LAMPUNG TIMUR, (LC)—Panitia Penjaringan Calon Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Timur (Lamtim) mencuat isu tak sedap, setelah ditetapkannya calon tunggal calon ketua PWI Lamtim oleh ketua penjaringan calon ketua PWI Lampung Timur, Selasa (03/02/26).
”Kemarin pada tanggal 31 Januari 2026 sore salah satu bakal calon, Arliyan Athnhar Fadli mengambil berkas formulir untuk maju berkompetisi dengan Muklis (ketua PWI sebelumnya),” ujar salah satu anggota biasa PWI Lamtim yang meminta dirahasiakan identitasnya dengan alasan untuk menciptakan situasi tetap damai.
Hari ini, Arli secara sepihak dengan alasan tidak ada UKW tingkat Madya digugurkan sama panitia penjaringan. Kalau memang demokrasi PWI Lamtim loloskan saja Arli biar ada lawan. Dan syarat aklamasi itu harus mendapat dukungan 50 persen lebih dari anggota biasa PWI Lamtim.
Saat dikonfirmasi, Arliyan Athar Fadli menyayangkan ditetapkannya calon tunggal dalam penjaringan tersebut, dengan mengatakan kalau dirinya memiliki keinginan untuk maju sebagai calon ketua PWI Lamtim.
“Ini salah satu bentuk semangat kawan-kawan di PWI yang inginkan perubahan besar, agar organisasi ini tidak terkesan hanya punya kelompok tertentu,” kata Arlyan.
Dijelaskannya, saya menerima keputusan panitia penjaringan dengan ikhlas. Langkah saya maju berangkat dari niat tulus untuk membawa harapan perubahan, mewakili suara rekan-rekan yang selama ini mungkin tak tersampaikan. Ini bukan soal posisi atau kelompok tertentu, melainkan tentang menjaga kebersamaan, persatuan, dan masa depan organisasi agar kita tetap solid tanpa sekat.
Beberapa anggota PWI Lamtim mendesak panitia penjaringan melakukan perpanjangan penjaringan calon Ketua, karena calon belum memenuhi jumlah minimal (umumnya kurang dari 2 orang).
“Diharapkan pengurus PWI Provinsi lampung memberi persetujuan atau pengesahan (ini penting agar tidak cacat organisasi), ini anggota biasa yang mengharapkan adanya calon lain. Kami tidak mau lagi muklis jadi ketua PWI Lamtim,” papar salah satu anggota PWI lamtim.
Kkemudian di kalangan anggota biasa muncul suara-suara yang sedap, dan berbagai tudingan dilontarkan kepada panitia penjaringan bakal calon ketua PWI Lamtim. Dan, muncul desakan agar PWI Lampung menetapkan Arli sebagai calon ketua melawan Muklis.
Karena keputusan panitia penjaringan dianggap kurang demokrasi, sampai ada tudingan intimidasi di Kantor PWI Lamtim.
“Anggota biasa di PWI Lamtim pemilik hak bicara dan suara ada sekitar sekitar 25 sampai 35 orang. Semua anggota biasa PWI Lamtim mendapat telepon terutama mereka yang dianggap mendukung pencalonan kepadaArli.
“Itu, sama saja intimidasi, ini organisasi wartawan apa premanisme,” ujar salah satu anggota PWI di Lamtim.
Mereka menilai mekanisme pencalonan dan dinamika menjelang pemilihan menyimpang dari prinsip demokrasi organisasi serta berpotensi mencederai marwah profesi wartawan.
Padahal, sebagai organisasi profesi wartawan, PWI dituntut menjunjung tinggi nilai independensi, integritas, dan etika, termasuk dalam tata kelola internal. Dugaan praktik politik uang dinilai bertentangan dengan semangat tersebut.
Namun demikian, dugaan tetap mencuat di internal PWI Lampung Timur. Pasalnya, berdasarkan keterangan sejumlah anggota, pemberian uang tersebut diduga hanya diberikan kepada anggota biasa PWI Lampung Timur yang memiliki hak suara dalam pemilihan Ketua PWI. Kondisi ini menimbulkan persepsi adanya upaya memengaruhi dukungan. (LC-02)









