Artikel

Tewaskah Benjamin Netanyahu, Kenapa Donald Trump Melayat di Rumah Duka di Tel Aviv?

×

Tewaskah Benjamin Netanyahu, Kenapa Donald Trump Melayat di Rumah Duka di Tel Aviv?

Sebarkan artikel ini
Dunia dikejutkan dengan berita tewasnya PM Israel Benjamin Netanyahu, bahkan ada foto memperlihatkan presiden AS Donald Trump melayat ke rumah duka dan menghibur anak dan keluarga Netanyahu?. FOTO: Ist/LC

Oleh Naim Emel Prahana

Mantan redaktur luar negeri Harian Lampung Ekspres Plus

 

DUNIA suda berkecamuk sejak tanggal 28 Februari 2026, di mana Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan besar-besaran ke kedaulatan Negara RepubIik Iran di kawasan Timur Tengah. Negara AS tidak pernah berhenti menyatakan kebenciannya sejak tumbangnya rezim Reza Pahlevi oleh gelombang revolusi Iran yang kemudian tampuk pimpinan Iran dipegang kaum ulama dan Ali Kahmeini menjadi pemimpin tertinggi negara Islam itu.

Sudah beberapa kali AS dan Israel melakukan serangan ke Iran. Selama ini selalu gagal, bukan hal kebetulan kegagalan itu sangat kuat dengan keyakinan rakyat Iran pemeluk agama Islam. Yang yakin-seyakinnya bahwa Allah SWT takkan membiarkan Iran diserang oleh negara agresor seperti AS dan Israel yang lahi bathin takkan senang melihat ada negara Islam maju di berbagai bidang, terutama bidang teknologi.

Tudhan AS dan Israel selalu berdalih—narasikan penyerangannya untuk menghancurkan program nuklir Iran, padahal Badan Nuklir Internasional berulangkali mengatakan setelah melakukan survey langsung bahwa Iran tidak memperkaya program nuklirnya untuk senjata nuklir, melainkan untuk pembangunan sektor enegrji yang sangat mereka butuhkan.

Berbagai bukti nyata, takkan merubah sifat kepenjajahan AS dan Israel terhadap negara-negara Islam di dunia atau di manapun ada umat Islamnya. Beberapa dekade sampai tahun 1979 AS—Israel pernah mempunyai hubungan mesra dengan Iran. Saat itu Iran dikuasai oleh Dinasti Pahlevi sekutu utama AS di Timur Tengah (era Pra Revolusi

AS memberikan dukungan militer, intelijen dan ekonomi kepada Syah Iran – Pahlevi yang sangat pro Barat. Bahkan, Iran mempunyai hubungan mesra dengan Israel dan Iran adalah salah satu negara yang mengakui kedaulatan Israel. Keduanya bekerja sama dalam bidang energi dan militer (Proyek Flower), di mana Iran memasok sebagian besar kebutuhan minyak Israel.

Sejarah permusuhan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah kisah transformasi geopolitik yang dramatis, berubah dari sekutu dekat menjadi musuh bebuyutan dalam kurun waktu beberapa dekade. Akar kebencian ini berpusat pada pergeseran ideologi Iran setelah revolusi tahun 1979, ketakutan akan program nuklir Iran, dan pertarungan pengaruh di Timur Tengah.

Sejarah permusuhan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah kisah transformasi geopolitik yang dramatis, berubah dari sekutu dekat menjadi musuh bebuyutan dalam kurun waktu beberapa dekade. Akar kebencian ini berpusat pada pergeseran ideologi Iran setelah revolusi tahun 1979, ketakutan akan program nuklir Iran, dan pertarungan pengaruh di Timur Tengah.

Berikut adalah uraian sejarah panjang kebencian tersebut berdasarkan perkembangan terkini:

Namun, hubungan antara AS, Israel dengan Israel berubah drastis ketika Sah Iran ditumbangkan oleh revolusi Iran tahun 1979. Kondisi saat itu merupakan titik balik hubungan Iran dengan AS, juga dengan Israel. Yang sebelumnya merupakan dua negara yang mendukung dan membantu Iran, termasuk bidang teknologi.

Setelah Revolusi Islam Iran 1979 menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi dan membawa Ayatullah Khomeini berkuasa adalah akar dari permusuhan saat ini. Iran berubah menjadi republik Islam yang sangat anti-Barat dan anti-Zionisme (Anti-Imperialisme & Zionisme), bahkan, Iran sempat menawan 52 diplomat AS selama 444 hari. Ttik ini disebut sebagai memicu pemutusan hubungan diplomatik dan sanksi ekonomi permanen. Alhasil , Iran memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel dan menganggapnya sebagai entitas ilegal.

Faktor Kebencian Iran terhadap Israel, karena Iran menganggap Israel sebagai penjajah bangsa Palestina dan penjajah wilayah Muslim. Iran secara aktif mendanai dan mempersenjatai kelompok militan yang menentang Israel, seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman. Pemimpin Iran secara retoris menyerukan penghapusan Israel dari peta dunia, yang dibalas Israel dengan memandang Iran sebagai ancaman eksistensial. Kemudian, memicu serangan Israel terhadap Iran. Setiap serangan Israel selalu dibayar lunas oleh Iran. Iran sering membalas tindakan Israel dengan serangan rudal dan drone, seringkali melalui proksi di kawasan tersebut.

