nyaman tentram dan aman, jika kita merunut kepada fasilitas publik artinya aman, dan layak pakai serta nyaman di gunakan.
Para penguasa dan pemimpin di kota ini harus cepet berbenah baik dari eksekutif ataupun legislatif harusnya mereka sadar adanya jabatan yang mereka emban hari ini karena jabatan musiman yaitu selama 5 tahun sekali, jadi tidak ada jaminan 5 tahun ke depan mencalonkan diri kembali di tahun-tahun pemilu akan terpilih kembali, riset membuktikan bahwasanya pihak legislatif adalah lembaga yang tidak dapat kepercayaan dari rakyat sebesar 56%.
Di sini peran legislatif harusnya ada di tubuh pemerintahan, mengapa? Karena, selain menganggarkan, mengesahkan pihak legislatif punya hak mengawasi. Lantas di mana letak pengawasannya terhadap pihak eksekutif? Tanda tanya besar yang tidak terjawab selama 1 tahun ini. Sedangkan jika secara horizontal legislatif berhak memanggil pihak eksekutif jika ada program kerjanya belum berjalan jadi fungsi legislator bisa berguna sebagaimana mestinya.
Tidak ada yang tahu arah Kota Metro atau yang biasa disebut Kota Pendidikan ini mau dibawa kearah mana dengan para pemimpinnya yang sekarang? Semua masih menjadi misteri. Semua harus cepat berbenah jika tidak kalimat Metro Bahagia hanya akan menjadi sekedar bualan semata.







