Artikel

Menara dan Masjid Taqwa Kota Metro Simbol Peradaban Islam

×

Menara dan Masjid Taqwa Kota Metro Simbol Peradaban Islam

Sebarkan artikel ini
Inilah awalnya Masjid Taqwa (Masjid Agung) Kota Metro. FOTO: dok.nep/LC)

Oleh Naim Emel Prahana

Ketua Pusat Informasi Pedalaman Orang-orang Pinggiran (PIPOP)

 

Salah satu jejak panjang sejarah peradaban manusia di muka bumi ini adalah bangunan-bangunan peninggalan sejarah manusia itu sendiri. Yang oleh Unesco PBB bangunan-bangunan  spektakuler zaman silam dijadikan “warisan dunia”, banyak ditemukan di beberapa negara. Termasuk di Indonesia termasuk di dalam deretan bangunan bersejarah itu adalah masjid—rumah ibadah bagi umat Islam.

Dan, Kota Metro yang sangat legendaris dalam catatan sejarah penyebaran penduduk zaman Hindia Belanda sampai Indonesia merdeka memiliki beberapa bangunan bersejarah. Kendati usianya sebatas sama dengan berdirinya kolonisasi di Metro saat itu. Saat di mana Indonesia belum memproklamirkan kemerdekaannya.

Di antara peninggalan sejarah di Metro (sekarang “Kota Metro”) yang menjadi iconik kota adalah keberadaan Masjid Taqwa sebagai masjid Agung di jantung provinsi Lampung ini. Pada tahun 1984—1987 penulis pernah menelusuri perjalanan panjang berdirinya Masjid Taqwa itu bersama keluarga Mad Ma’oen Ali—bahkan sampai ke daerah Jabung. Yang kemudian banyak tulisan disebarkan oleh berbagai media dan penulis agar diketahui oleh masyarakat luas tentang Masjid Taqwa tersebut.

Catatan Awalnya Masjid Taqwa

Tentang berdirinya masjid terbesar di wilayah Kabupaten Lampung, bahkan di Lampung termasuk masjid berukuran besar tidak ada perdebatan. Artinya, semua masyarakat mehamai sejarah panjang berdirinya Masjid Taqwa tersebut. Maka, pada awalnya masjid yang kemudian dikenal dengan masjid Taqwa adalah bangunan  biasa yang di bagian belakang, atapnya segi empat mengerucut ke atas (seperti bangunan-bangunan nasjid di Pulau Jawa masa silam). Atapnya menggunakan genteng.

Bangunannya masih sangat sederhana, berlantai tanah berdiding gribik campur papan dan ukurannya masih sangat kecil. Itulah bangunan pertama masjid Taqwa di Kota Metro yang kita kenal saat ini. Dari bangunan kecil tersebut lahir dan berdirilah Masjid Taqwa yang sampai sekarang dikenal luas di tengah masyarakat. Sampai-sampai banyak masyarakat dari luar kota Metro mengunjungi masjid kebanggaan umat Islam itu.

Karena letaknya di Nol Kilometer Kota Metro, artinya sangat strategis dapat dikunjungi dari berbagai arah jalan yang ada. Baik jalan masuk ke Metro maupun jalan yang ada di dalam Metro itu sendiri. Dari cerita lisan yang penulis kurun waktu 1983—1987, bahwasanya Masjid Taqwa dibangun secara permanen bentuknya menggunakan tenaga-tenaga kaum kolonis. Sebagian besar bahan bangunannya diambil dari daerah Jabung atau Gunung Balak (saat itu).

Permulaan bangunan Masjid Taqwa (dulu belum ada namanya) terjadi pada tahun 1938—Metro sebagai wilayah dari bagian Kewedanaan Sukadana, semula di Bedeng 1 Adipuro, Trimurjo sudah pindah ke Metro. Nama Metro sendiri beragam diartikan. Yang pasti Metro bukan tempat pertama ditempatkannya kolonis (transmigran), melainkan di Adipuro (bedeng 1) Trimurjo.

Kenapa kemudian pusat pemerintahan kolonial dipindahkan di Metro? Ini pertanyaan yang tak tersentuh dalam tulisan-tulisan tentang ‘sejarah’ Kota Metro. Kepindahan itu, erat kaitannya karena para kolonis dan pertumbuhan (pembangunan) di Metro sedemikian cepat. Bahkan, mengalahkan para kolonis di Begelen (sekarang di Pesawaran atau masuk Kabupaten Pringsewu).

Pertanian di Metro maju pesat, dan terlebih ketika saluran irigasi (lebih dikenal sebutan ‘ledeng’) tahun 1940 sudah sampai di Kota Metro. Karena itu, kemajuan pembangunan di Metro BD 15, 21, 22, 23, 24, 25 luar biasa. Pengaruhnya kebutuhan berbagai fasilitas umum (fasum) sangat mendesak. Termasuk rumah ibadah: masjid, gereja, juga kilinik-klinik kesehatan.

Demikian juga dengan pengembangan dan pembangunan masjid Taqwa menjadi perhatian masyarakat pada saat itu (masyarakat Islam di eks kabupaten Lampung Tengah). Periodeisasi pembangunan masjid Taqwa sampai tahun 2026, sudah mengalami beberapa fase sejak berdirinya tahun 1938. Dalam bentuk yang masih sangat sederhana. Barulah pada tahun 1967 (dalam catatan waktu ditulis 21 Juli 1967) masjid Taqwa. Bersamaan itu didirikanlah sebuah Yayasan yang akan mengurus masjid Taqwa itu.

