Laporan khusus Lampung Central. Id
Komunikasi
benar akan melahirkan kasih sayang dan kepedulian
yang memberikan semangat kehidupan di alam semesta ini.
Alam lingkungan yang telah memberikan segalanya bagi kehidupan
umat manusia, terus menerus dirusak oleh manusia. Karena, tingkat kepedulian
yang sangat tipis dan tingkat kepentingan pribadi yang semakin menebal.
–Naim Emel Prahana–
Manakala pintu malam tirainya mulai terkuak menyambut fajar menyingsing di pagi hari. Segala flora segala fauna menghirup hidup udara, musim yang berganti tak ada manusia yang tahu persis. Saat itulah semua makhluk, apalagi flora dan fauna melanjutkan kehidupan mereka. Ketika udara mulai penuh dengan karbohidrat pembawa segala jenis polusi, tumbuhan segala jenisnya terdampak secara langsung. Apalagi manusia.
Emisi karbohidrat melalui kepulan asap yang membakar ragam jenis benda, dan manusia tertatih nafasnya karena sesak menghidup udara yang berpolusi. Pada saat yang sama manusia rakus memberangus alam lingkungan sekitarnya demi kepentingan harta kekayaan pribadi. Alam sudah rusak dirusak oleh manusia.
Adalah Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Karangrejo, Metro Utara, Kota Metro Lampung, sekian waktu menjadi anak tiri program pembangunan di Kota Metro. Yang semula menjadi tumpuan dan harapan, karena mampu mengolah sampah menjadi pupuk organik dan lainnya. Kenyataannya, tidak seperti dinarasikan pejabat pemerintah.
Soal TPAS di Karangrejo si pemilik sebab masyarakat terdampak berbagai asfek, kesehatan sosial kemasyarakatan, perdebatan sesama pemangku kekuasaan, kritik dan masukan yang dianggap “angin lalu”. Jadilah kekhawatiran membuat syndromnya kehidupan warga sekitarnya.
Air mata kita akan menetes, hidung ditutup rapat dengan masker. Para pejabat menggunakan sepatu boot plastik, menggunakan mobil dinas dan pribadi mewah , saat melihat tumpukan sampah terus berserakan. Tentunya, tidak hanya meikirkan bau, lalat, bangunan, jalan, peralatan berat, tanah becek dan semak belukar. Di mana lalat bukanya puluhan ekor melainkan jutaan ekor, suaranya sudah bergumam. Dan, beberapa lelaki dan perempuan dengan telaten memilah sampah organik dan non organik untuk dijadikan sumber penadapatan keluarga.
Tubuh mereka sudah penuh dengan debu, dikerubungi lalat diserbu aroma sampah limbah yang sangat menyesakkan pernafasan. Masih tegakah kita plesiran, rapat di ruang bera-AC dengan narasi kepada media begitu manis dan lembut mengenai sampah di Kota Metro.
Bangunan-bangunan yang terbengkalai, tempat cuci mobil dumtruk, armroll truck, bentor pikup pengangkut sampah setiap harinya sebelum ke luar lokasi dicuci. Kini, dipenuhi sampah, arealnya ditebal dengan lumpur menggenangkan air dan rumpu liar sudah tumbuh sedemikian makmur.
“Masihkah kita mengatakan selama ini sudah peduli terhadap sampah?”
Petugas yang di lokasi sampah sudah berjibaku. Jumlah mereka ada lima orang THL paruh waktu. Ketika aliran listrik terputus karena disambar petir, berulangkali menghubungi PLN, namun selama 3 jhari belum diperbaiki. Apa yang akan mereka kerejakan, cukupkah hanya menulis jumlah armada angkutan yang masuk ke lokasi TPAS? Sungguh, keprihatinan masyarakat banyak semakin pedih, perih dan menyedihkan.
Belum lagi saluran pipa paralon pembuangan air dari tumpukan sampah berton-ton setiap harinya sampai sekarang rusak dan tidak mampu mengalir air limbah ke bak-bak penampungan pengolahan air kotor. Jalan sekeliling lokasi sudah diutumbuhi semak belukar dan ada beberapa areal di belakang dijadikan areal kebun tanaman untuk makanan ternak (rumput gajah), ada yang menanam swalo (labu), dan kemangi. Itu kawasan lama lokasi yang segala sesuatu fasilitasnya sudah macet (rusak total).
Pertanyaan, apakah selama ini TPAS Karangrejo tidak pernah disambangi para pejabat yang berkaitan?. Air mata terus mengalir manakala berada di lokasi sampah Karangrejo. Fasilitas yang sudah dibangun tidak dijaga dan tidak dipeliharan sebagaimana mestinya. Mirip rumah-rumah yang terdampak tanah beregerak, tidak dapat difungsikan. Padahal bangunan-bangunan itu dibuat dengan anggaran APBD.
Bau yang menyengat hidup, dranase dan jalan masuk ke lokasi sampah bagi dumtruk, armroll, bentor dan pikap kondisinya lebih parah lagi.
Air tergenang di mana-mana, saluran drainase tersumbat mendangkal di mana-mana, ruas jalan ke IPTL, juga tidak dapat dilalui akibat sampah berserakan dan jalannya sudah sedemikian rusak.
Dinas Lingkungan Hidup yang sangat vital perannya untuk menjaga dan memelihara lingkungan agar tetap asri, termasuk kawasan TPAS Karangrejo ternyata anggarannya termasuk yang minim di antara OPD lainnya. Anggaran operasional armada angkutan saja sudah kembang kempis. Sedangkan anggaran pejabat ke luar daerah makin lancar. Di mana keadilan efisiensi itu. Mereka dituntut bekerja keras, manakalah ada bencana pohon tumbang menghalang jalan atau pohon di kiri kanan jalan sudah menggangu. Tetapi, biaya operasionalnya sangat ‘cekak’.
Lebih-lebih kondisi armada angkutan sampahnya yang terdiri dari dump truk (14), bentor (14), pikap (2) dan Armroll (5), semua kondisinya tidak baik-baik saja. Bangkai kendaraan di lokasi bagian IPTL ada 1 unit mobil, di dalam bangunan induk TPAS ada 1 mobil, di depan ada 1 eksavator dan air bersih sulit didapat karena beberapa kendala. Terutama jika listrik padam.
“Air mata mengalir tapi terhenti oleh bau sampah menyengat” adalah kontradiktif tata kelola pembangunan di Kota Metro. Andaikan PUTR dengan anggaran besar selama ini, tidak juga sanggup memuluskan jalan-jalan di dalam kota. Apa tidak baiknya alihkan saja ke TPAS atau ke Lingkungan Hidup.
Sekarang, bagaimana menghadapi—merespon surat sanksi administrasi dari Kementerian Lingkungan Hidup yang memberi deadline sistem pengelolaan sampah harus tertutup, tidak boleh lagi open dumping. Sementara, digembar-gemborkan Pemkot Metro tahun 20226 tidak ada anggaran apapun untuk pembangunan? Ok, kita terima tapi pangkas dulu kegiatan-kegiatan ceremonial yang hanya mengkultus pemimpin tanpa ada manfaat yang dirasakan oleh masyarakat luas. Kurangi volume rapat-rapat, kunjungan ke luar daerah dan kegiatan yang tidak langsugn dirasakan oleh masyarakat.
Atau angkutan (peralatan) armada angkutan sampah dan kendaraan yang sudah rusak, kenapa tidak dilelang dan hasilnya dilimpahkan ke program penanganan sampah.
(penulis adalah budayawan Indonesia dan pemerhati masalah sosial, politik dan hukum)









