SEIRING bergesernya budaya dan tradisi di tengah masyarakat, jiwa guyub (paguyuban) sudah banyak ditinggalkan, walau secara fotmat seperti masih utuh. Hubnungan antar anggota masyarakat cenderung memaknai prinsi patembayan (materi) ketimbang rasa kebersamaan (guyub).
Pergeseran nilai-nilai di tengah masyarakat nampaknya menjauh dari nilai sosial yang selama ini dijadikan panutan prinsip hidup bermasyarakat. Sehingga, adalah wajar jika acara seremonial (formalitas) jadi primadona hubungan soaial. Sedikit ke belakang, di mana penghargaan dan rasa hormat (penghormatan) kepada mantan pejabat kendati jabatan semasa hidup seseorang hanya sebatas kepala desa—lurah—kepala kampung atau camat.
“Dirinya dihormati tidak hanya saat menjabat”, akan tetapi setelah meninggalpun, masyarakat masih mengenangnya dan tetap memanggil pak kades, pak lurah, pakpun atau pak camat. Begitu harum nama mereka yang sudah almarhum. Realitas sosial sampai sekarang ini bergeser jauh menuju titik-titik loket-loket para pejabat yang sengaja dibangun demikian.
Demikianlah, demikianlah seperti Mbah Saimah pada Rabu (1/4/2026) ditemukan sudah meninggal dunia di pinggiran sebuah sungai kecil di dekat kediamannya. Sontak, warga yang mengenalnya kaget, apalagi warga lain yang selama ini mengetahui lika-liku kehidupan Mbah Saimah itu.
Mbah Saimah selalu hadir di tengah hiruk pikuk di Pasar Trimurjo, ia hanya wira wiri saja di areal pasar tersebut. Walau berpakaian apa adanya, tanpa alas kaki yang membuat kakinya dipenuhi debu, sehingga menghitam. Selama ini orang mengenal Mbah Saimah adalah seowrang wanita tua yang sering berjalan kaki, bahkan sampai di pasar Metro. Mbah Saimah yang berpakian seadannya. Kedua tangannya menggengam buntalan kecil dan di punggungnya ada buntalan terbuat dari kain yang diselempangkan di bahunya.

Ke mana-mana buntalannya di bawa, tak pernah ditinggal walau sesaat.
“Siapa yang peduli selama ini dengan Mbah Saimah itu?” Tidak ada, orang hanya melihat sosok wanita tua yang tidak memiliki apa-apa, hanya pejalan kaki. Belum pernah orang melihat dia naik mobil angkutan umum. Apalagi, mengendarai sepeda.
Satu dua orang memang mempedulikan Mbah Saimah, bahkan ada beberapa konten kreator sempat mengajak ngobrol sesaat dan memberi Mbah Saimah makan ala kadarnya di pinggir jalan.
Mbah Saimah mengarungi dunia di usianya yang sudah lanjut, tetap bersemangat. Ketika ditegur, iapun menjawab dan tersenyum sambil menggendsong buntalan yang bungkusnya sudah sangat kumal (kotor). Tapi, Mbah Saimah tetap yakin perjalanannya berjalan kaki merupakan takdir akhirnya yang diberikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa.
“Sehingga ia tak pernah risau dan ia tak pernah mengemis minta belas kasihan!” Jiwa moral, soisial dan mandiri begitu kental, sampai ia ditemukan sudah tidah bernyawa lagi di pinggir air ledeng pada Rabu (1/4/2026) lalu.
Terlebih lagi, penemuan Mbah Saimah itu diunggah di media sosial Tiktok. Masyarakat menghamburkan rasa peduliu dengan mengucapkan duka mendalam Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun. “Semoga husnul khotimah”
Kita yang melihat videonya, kita yang membaca komentar warga masyarakat yang lebih suka disebut nitizen itu merasa bersyukur. Tapi, jauh kita melihat perjalanan (termasuk diri kita seniri) ke belakang. Membuat pikiran kita melayang ke masa silam, di mana karaktek masyarakat paguyuban sangat menentukan nilai kebersamaan antara anggota masyarakat (warga).
Sama halnya, ketika seorang anggota polisi mengakhiri masa bhaktinya, lalu diberi penghargaan dengan menaikkan pangkatnya. Biasanya itu terjadi pada anggota polisi berppangkat AKP, setelah pensiun diberi pangkat penghormatan pangkat sebagai AKBP.
Bermenung di depan cermin kusam, betapa kita masing-masing melihat peran yang dimainkan di tengah kehidupan sosial kemasyarakat. Pada giliran permenungan itu sesaat membuat kita sadar. “Ooo……..saya ini, ternyata telah dan sebagainya!”
“Semua yang hidup di dunia ini dapat kita dustai, termasuk anak dan isteri. Tetapi, diri kita sendiri dan Tuhan kita TIDAK AKAN mampu membohonginya!” Inilah yang pura-pura dilupakan manusia di abad teknologi digital ini (revolusi teknologi level 5.0.05)
Mbah Saimah saat ini, mungkin sesaat atau selanjut mernjadi perbincangan di masyarakat terlebih saat ditemuka sudah meninggal di pinggir sungai. Dalam buntalannya yang selalu digendong ditemukan uang kertas dan uang logam dengan jumlah cukup fantastis.
Penelusuran saya bersama lampungcentral.id mendapat informasi, bahwa Mbah Saimah berdomisili di Bedeng 6D Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah. Berdasarkan informasi, penelusuran berlanjut tentang sebenarnya almarhum Mbah Saimah itu, bagaimana kesehariannya.
Ternyata, menurut informasi warga Trimurjo, Mbah Saimah selalu datang ke Pasar Trimurjo pada hari Senin, Kamis dan Sabtu. Ia hanya berjalan-jalan dan tidak pernah meminta-minta ala pengemis.
“Iya, mbah itu tak pernah minta-minta, mungkin melihat penampilannya yang kumuh ada saja warga yang memberinya uang,” kata salah seorang kepada saya.

Ketika saya menanyakan, darimana lembaran uang pecahan 50 ribu dan 100 ribu. Saya tidak mendapat jawabn konkrit karena menurut warga bisa jadi Mbah Saimah menukarkan uang lembaran pecahan kecil menjadi pecahan 20, 50 dan 100 ribu.
“Ooooooo…………!”
Dan, mengejutkan saya bahwa Mbah Saimah itu punya keluarga dan anak. Info ini akan saya lanjutkan di bagian kedua dari tulisan ini.
Di Kota Metro kita masih melihat ada beberapa warga lansia yang berjalan kaki, ada seorang wanita berasal dari Timur Kota Metro, ada juha seorang lansia pria yang berjualan kandang ayam dan wayang. Mungkin mereka masih ada ataukah bagaimana sebenarnya perhatian masyarakat dan pemerintah melihat kehidupan yang sedemikian mengharukan karena kondisi mereka? Bagaimana, kalau kita tua nanti atau orangtua kita yang masih ada sudah sangat umuran, tidak diperhatikan kehidupannya? Semua dapat saja terjadi pada diri kita yang semakin sombong di dunia ini. (Naim Emel Prahana/bersambung)







