Oleh Naim Emel Prahana
Kondisi KERING memanjang di belahan negeri, untung tinta penaku tidak mengering—menguap ke hamparan langit membara menghembuskan pesan dibawa gelombang angin melintasi semua medan di muka negeri ini. Ini negeri kita! Yang tidak peduli jumlahnya terus merambah. Apakah karena level grafik kemiskinan semakin tinggi ataukah karena tersumbatnya pipa-pipa aspirasi?
Tapi, sudah pasti para sastra, apalagi penyair tidak pernah mengeluh karena kemarau lebih panjang dari hitungan mimpi dan harapan. Penyair terus menuliskan puisi. Mereka, juga terus menulis bio narasi dan menjadi kurator, “kata pengantar’ buku-buku antologi puisi. Dan, tentunya dokumen-dokumen foto pendukung kegiatan tersebar luas.
Kecenderungan teks – kota kata, alur cerita, tipe dan karakter puisi menjadi sesuatu yang sudah jarang di’komentar’ alias diulas. Dunia puisi sedang mencari sumber daya untuk meningkatkan status pereknomian yang cukup untuk bertahan. Jika, perlu harus menjadi juragan dengan profesi sambilan.
Puisi adalah salah satu karya sastra yang sudah dikonotasikan ke berbagai aliran, blok dan kecenderungan lainnya. Kalau tahun 70-an sampai 80-an “mata tajam kritikus” selalu membahana. Memberi bumbu puisi yang bagaimana yang ideal masuk ke kelompok masyarakat the haves. Saat itu puisi-puisi realis sosial dilihat ketika berjalan di koridor hlaman-halaman analisa kualitas karya puisi.
Kalau aku—dari dulu berpegang teguh pada status sebagai ‘penulis’, mungkin itulah yang menggiring secara alami untuk menekui dunia jurnalistik. Bukan berarti menuju kepada hamparan “freedom of speech” melainkan mengikuti air mengalir. Melewati jeram dengan aliran deras di bebatuan besar, singgah di kawasan lubuk dalam tempat orang memancing ikan dan menjala. Kemudian melanjutkan perjalanan ke hilir dengan menikmati suasana. Sesekali menikmati pinggiran sungai beraneka ragam fauna dan satwa.
Suatu ketika rasa yang tercatat dalam benak pikiran. Bisa jadi kenangan yang sangat romantis atau kenangan yang penuh aroma mistis menggelisahkan tidur, karena kehidupan suatu ketika berhenti dan diam tanpa energi semangat untuk sesuatu untk ditulis ulang.
Harus diakui sebuah puisi akan dapat menjadi analisa—uraian dan hipotesa singkat tentang ‘keadaan’ fakta ditulis menggunakan kalimat dengan pemilihan kosa kata yang indah menawan. Ibarat panorama pegunungan yang berliku-liku, ditempeli gumpalan awan, mungkin juga gumpalan es atau curah hujan yang tinggi sepanjang garis pegunungan yang selalu membentang dan menggamit padangan.
Tapi, puisi juga puisi itu ditulis oleh seorang penyair dengan kemasan berpadunya halusinasi, imajinasi, mimpi dirangkai sedemikian agar memiliki makna seakan itulah fakta kehidupan yang telah, sedang dan akan datang. Semua penyair berhak menulis apa yang ingin dia tulis. Semua kurator juga berhak mengatakan sebuah puisi tak lolos kurasi dengan pertimbangan yang disepakati sesama kurator yang diminta oleh panitia penerbitan buku antologi.
Tapi, ketika kita membaca banyak karya puisi penyair-penyair hebat di belahan bumi lain di luar Indonesia. Banyak puisi ditulis dengan bahasa sederhana sebagai catatan rekaman sosial kehidupan masyarakat. Tentu, masyarakatnya yang pernah dia gauli, baca di berita, tragedi dan musibah, penjajahan dan kekuasaan. Yang membuat suatu keadaan masyarakat menjadi berantakan.

Sekarang aku tak begitu mengurai soal definisi puisi, soal puisi yang berkualitas, soal buku antologi kualifide dan sebagainya. Aku ingin melihat bahwa puisi-puisi yang lahir dari rahim sosial kemasyarakat, kemudian dikemas dengan bahasa, juga apa adanya tentang realitas sosial yang selalu membebani mata, mata hati, pikiran seorang penyair ketimbang dia selalu bermimpi “secangkir anggur”, “di meja bulan”, “dipelukan cahaya” dan sebagainya. Yang mungkin ketika puisi demikian ditulis sang penyairnya sedang pesta di acara pernikahan tetangga.
Aku pernah mendengar, ketika pemerintah menjadi otoriter (tanda tanya) maka karya sastra (puisi) akan menjadi luar biasa, sebabnya karena ada saran, kritik, masukan dan potret yang riil di tengah kehidupan. Karya puisi sosial itupun adalah bagian dari karya sastra. Penyairnya menulis kota kata yang ada di tengah kehidupan masyarakat. Bukan rangkaian kosa kata yang tidak ditemukan di tengah-tengah hiruk pikuk sosial kemasyarakatan. Artinya, kosa kata meliuk-liuk itu masih berada di antara langit dan bumi.
Oleh karenanya, karya puisi aliran apapun, tekstur bagaimanapun, potret yang dipajang dan lainnya harus mendapatkan ruas jalannya agar puisi itu sampai dan dapat dinikmati oleh masyarakat sebagai penikmat. Jangan sebutkan masyarakat yang mana atau kerlompok yang mana. Sebut saja masyarakat”, silakan diterjemahkan sebaik apik.
Baik, aku masih menghabiskan segelas kopi dan rokok menikmaati keindahan kemarau panjang ini.
Metro, 20 Septeber 2026









