Pendidikan

Rekam Jejak Tokoh Penggerak Pendidikan Sekappung Limo Migo

×

Rekam Jejak Tokoh Penggerak Pendidikan Sekappung Limo Migo

Sebarkan artikel ini
Samin gelar adat Pangiran Baginda Raja. FOTO: SAI/LC

Mewariskan Cahaya Ilmu

 

SALAH satu Motto hidupnya: Harimau mati meninggalkan belang, “gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama baik.” Tokoh masyarakat Sekappung Limo Migo yang dikenal dengan nama Samin gelar adat Pangiran Baginda Raja, lahir di Desa Bojong Kecamatan Sekampung Udik Lampung Timur. Anak pertama dari lima bersaudara. Ditinggalkan ayah orang tua diusia dini usia 10 tahun. Pendidikan tidak ada, banyaknya pengalaman menjadi pemicu pentingnya pendidikan. Salah satu Motto hidupnya: Harimau mati meninggalkan belang, “gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama baik.”

Pendahuluan

Pendidikan sering kali dianggap sebagai hak istimewa yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang memiliki modal sosial dan ekonomi yang mapan. Namun, sejarah mencatat bahwa perubahan besar justru kerap lahir dari rahim keterbatasan melalui tangan dingin seorang visioner. Di tengah realitas masyarakat Sekappung Limo Migo pada tahun 1975, hadir seorang tokoh penggerak yang mendobrak stagnasi intelektual di daerahnya. Meskipun dirinya sendiri tidak menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR)—hanya menempuh pendidikan hingga kelas lima—pengalaman hidup di perantauan menempa kesadarannya akan urgensi ilmu pengetahuan. Dari sosok yang tak beralas pendidikan tinggi inilah, sebuah revolusi mental dan kultural tentang arti penting pendidikan dimulai.

Konsep Pemikiran

Ilmu sebagai Warisan abadi sebagai masyarakat Lampung yang menganut sistem kekerabatan patriarki, tata adat umumnya menetapkan bahwa harta warisan akan jatuh kepada anak laki-laki tertua. Namun, tokoh ini memiliki paradigma yang melompat jauh melampaui zamannya. Beliau memandang harta benda sebagai instrumen yang rentan memicu konflik internal keluarga, seperti perebutan hak waris. Lebih dari itu, materi bersifat fana; dapat lenyap seketika akibat bencana seperti kebakaran dan banjir, atau hilang karena pencurian dan salah urus akibat perilaku buruk seperti perjudian.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, beliau mengambil keputusan radikal: menghabiskan harta demi pendidikan anak-anaknya. Baginya, ilmu adalah satu-satunya aset yang melekat pada diri manusia dan hanya akan hilang saat kematian menjemput. Dengan ilmu, generasi penerus akan memiliki kemandirian untuk menyelesaikan persoalan hidup, mulai dari mencari nafkah, bekerja, hingga meraih kedudukan. Komitmen ini dibuktikannya secara nyata. Sepuluh anaknya tidak menerima warisan berupa tanah atau materi saat beliau wafat, melainkan bekal pendidikan yang mumpuni.

Riwayat Perjuangan: Melawan Arus Skeptisisme

Perjuangan sang tokoh dimulai pada tahun 1975 dengan mengirimkan adik bungsu kandungnya ke Pondok Pesantren di Bandarlampung hingga lulus pada tahun 1980, yang kemudian berlanjut ke Insitut Agama Islam Negeri (IAIN)/yang sekarang bernama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Langkah ini menjadi pembuka jalan bagi anak-anaknya. Mulai tahun 1982, setiap dua tahun sekali, anak-anaknya yang lulus SD langsung dikirim untuk melanjutkan sekolah atau pesantren di Yogyakarta. Pada tahun 1991, tercatat ada empat anaknya yang menempuh studi di kota pelajar tersebut secara bersamaan.

Langkah berani ini bukan tanpa hambatan. Beliau harus berhadapan dengan skeptisisme akut dari masyarakat kampungnya saat itu. Stereotipe yang berkembang menganggap sekolah tinggi sebagai kesia-siaan bagi orang desa yang tidak memiliki jaringan kekuasaan untuk menjadi abdi negara. Sinisme lokal bahkan melahirkan pameo bahwa uang jauh lebih berharga daripada sekolah. Di tengah gempuran nilai-nilai materialistis tersebut, tekad sang tokoh tidak goyah. Beliau justru tertantang untuk membuktikan bahwa investasi terbaik bukanlah pada benda mati, melainkan pada manusia.

Dampak dan Transformasi Sosial

Buah dari konsistensi dan pengorbanan harta benda tersebut kini telah nyata. Anak-anak beliau berhasil masuk ke berbagai sektor profesi strategis, mulai dari akademisi/dosen, praktisi perbankan, lembaga pengadilan, institusi kepolisian, hingga guru. Keberhasilan keluarga ini menjadi sebuah role model hidup yang meruntuhkan keraguan masyarakat Sekappung Limo Migo.

Gerakan sunyi yang diinisiasinya memicu efek domino yang masif. Kesadaran kolektif masyarakat Bojong, tempat asal beliau, kini telah berubah total. Wilayah yang pada tahun 1975 belum memiliki lulusan perguruan tinggi, saat ini telah mencetak ratusan sarjana. Bahkan, kini dapat dikatakan bahwa setiap kepala keluarga di desa tersebut minimal memiliki satu anak bergelar sarjana.

Kesimpulan

Gelar tokoh penggerak pendidikan sangat layak disematkan kepada beliau. Melalui keteguhan prinsipnya, beliau berhasil mengubah peta takdir sebuah komunitas dari ketertinggalan menuju kemajuan intelektual. Beliau membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan formal tidak menjadi penghalang untuk memiliki visi besar. Warisan sejati yang ditinggalkannya bukanlah tanah atau harta yang lapuk oleh waktu, melainkan rantai kemiskinan yang terputus dan cahaya ilmu yang terus menyala di Sekappung Limo Migo. (SAI/LC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.