Politik

Iran dan Oman Bertemu Untuk Menyusun Protokol Pengawasan Selat Hormuz

×

Iran dan Oman Bertemu Untuk Menyusun Protokol Pengawasan Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Selat Hormuz

Disusun dari berbagai sumber uptodate, Sabtu-4 April 2026 oleh Naim Emel Prahana (mantan wartawan luar negeri harian Lampung Ekspes Plus)

 

METRO, (LC)—Dua negara di Kawasan Teluk, Timur Tengah dikabarkan sedang mengadakan pertemuan, guna menyusun protokol pengawasan bersama lalulintas kapal di Selat Hormuz.

Berbagai media Internasional tengah menganalisa pertemuan dua negara kaya minyak tersebut, termasuk Kompas.com, Sabtu (4/4/2026), Selat Hormuz merupakan jalur vital energi dunia.

Berdasar informasi tersebut, disebutkan langkah Iran dan Oman itu, langsung memicu reaksi pasar global, terutama pada harga minyak yang sebelumnya sempat melonjak tajam.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran urusan hukum dan internasional, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa kedua negara sedang menyiapkan mekanisme pengawasan transit di selat tersebut.

“Pengaturan itu bertujuan memastikan kelancaran serta keselamatan pelayaran, bukan untuk membatasi pergerakan kapal,” kata Kazem Gharibabadi.

Namun demikian, Kazem Gharibabadi pihaknya menekankan bahwa situasi saat ini berada dalam kondisi konflik, sehingga mekanisme masa damai tidak sepenuhnya bisa diterapkan.

Kazem mengisyaratkan bahwa dinamika perang tetap akan memengaruhi arus pelayaran di kawasan tersebut.

Seperti diketahui Selat Hormuz merupakan jalur strategis setiap harinya dilalui sekitar 20 juta barel minyak. Akan tetapi, karena ketegangan di kawasan itu,   membuat arus pelayaran menurun drastis dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Akibat serangan AS dan Israel tanggal 28 Februari 2026 terhadap Iran berdampak langsung di pasar global. Harga minyak dunia sempat melonjak lebih dari 10 % akibat kekhawatiran gangguan pasokan.

Kabar tentang pertemuan Iran dan Oman untuk bekerjasama sedikitnya mempengaruhi situasi, di mana sempat menahan laju kenaikan harga karena muncul harapan adanya pengawasan yang lebih stabil di jalur tersebut.

Walau demikian, pasar tetap bergerak fluktuatif. Ketidakpastian konflik dan ancaman gangguan berkepanjangan membuat pelaku pasar berhati-hati. Laporan terbaru menyebut harga minyak sempat melemah tipis setelah kabar kerjasama itu muncul, meski secara keseluruhan masih berada di level tinggi.

Para analis menilai, protokol ini bisa menjadi sinyal de-eskalasi terbatas. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa pengawasan ketat justru membuka peluang kontrol lebih besar oleh Iran terhadap jalur perdagangan global.

“Jika implementasinya berjalan mulus, pasar bisa sedikit lebih tenang. Tetapi jika justru memicu pembatasan atau biaya tambahan bagi kapal, dampaknya bisa memperparah tekanan ekonomi global, mulai dari lonjakan harga energi hingga inflasi di berbagai negara,” tulis para analis.

Dengan posisi Selat Hormuz sebagai leher botol perdagangan minyak dunia, setiap kebijakan baru di kawasan ini hampir pasti akan langsung mengguncang pasar internasional. (info/naimemelprahana/LC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.