Oleh Naim Emel Prahana
Direktur Pusat Informasi Pedalaman Orang-0rang Pinggiran
Kadangkala kita sekarang lebih banyak menghabiskan waktu untuk saling otot mengotot persoalan—yang persoalannya sendiri kita gak tahu persis. Tapi, budaya otot-ototan memang jadi trending topik di dun ia nyata sekarang. Bukan dunia akhirat ya, jangan salah paham. Barangkali (salah satu katya dalam lagu Ebiet G Ade) level “jati diri” masih sangat labil. Kelabilan itulah menjadi alasan kenapa suka ngotot. Dan, kemudian tidak lagi dibedakan antara ‘tradisi’ dan ‘budaya’. Jadi, campuraduk—begitulah.
Menjadikan mentang-mentang, kesombongan, kesewenangan semua menganggap ukuran hidup sekarang ini adalah harta dan tahta. Jika dua itu sudah dimiliki, semuanya akan dapat dimiliki, termasuk korupsi perorangan dan berjamaah, murtad berjamaah walau masih mengenakan kopiah, sarung dan baju koko (ciri khas seorang muslim di Indonesia).
Tapi kan, eksistensi itu adalah ‘keberadaan’ (kehadiran/keharibaan). Sesungguhnya untuk memahami, maka ada tiga (tiga) bagian eksistensi; Eksistensi Konkret (nyata), Eksistensi Abstrak (tak berwujdu) dan Eksistensi Diri (eksistensi manusia). Walaupun kata eksistensi itu sendiri berasal dari kata (kosa kata) existere (ke luar atau melapaui), selanjut dengan memahami makna eksisteni tersebut, maka eksistensi akan membuktikan sesuatu itu benar-benar ada dan tidak sekedar angan-angan.
- Eksistensi Konkret (Nyata):Sesuatu yang wujudnya dapat dilihat atau dibuktikan secara fisik. Contoh:Keberadaan sebuah gedung, rumah, atau planet bumi.
- Eksistensi Abstrak:Keberadaan sesuatu yang tidak berwujud fisik, namun diakui atau dirasakan keberadaannya. Contoh:Eksistensi hukum, eksistensi sebuah ide, atau pengakuan akan hak asasi manusia.
- Eksistensi Diri (Eksistensi Manusia):Kesadaran dan keinginan seseorang untuk mendapatkan pengakuan atas keberadaan dirinya di dalam lingkungan sosialnya. Contoh:Seseorang yang aktif berorganisasi atau membuat karya seni agar potensi dirinya diakui masyarakat.
Mengutip Merriam Webster yang mengatakan, penggunaan kata eksistensi dalam sebuah kalimat. Memberikan contoih tentang seseorang mulai meragukan keberadaan Tuhan. Suatu bentuk keberadaan. Manusia berada di dalamnya. Selanjutnya pengertilah secara sederhana kalau eksistensi diri itu adalah adanya keinginan untuk pengakuan diri seseorang akan keberadaanya.
Bagaimana kita pengakuan diri terhadap eksistensi Tuhan yang kita sembah dan kita sebagai hambaNya? Tuhan akan tidak ada jika kita tidak mengakui eksistensi kita sendiri. Tidak mengakui eksistensi keberadaan satwa (fauna dan flora), eksisten alam (dunia) dan lingkungannya. Kita tidak akan mematuhi perintah-perintah Tuhan (dalam Islam disebut Allah SWT), jika keberadaan kita sendiri sebagai manusia’kita’ sendiri meragukannya.
Seperti halnya karya teknologi manusia yang saat ini sudah mencapai revolusi industri 6,0. Kalau di dunia dirgantara pesawat generasi ke-enam (adalah yang paling mutakhir). Oleh karenanya, jika kita tidak mengakui keberadaan teman yang memiliki sepak terjangnya di masa lampau dalam sejarah. Maka, kita tak akan mengenal eksistensi Ketuhanan yang sesungguh.
Masih banyak hal-hal yang selama ini kita kesamping tentang Eksistensi Tuhan dan Ketuhanannya. Pada gilirannya, banyak manusia sekarang lupa diri, bahkan keberadaannya (eksistensinya) sendiri di dunia, dalam keluarganya, di lingkungan pemukimannya, di dalam organisasinya – profesinya, dan keberadaan di aspek kehidupoan lain seperti ketika ke/di dalam hutan, ketika berada di atas kapal di tengah lautan, ketika ada kebakaran, banjir, bencana alam lain, pesta pernikahan, rapat dan pertemuan-pertemuan.
Jika keberadaan diri kita sendiri tidak diletakkan pada proporsinya, maka ekstensi Tuhan akan anda lupakan. Karena, saat anda lupa eksistensi keberadaan diri sendiri, maka anda akan tidak (karena menyingkirkan eksistensi Tuhan) takut melanggar larangan-larangan Tuhan beserta mengikuti perintah-perintahNYA.
Ojo dumeh dalam filosofi masyarakat Jawa, jangan menyadarkan manusia akan eksistensinya, kapan dan dimanapun orang itu berada. Coba anda bertanya sendiri, hidup di dunia ini (salah satu planert di alam semesta ini), posisikan diri anda, kemdian lanjutkan pertanyaan; presiden, anggota DPR, preman, Menteri, Pengusaha, Gubernur, Bupati dan Walikota, Kiyai, Ustads, Artis-kah yang menciptakan planet bumi ini? Jawabannya, tidak! Walaupun mereka tersebut sewenang-wenang. Maka, anda akan tersadar baru tersadar akan eksietnsi yang mengakui diri sendiri, ooo Tuhan, ampunilah hambaMu ini atas segala kelalaian, kesombongan, ketamakan, kerakusan, keblingeran, kesablengan, kegilaan dan seterusnya.
Jalan Strawbery No 5 Yosomulyo, Metro Pusat