Sementara faktor kebencian Israel—AS terhadap Iran, karena AS—Israel khawatir utama AS dan Israel adalah dengan program pengayaan nuklir Iran. Israel dan AS mencurigai Iran ingin membuat senjata nuklir, meskipun Iran bersikeras programnya untuk kepentingan damai (sipil). Kudeta dan Intervensi, Iran menuduh AS melakukan intervensi asing yang merusak, termasuk kudeta CIA tahun 1953, dan ingin menggulingkan rezim Republik Islam.

Eskalasi 2026 AS—Israel kembali melakukan penyerangan terhadap Iran, tepatnya tanggal 28 Februari 2026. Ketegangan meledak menjadi serangan militer terbuka. AS dan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi terhadap situs militer Iran, menargetkan fasilitas rudal, dan menyebabkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Situasi Terkini (2026), di tengah umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Iran sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1447 H AS dan Israel tiba-tiba menyerang Iran dengan kekuatan penuh. Dunia dikagetkan oleh ambisius AS dan Israel untuk menghancurkan Iran dengan kemajuan teknologinya.

Saat tulisan ini diturunkan masih dalam bulan Maret 2026, hubungan ini berada pada titik terendah dengan konfrontasi langsung. Serangan Gabungan AS dan Israel melakukan serangan udara terkoordinasi (28 Februari 2026) diklaim oleh AS dan Israel telah menghancurkan situs militer di kota-kota besar Iran, termasuk Teheran dan Isfahan.

AS dan Israel terus melakukan propaganda, agar negara Barat khususnya Nato mau terlibat perang dengan Iran. Tuntutannya jelas, perubahan rezim dengan terus menekan untuk pergantian rezim di Iran, yang memicu kemunculan kembali Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran yang diasingkan.

Keinginan AS dan Israel untuk menghancurkan Iran terus digelorakan. Tentu saja, Iran sebagai bangsa besar yang berdaulat, tidak tinggal diam. Bahkan, saat ini konflik (peperangan di Timur Tengah) meluas ke eskalasi global, karena erat kaitannya dengan persaingan hagemoni antara Amerika, China dan Rusia di kawasan Teluk yang kayak minyak.

Kematian Benjamin Netahayu

Di tengah kecamuk perang di kawasan Teluk, beredar berita di berbagai platform media bahwa Perdana Menteri (PM) Israel tewas kena serangan rudal Iran. Israel dan AS bungkam, terus membantah berita yang pertama kali disiarkan oleh media China. Berbagai spekulasi dimunculkan di tengah ketatnya sensor pemberitaan oleh Israel, AS, Uni Emirat Arab, Oman, Abu Dhabi dan Kuwait. Sensor tersebut melarang keras setiap warganegara dan jurnalist untuk menanyangkan fakta lapangan peperangan yang sedang berkecamuk.

Dikabarkan, Presiden AS Donald Trump tiba di Israel untuk memberikan penghormatan setelah PM Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan terbunuh dalam serangan rudal Iran yang menghancurkan. Kunjungan khidmat tersebut berlangsung di rumah duka, di mana anggota keluarga, pejabat pemerintah, dan tentara Israel berkumpul untuk menghormati mendiang pemimpin tersebut. Lilin, bunga, dan bendera nasional mengelilingi potret besar Netanyahu saat para pelayat menyampaikan doa dan belasungkawa.

Trump terlihat menghibur anggota keluarga Netanyahu dan berbicara singkat dengan para pejabat Israel, mengungkapkan solidaritasnya dengan Israel selama apa yang ia gambarkan sebagai salah satu momen tersulit di negaranya.

“Ini adalah kehilangan yang tragis bagi Israel dan dunia,” kata Trump dalam kunjungan tersebut. “Benjamin Netanyahu adalah pemimpin kuat yang berdiri teguh demi keamanan negaranya.”

Dugaan serangan rudal yang menewaskan Netanyahu dikatakan terjadi di tengah konflik yang meningkat pesat antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang telah memicu kekhawatiran internasional yang luas. Keamanan di seluruh Israel ditingkatkan ketika negara tersebut berduka atas kehilangan salah satu tokoh politik paling berpengaruh di negara tersebut.

Para pemimpin dunia diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan dalam beberapa jam mendatang seiring dengan terus berkembangnya situasi di Timur Tengah. Spekluasi terus berkembang dengan tidak munculnya Benjamin Netanyahu diberbagai kegiatan di Israel—yang tidak biasa. Namun, pemerintah Israel tetap membantah, apalagi IDF yang mengatakan Netanyahu. Perlu diwaspadai, media Barat selalu tidak objektif menyiarkan berita tentang apa yang dialami oleh AS dan Israel. Hanya satu alasannya, Donald Trump dapat memberikan sanksi tanpa pandang bulu bagi negara Barat, NATO dan sekutunya membangkang.

Benarkah Benjamin Netanyahu tewas diserang Iran dari rentutuhan kota Tel Aviv, Haifa, Yerussalem, Eliat yang dibabat rudal Iran. Waktu yang akan menjawabb. Bangsa yang dzolim akan binasa sendiri dengan kebohongannya, berkaca para PD I dan II. Bagaimana kekalahan Francis, Jerman, Italia dan Jepang. (dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.