Kolom

Sambut Tahun Baru Lebih Berani

×

Sambut Tahun Baru Lebih Berani

Sebarkan artikel ini
DR. Susanto, S.S., S.H., M.Hum., M.A., M.H., Ph.D.

Mari Tutup 2025 dengan Bijak  

Oleh Dr. Susanto, SS, SH, MHum, MA, MH, PhD

Kepala Pusat Studi Linguistik sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Bandar Lampung (UBL)

Tahun 2025 hampir usai. Kita semua pernah melewati momen-momen ketika harapan tinggi yang kita bangun di awal tahun berhadapan dengan kenyataan yang pahit. Rencana karir yang kandas, hubungan yang retak, target pribadi yang tak tercapai, atau bahkan pengkhianatan dari orang yang kita percaya sepenuhnya.

Di saat-saat itulah, ketika segalanya tidak berjalan sesuai keinginan, karakter sejati kita terungkap paling jujur melalui bahasa tubuh, nada suara, pilihan kata, dan tindakan yang kita ambil. Kekecewaan bukan lagi sekadar rasa sakit sementara. Ia menjadi cermin besar yang memantulkan siapa kita sebenarnya ketika topeng kesuksesan dan kebahagiaan sudah terlepas.

Sepanjang 2025 ini, mungkin kamu pernah menemukan pasangan yang berselingkuh setelah bertahun-tahun membangun mimpi bersama. Orang yang impulsif akan membiarkan amarah menguasai. Bahasa tubuh tegang dan agresif, nada suara meninggi penuh tuduhan, kata-kata kasar membanjiri media sosial sebagai bentuk balas dendam. Sesaat mungkin terasa melegakan, tapi di akhir tahun ini kita tahu akibatnya. Reputasi tercoreng, pertemanan retak, dan hati sendiri semakin berat karena dendam yang tak kunjung reda.

Sebaliknya, orang yang dewasa memilih jalan berbeda. Diam sejenak untuk memproses luka, menangis jika perlu, lalu mengakhiri hubungan dengan kata-kata tegas namun bermartabat, tanpa perlu menghujat publik. Mereka keluar dari tahun ini dengan hati yang lebih bijak, batasan yang lebih jelas, dan kesiapan untuk mencinta lagi dengan lebih selektif.

Di ranah pekerjaan, 2025 mungkin membawa pemutusan hubungan mendadak, proyek yang gagal, atau promosi yang jatuh ke tangan orang lain karena politik kantor. Reaksi impulsif sering kali terlihat. Bahasa tubuh gelisah, ekspresi wajah penuh kebencian, dan luapan emosi di grup chat dan media sosial yang menjelek-jelekkan atasan serta perusahaan. Di penghujung tahun, orang seperti ini sering masih terjebak dalam kemarahan, peluang baru sulit datang karena reputasi rusak.

Berbeda dengan mereka yang memilih kendali diri. Meski kecewa mendalam, mereka tetap menjaga sikap profesional, memperbarui CV dengan fokus positif, memperluas jaringan, dan belajar dari kegagalan. Tak jarang, di akhir 2025 ini mereka sudah berada di posisi lebih baik dengan gaji lebih tinggi dan lingkungan yang lebih sehat membuktikan bahwa kekecewaan bisa menjadi katalisator kesuksesan jika kita tanggapi dengan dewasa.

Begitu pula dalam pertemanan dan keluarga. Rahasia yang bocor, janji yang diingkari, atau dukungan yang hilang saat kita paling membutuhkan. Semua itu mungkin pernah kita sendiri rasakan tahun ini. Orang impulsif bereaksi dengan drama. Memblokir, memutus hubungan secara brutal, menyebarkan keburukan dengan kata-kata penuh amarah. Hasilnya, di akhir tahun lingkaran sosial justru semakin sempit.

Sementara orang yang matang memilih konfrontasi tenang, menyatakan kekecewaan dengan jujur tapi terkendali, lalu menarik batasan tanpa kebencian. Mereka menutup 2025 dengan hubungan yang lebih berkualitas, karena sudah belajar memilah mana yang benar-benar layak dipertahankan.

Refleksi akhir tahun ini mengingatkan kita bahwa kekecewaan yang kita alami sepanjang 2025 adalah filter terbaik yang diberikan kehidupan. Ia memisahkan dengan tegas antara pribadi dewasa yang menguasai bahasa emosinya, kata-kata, sikap, dan tindakan, dengan mereka yang masih dikuasai impuls.

Jangan menyesali kekecewaan yang datang. Marilah kita syukuri karena ia telah menunjukkan siapa yang pantas tetap berada di hidup kita, dan yang mana yang harus kita lepaskan.

Masukilah tahun baru 2026 dengan kepala lebih tegak, hati lebih kuat, dan kebijaksanaan lebih dalam. Jadilah orang yang, ketika diuji oleh kekecewaan, tetap memilih bahasa tubuh yang tenang, kata-kata yang bijak, serta tindakan yang bermartabat.

Karena hanya dengan begitu, kita bukan lagi korban keadaan, melainkan pengendali sejati atas hidup dan karakter kita sendiri.

Selamat tinggal 2025, Terima kasih atas semua pelajaran kerasmu. Kita akan menyambut tahun baru 2026 sebagai versi yang lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih layak menerima segala yang baik yang menanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kolom

Oleh Naim Emel Prahana   INI tentang ‘pemaknaan’…