 

Menara Masjid Taqwa

Menara Masjid Taqwa dibuat dan dibangun bersamaan pembangunan pengembangan masjid pada Juli 1967 dan proses pembangunannya memakan waktu selama 2 (du) tahun, dan selesai sekitar 23 Mei 1969 yang diresmikan oleh Menteri Agama (saat itu), KH Ahmad Dahlan.

Masjid Taqwa Metro berada di pusat kota Metro dikelilingi bangunan kantor pemerintah, alun-alun, kantor polisi, pasar dan bangunan lainnya. Dulu, di tanah tempat PT Bank Lampung sekarang ada Pesanggarahan (penginapan) bagi tamu-tamu pemerintah. Sebagai catatan bahwa rancang bangun Menara Masjid Taqwa Metro sudah direncanakan sejak masa kolonisasi. Sekaligus rancangan kota Metro sebagai pusat daerah Kolonisasi Sukadana. Masjid mendapatkan jadi perhatian dari pemerintah Hindia Belanda.

Dalam dokumen De Indische Mercuur, 1939, 165; Algemeen Handelsblad Van Woensdag, 1939, 9 disebutkan rencana pembangunan ‘menara’ masjid Taqwa bersama pembangunan perkotaan, dirancang bangun lokasi untuk masjid, rumah inspektur dan calon inspektur, dokter, rumah sakit, kantor pos dan kantor Volkscredietbank, kantor Administrasi Nasional dan Kantor Pengelolaan Air, sekolahan, pembangunan barak, pusat pertokoan (pasar), penggadaian,  .

Masjid tertua yang ada di Kota Metro ini memiliki nilai-nilai sejarah dan keunikan-keunikan tersendiri dibandingkan dengan masjid lain di kota Metro. Otomatis, keberadaan rumah ibadah (masjid Taqwa) menjadi sangat penting sebagai bagian dari pusat aktivitas pemerintahan sekaligus jadi salah satu komponen dari pola tata ruang pusat kota Jawa—menganut konsep catur gatra tunggal, di mana unsur politik saling berasosiasi dengan ketiga unsur lain (ekonomi, sosial, dan religius) sebagai bagian penting dari pusat kota.

Pembangunan masjid Taqwa dari awalnya dilakukan secara gotongroyong (swadaya murni masyarakat) melalui filosofi kehidupan masyarakat Jawa yang selalu guyub melakukan berbagai kegiatan. Sampai kepada pembangunan menggunakan anggaran pemerintah (yang pertama saat pemerintah kabupaten Lampung Tengah).

Uraian tentang ‘menara’ masjid Taqwa yang berdiri megah sampai saat ini memiliki ti8nggi 35 meter. Bangunan menara Masjid Taqwa Kota Metro memiliki badan berbentuk selinder dan berongga dibagian dalamnya. Badan (bangunan) menara dibuat ventilasi (lubang angin) yang rata-rata berdiameter ± 60 cm. Semuanya dibuat dengan media (elemen) bahan semen cetak berukuran ± 15 x 15 cm. Jumlah ventilasi yang dibagun di menara itu sebanyak  21 lubang angin.

Kemudian lantai dasar dibuat sebuah pintu bahannya dari plat besi berukuran 2 m x 70 cm. Kemudian, antara bagian bawah (lantai bangunan) dengan atap menara, dibuat pula ruang (space) terbuka yang disangga pilar-pilar kecil sebanyak 9 buah. Space itu digunakan untuk menaruh beberapa pengeras suara (TOA). Sedangkan  pada bagian atap menara berbentuk lingkaran—cembung dan pipih setebal ± 15 cm dengan diameter sekitar 2,6 m²; jari-jari 1,3 m2.

Material atap menara yang berbentuk lingkaran terbuat dari semen dan plat baja yang sama persis dengan material untuk membuat kubah masjid. Di atas lingkaran (atap) terdapat simbol atau lambang bulan dan bintang yang juga terbuat dari plat baja.

Pada masa pemerintah Kota Metro (otonom) dengan walikotanya H. Lukman Hakim, SH, MM masjid Taqwa kembali dibangun ulang yang menghabiskan anggaran Rp 12 miliar lebih dan sempat menjadi kontroversi, karena ada desas-desus Masjid Taqwa itu hanya direhabilitasi berat. Pada kenyataannya, masjid dirubuh total pada tahun 2013.

Akhirnya, bentuk bangunan masjid Taqwa berubah secara otomatis dari bentuk masjid yang lama yang dibangun tahun 1967. Hanya, menara masjid yang tidak dirubah sedikitpun. Dengan kieberadaan masjid Taqwa berbagai aktivitas dilaksanakan di masjid terbesar itu, lebih dari itu, menara masjid menjadi lambang penguat untuk menyatakan kehadiran (komunitas) Islam.

Keberadaan masjid Taqwa dengan menaranya mengimplementasikan sejarah yang dapat menjadi penjaga memori kolektif masa lampau, menguatkan identitas masyarakat dan identitas budaya Metro sebagai generasi penerus dari para kolonis yang menempati wilayah Metro. Dan, jejak bangunan ini merupakan bukti otentik dan saksi bisu perkembangan sejarah Metro dari aspek religiusitas.

(Naim Emel Prahana: Ketua Pusat Informasi Pedalaman Orang-orang Pinggiran (PIPOP) dan media lampungcerntrasl.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.