Kumpulan Cerpen Mozaik Pengejar Mimpi
Catatan Naim Emel Prahana
Di Jawaharlal Nehru University – India, aku pernah mendapatkan kesempatan untuk berbicara dalam sebuah forum mahasiswa. Pagi hari menjelang acara, aku menelusuri jalan-jalan kampus. Dan kujumpai jalan-jalan bersimpang di sana. @Jalan Yang Tidak Lagi Bersimpang.
Puluhan tahun silam, aku paling suka membuat resensi buku-buku sastra (cerpen, puisi dan novel) di majalah dan surat kabar. Entah benar atau entah tidak, kata warga sastra bahwa pemain sepakbola itu tidak boleh menjadi komentator. Kalau mau jadi komentator, jadilah komentator, jangan jadi pemain.
Walau belum berakhir, sementara waktu aku jaang membuat resensi buku. Takut melanggar forboden. Padahal, dalil yang kusebut di atas belum tentu shahih. Tapi, tak apalah! Karena, melihat sebuah karya sastra seakan melihat semua sisi kehidupan di alam semesta ini.
Alhasil, saat hadir di acara Workshop dan Orientasi untuk pengurus DPC Granat Kabupaten Lampung Timur yang diselenggarakan DPD Granat Provinsi Lampung pada saat “ngopi bareng” di ruang resto Hotel Alodia kawasan Jalan Pangeran Antasari Bandarlampung (orang menulis Bandar Lampung).
Seorang teman ‘monster’ bahasa memberikan aku satu buku kumpulan cerpen. Judulnyapun sangat sederhana “Mozaik Pengejar Mimpi”. Itu judul kumpulan cerpen terdiri dari delapan (8) cerita pendek dengan 61 halaman. Buku itu diberikan dengan tulus ikhlas dengan candaan humor tingkat dewa.
Tentu saja, pemberian itu membuat garahku menggeliat kembali di dunia sastra—beberapa waktu terakhir ini, aku terbuai oleh alunan musik dari syairnya “puisi dalam lagu” yang dikelola oleh teman penyair di Cirebon, Wawan Hamzah Arfan. Di sisi lain, persoalan PAD terus menekan jalan pikiran dan langkah.
Dari pemberian itu, Mozaik Pengejar Mimpi karya Susanto Saman seorang pemburu ilmu—khususnya forensik linguistic yang telah menjejakkan langkah ‘penjajahan’ perjalanannya di berbagai belahan dunia. Tak gentar dentuman rudal-rudal Rusia di negeri Ukraina.
Dari delapan cerpen yang dikumpulkan Susanto yang kadang namanya menjadi ‘Saman’, sangat menarik. Dari sisi penggunaan bahasanya sederhana, disusun dengan lincah dan dinamis. Meletakkan ‘aku’ sebagai pemeran utama dalam cerpen-cerpen itu. Seperti seorang penari cantik melenggak-lenggok di atas panggung yang membuat penonton berimajinasi ke mana-mana.
Dalam catatan ini, aku—juga menggunakan pemeran ‘aku’, tidak akan mengupas detail kedelapan cerpen Susanto Saman. Melainkan, mengulik atau mengambil cuplikan-cuplikannya saja. Sebagai pengejar mimpi, Susanto fokuskan bascamp cerpennya di “kampung halaman’ dengan figur central sang ayah dan dirinya yang sebenarnya dapat ditafsirkan secara global berlakunya figur aku dan ayah.
Dalam cerpen di buku Mozaik Pengejar Mimpinya Susanto, si penulis tidak menjadikan dirinya sebagai orang lain atau menjadi penonton yang juga pembaca karya-karya Mozaik Pengejar Mimpi.
Yang aku tertarik dengan delapan cerpen Susanto itu salah satunya penggunaan kosa kata dan untaian kalimat yang sederhana, lugas, dinamis dan sepintas mudah dicernah dan ditafsirkan ke terjemahan kehidupan sehari-hari. Tapi, tunggu dulu dari kata dan kalimat yang dirangkum oleh Susanto, ternyata mengandung makna yang berlapis-lapis menguatkan komunikasi pembaca dengan penulisnya—Susanto.
