Oleh Naim Emel Prahana
ANDAIKAN mustahil bagi manusia, akan tetapi tak ada mustahil bagi Allah Yang Maha Esa ‘Sang Pencipta’ alam semesta. Jadi, tidak ada yang tidak bisa didapatkan oleh makhluk, termasuk makhluk manusia kalau Allah sudah menetapkan. Disitulah fakta, ilmu pengetahuan tentang perbedaan manusia (makhluk) dengan Sang Pencipta. Manusia membuat sesuatu itu memang bahan-bahannya sudah tersedia di bumi (alam) ini. berkat akal yang diberikan kepada manusia, maka manusia dapat membuat sesuatu dengan bahan yang sudah ada.
Dan, dengan modal ‘akal’ dalam keberlangsungan kehidupan umat (makhluk) manusia terjadi perubahan-perubahan (peradaban) dari dan untuk manusia itu sendiri. Perubahan itu terjadi apabila manusia tersebut berusaha, kemduian berbuat (bekerja), dan berdoa. Itu prosesnya. Bekerja, berusaha dan berdoa tidak semata-mata ‘ditujukan’ pada materi. Dapat juga masalah ketenangan, kebahagiaan (psikis) atau masalah fisik. Dari masalah fisik diharapkan menghasilkan sesuatu yang akan membantu proses keberlangsungan hidup berikutnya. Yaitu materi, sebagai pendukung proses hidup!
Persoalannya muncul ketika ada seseorang dinobatkan dengan pengumuman secara publik bahwa seseorang itu memiliki status yang spektakuler, yaitu memiliki pendapatan (uang) dari pekerjaannya yang ringan dengan nilai fantastis. Di sini pertemuan sinkron tidak sinkronnya sosok seorang ibu rumah tangga bernama Susanah asal Kampung Uncal, Desa Situsari, Kabupaten Bogor.
Sampai tulisan ini dibuat (pagi 17 Agustus 2026) wanita berusia 38 tahun yang memiliki 3 orang anak itu, belum pulang dari Jakarta mengikuti dtik-detik peringatan HUT RI ke 81. Karena, dirinya memang diundang ke Istana dengan ‘sesuatu’. Hampir 250 juta penduduk Indonesia terdiam, tercengang, penasaran dengan sosok wanita bernama Susanah itu. Ada apa, kok namanya tiba-tiba mengalahkan para pejabat, ASN dan apalagi para pekerja di jalur swasta.
Nama Susanah disebut dan diumumkan secara kenegaraan oleh Presdien Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia. Presiden dengan lantang dan Susanah mendengar namanya disebut oleh presiden, langsung berdiri memberi hormat dari deretan bangku tribun Gedung MPR-RI.
Prabowo menyebut Susanah seorang buruh pengupas bawang dengan gaji Rp 700 ribu per kilogram (kg). Ruang udara negara kepulauan ini penuh sesak dengan aroma penasaran, ada seorang wanita yang suaminya ‘buruh bangunan’, pendapatan tidak jelas ternyata mempunyai gaji hanya mengupas bawang Rp 700 ribu per kg. Apakah ucapan Prabowo itu mengindikasihkan kemakmuran para buruh yang pekerjaan itu terlihat sepele. Atau pengumuman Presiden itu untuk secara instruksional kepada para pengusaha, bahwa jangan main-main untuk menggaji para karyawannya dengan upah rendah?
Tapi yang jelas, setelah Presiden Prabowo secara kenegaraan mengumumkan Susanah pengupas bawang bergaji Rp 700 rib per kg. Masyarakat Indonesia dilanda tsunami, bertanya apakah hal itu benar. Tak pelak berbagai media meanstream (cetak, visual dan online) menelusuri fakta, apa dan bagaimana yang diumumkan Prabowo itu secara nyata!
Hasil penelusuran media tentang kehidupan Susanah sudah dapat dibaca, dilihat videonya di kanal YouTube dan sebagainya, termasuk di media sosial. Heboh, hebohlah intinya bahwa the rule of law tidak sama dengan the rule gamenya. Jika, ucapan dan pengumuman itu kita andaikan adalah Tuhan yang memberikannya. Maka, kehidupan ibu bernama Susanah merupakan berkah dan harus disyukuri dan bertasbihlah kepada Sang Pencipta, akan anugerahNya. Tetapi, nama Susanah dibesarkan tiba-tiba oleh manusia lainnya dengan status sebagai presiden di Indonesia.
Fakta di lapangan, Susanah bukanlah bekerja sebagai pengupas bawang yang kata Prabowo bergaji Rp 700 ribu. Life Susanah hanyalah sebagai penjahit kain majun (potongan-potongan kain) untuk dijadikan berbagai peralatan rumah tangga. Karena kain yang dijahit itu merupakan merupakan kain perca atau potongan sisa bahan yang dimanfaatkan sebagai lap pembersih.
Dari pekerjaan itu Susanah mendapat upah Rp 700 untuk setiap satu kilo kain yang dapat dia jahit. Menurut Susanah sehari (normal) ia hanya dapat menjahit kain majun sebanyak 20 kilogram. Dari 20 kilogram itu ia mendapatkan uang sekitar Rp 14.000,-di sisi lain, setelah selesai menjahit sore harinyanya Susnah bekerja sebagai ombrengan di Dapur MBG. Sedangkan suaminya bekerja sebagai buruh bangunan, kepada media ia bercerita kalau pekerjaannya itu tidak setiap hari ia dapatkan.
Kalau mendapat pekerjaan, seharinya ia diberi upah ada yang memberi Rp 150 rib, kadang Rp 120 ribu. Semuanya saya terima kata suami Susanah dengan menambahkan, sering tidak dapat pekerjaan. Kalau gak ada pekerjaan ia menganggur di rumah. Dari penelusuran berbagai media yang mendatangi rumah Susanah di Kampung Uncal, Desa Situsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Rumah Susanah yang sangat sederhana (untuk kita tidak menyebutnya “tidak layak huni”). Tumpukan potongan kain majun dan beberapa biu lainnya yang bekerja seperti Susanah, menjahit kain majun menjadi alat pembersih membaur dan menyesak di kediaman Susanah.
Sekarang, benarkah Susanah bekerja sebagai pengupas bawang dengan gaji yang disebut Prabowo Rp 700 ribu per kilogram? Ternyata, Susanah tidak bekerja sebagai pengupas bawang. Keluarga Susanah memang adalah penerima program PKH dan PSNK Kemensos. Dan itu, diterima setiap bulan Rp 200 ribu akan tetapi dibayar tiga bulan sekali. Darimana Prabowo sebagai presiden mendapat data kalau Susanah itu bekerja sebagai pengupas bawang dengan gaji Rp 700 ribu? Gak usah dijawablah, memang ribet!
Ternyata Susanah hidup sangat sederhana, pekerja keras demi keberlangsungan keluarganya dan bukan warga yang paling tinggi gajinya sejagat. Ia adalah ibu rumah tangga yang ulet bekerja demi anak-anak melanjutkan sekolah. Ia bekerja serabutan. Sungguh menjadi beban bagi Susnah ketika dirinya dinobatkan menerima gji tinggi hanya sebagai buruh pengupas bawang. (penulis pemerhati sosial budaya dan hukum)







