Nasional

Susanto Saman Akan Menyaksikan Pemberian Nobel Prize Lectures 2025

×

Susanto Saman Akan Menyaksikan Pemberian Nobel Prize Lectures 2025

Sebarkan artikel ini
Susanto Saman bersama Prof. Frank Wilczek di Shanghai, China. FOTO: ist/LC

BANDARLAMPUNG, (LC)—Ahli lguistik dan Fonetik ini menurut rencananya akan menyaksikan langsung penganugerahan Nobel Prize Lectures tahun 2025, yang lama ditunggu, dan Susanto Saman pernah menyaksikan diberikannya Nobel Prize Lecture beberpa tahun silam.

Susanto Sama yang dihubungi via WathsApp, Jumat (5/12/2025) mengungkapkan perasaannya setiap kali mendengar para peraih Nobel menceritakan perjalanan mereka, dari kegagalan berulang, ide-ide yang awalnya dianggap “gila”, hingga terobosan yang mengubah dunia.

“Saya selalu merasa seperti sedang diisi ulang semangatnya. Bukan karena prestisenya, tapi karena keberanian mereka untuk terus bertanya ‘bagaimana jika?’ dan tetap mencintai keindahan ilmu pengetahuan meski jalanannya terjal,” ungkapnya.

Saya berharap, kata Susanto semoga suatu hari nanti, di antara suara-suara itu, kita mendengar aksen Indonesia. Semoga ada anak bangsa yang berdiri di panggung Stockholm, membawa nama Indonesia dengan bangga. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Lalu, Susanto Saman yang juga aktivis DPD Granat Provinsi Lampung itu menceritaan pengalamannya berkaitan dengan Nobel Prize Lectures 2025. Dalam kisah kenanganan, Susanto pernah berkesempatan beberapa kali menghadiri kuliah umum Prof. Frank Wilczek saat dirinya melakukan riset postdoctoral linguistik forensik di Shanghai Jiao Tong University (SJTU) China dan Fulbright fellowship di Department of Brain and Cognitive Sciences MIT Amerika.

Prof. Frank Wilczek dilahirkan pada 15 Mei 1951 merupakan fisikawan teoretis, matematikawan, dan peraih Nobel asal Amerika Serikat. Ia menjabat sebagai Herman Feshbach Professor of Physics di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Founding Director T. D. Lee Institute dan Chief Scientist di Wilczek Quantum Center, Shanghai Jiao Tong University (SJTU), dan juga Full Professor di Stockholm University. Ia meraih Hadiah Nobel Fisika tahun 2004 atas penemuannya tentang “asymptotic freedom” dalam teori quark dan kontribusinya pada axion, anyon, time crystals, dll.

Setelah kuliah selesai, ujar Susanto menambahkan dirina memberanikan diri mengacungkan tangan dan bertanya langsung kepadanya.

“Profesor, apa saran Anda kepada ilmuwan muda yang bercita-cita mengikuti jejak peraih Nobel Prize seperti Anda?,” tanya Susanto kepada Prof. Frank Wilczek.

Mendengar pertanyaan Susanto, Prof. Frank Wilczek tersenyum lebar (senyum yang sama persis seperti di foto kami berdua ini), lalu menjawab dengan kalimat yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang:

“I try to avoid hard work. When things look complicated, that is often a sign that there is a better way to do it.”

Awalnya, saya aku Susanto tersenyum mendengar kata “avoid hard work”, karena semua tahu Prof. Wilczek adalah salah satu fisikawan yang paling produktif di dunia. Tapi kemudian beliau melanjutkan penjelasannya, dan saya langsung paham maksudnya yang jauh lebih dalam.

“Kerja keras itu penting, tapi kerja keras yang cerdas jauh lebih berharga. Kalau sebuah masalah terasa sangat rumit dan penuh perhitungan yang melelahkan, itu biasanya pertanda bahwa kita belum menemukan sudut pandang yang tepat. Para fisikawan besar berhasil bukan karena mereka lebih pintar menghitung daripada orang lain, tapi karena mereka menemukan cara yang elegan, sederhana, dan indah untuk melihat alam semesta. Carilah simetri yang tersembunyi, carilah prinsip yang membuat semua kerumitan itu ‘runtuh’ menjadi sesuatu yang jelas dan tak terbantahkan,” jelas Prof. Frank Wilczek.

Lalu Prof. Frank Wilczek menutup jawabannya dengan kalimat yang sangat rendah hati, “So my advice is simple: fall in love with beauty. If you keep chasing beautiful ideas, the Nobel will chase you.”

Habis mengikuti kuliah Prof. Frank Wilczek, saya ke luar dan pulang dari ruangan auditorium itu dengan perasaan campur aduk. Terinspirasi sekaligus ‘ditampar’ dengan lembut.

“Selama ini saya sering bangga karena bisa menyelesaikan analisis linguistik forensik yang sangat teknis dan rumit, tapi Prof. Wilczek mengingatkan saya bahwa keindahan dan kesederhanaan yang hakiki sering kali lebih powerful daripada kerumitan yang kita banggakan,” kata Susanto kepada Lampung Central. Id.

Menurutku, ujar Susanto menambahkan, jangan jatuh cinta pada kerja keras. Cari dan jatuh cintalah pada keindahan dari ilmu yang kita tekuni. Jika kita sudah mampu melihat keindahan sebuah ilmu, maka kerja keras akan mengikuti dengan sendirinya, dalam bentuk yang jauh lebih bermakna. Terima kasih, Prof. Wilczek. (LC-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.