O iya, agak kelupaan. Dalam cerpen-cerpen Susanto itu, dilihat dari alur kepenulisannya terlihat sepele (sederhana), tapi kesedrehaan itulah yang membedakan cerpen Susanto dengan cerpen-cerpen lainnya oleh pengarang yang lain. Misalnya, sudah menjadi biasa seorang penulis atau pengarang pada karya puisi, cerpen, novel dan roman. Lokasi (tempat) ia menulis karyanya itu kebanyakan ditulis di bagian akhir sebuah karya. Namun, Susanto yang benar-benar membuat aku tak berhenti mengaguminya, ia menulis lokasi di mana karya itu dibuat ada di bawah judul karya (cerpen). Itulah ‘pembeda’ yang sangat kontras.
Di delapan cerpen dalam buku Mozaik Pengejar mimpi, Susanto meletak pintu utama cerpennya yang akan dialirkan menuju muara ‘pembaca’, selalu dialinea pertama adalah suasana di mana ia berada. Misalnya cerpen “Beranilah Bermimpi”. Cerpen itu ditulis di Hyderabad, India 2008) diawali dengan kata Di sini, di India, saat aku duduk mengerjakan tulisanku, ingatanku pun kembali kepada orang-orang di Indonesia…./Dan akupun teringat dulu, ayah pernah bercanda dengan bertanya:
Cerpen Beranilah Bermimpi terdiri dari 13,3 halaman dan Susanto mengajak kita berkomunikasi dengan dialek Melayu Medan. Dan, kita dihanyutkan oleh Susanto untuk mengikuti interaksi komunikasinya sehari-gaya dengan dialek atau logat bahasa Indonesia versi Medan.
Di cerpen berjudul “Kasih Sayang Ibu”, Susanto pun mengawali alur ceritanya dengan kalimat, Di Australia, aku melihat beragam buah dan sayuran di salah satu supermarket dekat kampus. Aku kemudian terpaku pada tumpukan tomat di salah satu pojok dan aku pun terbayang sepenggal kisah tentang betapa mulianya seorang ibu. Di alinea pembuka cerpen tersebut, kita diajak Susanto mengingat kembali wajah ibu kita di kampung dan tentu mengajak kita membaca suasana kampung, khususnya di Indonesia.
Demikian juga pada cerpen “Butiran-Butiran Permata” diawal pembuka alinea pertama cerpennya, masih seperti dua cerpen sebelumnya termasuk cerpen “Jalan Yang Tidak Lagi Bersimpang”, beda tipis dengan cerpen “Kunci Tembaga” dan “Surat Untuk Ayah”, “Penasaran”, “Kasih Sayang Ibu”. Dua cerpen terakhir, Susanto mencoba mengalihkan perhatian model pembuka alur ceritanya dengan alinea khusus.
Dalam cerpen Kunci Tembaga sang penulis meletakkan percakapannya dengan sang ayah di awal alinea pertama aur ceritanya dengan pemeran ‘sang ayah’ jadi pembuka cakrawala untuk menafsirkan kandungan cerpen Kunci Tembaga tersebut.
Melompat ke cerpen-cerpen Susanto, wabilkhusus pada kalimat penutup ditandai dengan doa dan harapan kepada Sang Fatharah pencipta alam semesta atau berbicara tentang kebenaran dan keadilan yang membuat cerpennya fokus pada realitas sosial. (Kemasyarakatan).
Cerpen-cerpen Mozaik Pengejar Mimpi merupakan cuplikan perjalanan masa silam sang penulis yang dibumbui ramuan kepenulisan yang sangat sederhana dan bagi pembaca diberi makna tentang hari ini adalah cerita hari-hari sebelumnya.
Apapun, walaupun, bagaimanapun alur cerita dalam cerpen-cerpen Susanto pembaca disodorkan fleksibilitas komunikasi yang sangat menarik. Dinamis, sistimatik dan tutur yang apa adanya. Itu yang aku sebut ‘kesederhanaan’ si penulis, Susanto Saman. Sementara, kalau kita membaca cerpen-cerpen lain masa sekarang, kosa kata yang digunakan banyak sekali kosa kata asing, bukan saja kosa kata asing yang berinfiltrasi ke dalam bahasa Indonesia, juga di tengah masyarakat terasa kata-kata asing itu tidak sesuai dengan kondisi Indonesianya.
Baik, lanjutkan karya-karyamu Susanto Saman!
Jalan Strawbery No 5 Yosomulyo Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro. Pukul 05.00 WIB







