DaerahTokoh & Profil

Demi Istri dan Anak, Nelayan Muda Ini Bertaruh Nyawa di Laut

×

Demi Istri dan Anak, Nelayan Muda Ini Bertaruh Nyawa di Laut

Sebarkan artikel ini
Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Riyan telah menjalani pekerjaan penuh risiko sebagai nelayan. Bersama tujuh awak kapal lainnya, pemuda asal Gebang, Pulosari, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. FOTO:NEP/LC

‎TEGAL, (LC) – Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Riyan telah menjalani pekerjaan penuh risiko sebagai nelayan. Bersama tujuh awak kapal lainnya, pemuda asal Gebang, Pulosari, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, itu menantang kerasnya kehidupan di tengah laut demi mendapatkan penghasilan untuk keluarganya.
‎
‎Tak tanggung-tanggung, dari pekerjaannya menangkap ikan menggunakan kapal berukuran kecil, Riyan mengaku mampu membawa pulang penghasilan bersih sekitar Rp15 juta setiap bulan.
‎
‎Kisah tersebut diceritakan Riyan kepada lampungcentral.id saat dirinya menunggu bus di Jalur Pantura, Tegal, pada Minggu (25/10/2026).
‎
‎Dengan perawakan tubuh yang relatif kecil, Riyan tampak ramah dan ceria ketika menceritakan pengalamannya mengarungi laut untuk mencari ikan.
‎
‎Menurut dia, wilayah penangkapan ikan mereka berada di perairan Laut Jawa, mulai dari Tegal hingga Ketapang, Kalimantan Barat. Hasil tangkapan kemudian dijual kepada pembeli di Ketapang.
‎
‎“Sehari paling banyak dapat sekitar lima kilogram,” ujar Riyan.
‎
‎Ikan hasil tangkapan langsung disimpan dalam kotak berisi es agar tetap segar dan tidak cepat membusuk. Dalam sebulan, hasil tangkapan seluruh awak kapal disebutnya bisa mencapai lebih dari satu ton.
‎
‎Kini, proses penjualan ikan relatif lebih mudah. Para nelayan tidak perlu selalu kembali ke daratan untuk menjual hasil tangkapan karena pembeli dapat menjemput ikan langsung di lepas pantai.
‎
‎“Sekarang sudah enak, kami tidak perlu ke darat untuk menjual ikan. Pembeli menjemput hasil tangkapan di lepas pantai,” tuturnya.
‎
‎Penghasilan untuk Keluarga Kecil
‎‎Di balik pekerjaan yang penuh risiko tersebut, Riyan memiliki tanggung jawab besar. Meski masih berusia 19 tahun, ia telah berkeluarga dan mempunyai seorang anak yang berusia tiga tahun.
‎
‎Riyan mengaku memilih menjadi nelayan karena pekerjaan itu telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya. Ia mengikuti jejak orang tuanya yang juga bekerja di laut.
‎
‎“Saya bekerja dengan majikan pemilik kapal penangkap ikan, orang Tegal,” katanya.
‎
‎Hasil penjualan ikan dibagikan kepada delapan awak kapal, termasuk dirinya. Sementara itu, pemilik kapal memperoleh bagian lebih besar, bahkan menurut Riyan, jumlahnya bisa lebih dari dua kali lipat bagian awak kapal.
‎
‎Selain memperoleh bagian dari hasil tangkapan, para awak kapal juga mendapatkan tambahan penghasilan sesuai tugas masing-masing.
‎
‎Karena bertubuh kecil, Riyan dipercaya menjadi juru masak di kapal. Tugas tersebut memberinya tambahan penghasilan sekitar Rp1 juta setiap bulan. Rekan-rekannya yang bertugas menebar jaring dan menangkap ikan juga memperoleh tambahan sesuai pekerjaan mereka.
‎
‎Dari penghasilan rata-rata Rp15 juta per bulan, Riyan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menabung.
‎
‎“Pengeluaran rumah tangga sekitar Rp3 juta sebulan,” ungkapnya.
‎
‎Selama dirinya melaut, sang istri memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berutang terlebih dahulu di warung. Utang tersebut baru dibayarkan setelah Riyan pulang dari laut dan menerima penghasilannya.
‎
‎“Selebihnya saya dan istri tabung di bank,” ujarnya.
‎
‎Riyan mengaku telah tinggal di rumah sendiri yang lokasinya tidak jauh dari kediaman orang tuanya.
‎
‎Perbekalan Melaut Harus Lengkap
‎‎Sebelum berangkat melaut, seluruh kebutuhan selama perjalanan harus dipersiapkan dengan matang. Mulai dari air minum, bahan bakar solar, beras, minyak goreng, hingga berbagai kebutuhan memasak.
‎
‎Persediaan air bersih yang dibawa bisa mencapai 100 galon karena digunakan bukan hanya untuk minum, tetapi juga untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari selama berada di kapal.
‎
‎“Semua harus disiapkan. Kalau kurang, kami turun ke daratan di Ketapang untuk membeli kebutuhan,” jelasnya.
‎
‎Kehidupan di laut menuntut para nelayan bertahan jauh dari keluarga dalam waktu tertentu. Namun, bagi Riyan, pekerjaan itu menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya serta mempersiapkan masa depan mereka.
‎
‎Di tengah perbincangan, Riyan mengungkapkan bahwa dirinya merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak laki-lakinya bekerja di Taiwan, sedangkan kakak perempuannya bekerja di Hong Kong.
‎
‎Berbeda dengan kedua kakaknya yang mencari penghidupan di luar negeri, Riyan memilih meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai nelayan.
‎
‎Saat bertemu dengan lampungcentral.id di Tegal, Riyan sedang menunggu bus menuju Cirebon. Ia membawa sebuah tong plastik berisi ikan untuk dibawa pulang ke kampung halamannya.
‎
‎“Ini saja yang saya bawa pulang,” katanya sambil menunjukkan ikan yang dibawanya.
‎
‎Bagi Riyan, usia muda bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Di tengah kerasnya kehidupan laut, ia berusaha membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga kecilnya, dengan bekerja keras, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. (LC-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.