Kolom

Konflik Batin dan Mekanisme Pertahanan Diri dalam Puisi “Bisik di Telingaku”

×

Konflik Batin dan Mekanisme Pertahanan Diri dalam Puisi “Bisik di Telingaku”

Sebarkan artikel ini
Puisi dalam lagu Bisik di Telingaku

Oleh Susanto

Puisi “Bisik di Telingaku” karya Naim Emel Prahana (2025) dapat dibaca sebagai representasi konflik batin tokoh aku yang terpecah antara dorongan emosional, kesadaran rasional, dan mekanisme pertahanan diri. Dalam kerangka psikoanalisis Freud, puisi ini menampilkan pertarungan antara “id”, “ego”, dan “superego” yang tidak pernah mencapai resolusi utuh.

“Bisik di telingaku” berfungsi sebagai simbol suara bawah sadar, yakni dorongan dan kegelisahan yang ditekan tetapi terus muncul dalam bentuk kecemasan. Telinga yang “gelisah tak berkesudahan” menandakan bahwa tokoh aku tidak mampu lagi meredam konflik internalnya. Perasaan kehilangan kehormatan diri mencerminkan luka pada ego, harga diri yang runtuh akibat relasi yang tidak lagi memberikan validasi emosional.

Metafora “kapas terbang melayang” menunjukkan kondisi ego yang rapuh dan tidak stabil. Ego kehilangan pijakan karena tekanan dari luar (pasangan yang berubah) dan dari dalam (rasa cemburu, takut ditinggalkan). Angin yang “cemburu” dapat ditafsirkan sebagai proyeksi emosi tokoh aku sendiri, mekanisme projection, di mana perasaan cemburu yang tidak diakui dialihkan kepada pihak lain.

Pertanyaan “apakah aku salah pilih sosok pendamping” menunjukkan kerja superego yang menghakimi keputusan masa lalu. Superego memunculkan rasa bersalah dan penyesalan, sementara id masih mendambakan cinta, kesetiaan, dan kebersamaan. Harapan menuju “seberang lautan” mencerminkan keinginan ideal id akan hubungan yang utuh dan aman, namun idealisasi ini berbenturan dengan realitas.

Pada bagian tengah puisi, konflik mencapai puncaknya. Tokoh aku bertanya apakah ia harus “bertahan selalu paham” dan “tersenyum” meski sikap pasangan telah berubah. Di sini tampak mekanisme repression (represi), di mana rasa sakit ditekan demi menjaga stabilitas hubungan. Senyum menjadi topeng ego untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan realitas, meskipun bertentangan dengan kebutuhan emosional id.

Bait akhir menegaskan penggunaan mekanisme pertahanan diri berupa denial dan withdrawal. Tokoh aku memilih diam, berpura-pura tidak sakit, dan mengabaikan luka yang telah terjadi. Pengulangan kata “diam” memperlihatkan kondisi psikis yang beku (emotional numbness), sebuah reaksi terhadap trauma emosional yang berkepanjangan. Diam bukan penyelesaian, melainkan penangguhan konflik yang tetap hidup di alam bawah sadar.

Dengan demikian, melalui pendekatan psikoanalisis, puisi ini menggambarkan individu yang terjebak dalam konflik intrapsikis akibat relasi yang tidak sehat. Kegelisahan, penyangkalan, dan keheningan menjadi tanda bahwa luka emosional belum tersublimasi, melainkan disimpan dan terus membisikkan kegelisahan di dalam diri tokoh aku.

Catatan:

Pendekatan psikoanalisis dalam menganalisis puisi berangkat dari gagasan bahwa karya sastra merupakan ekspresi konflik batin dan alam bawah sadar pengarang atau tokoh di dalamnya. Konsep utama psikoanalisis, menurut Sigmund Freud, mencakup struktur kepribadian “id”, “ego”, dan “superego”, serta mekanisme pertahanan diri seperti represi, proyeksi, dan penyangkalan. Dalam puisi, konflik-konflik tersebut tidak disampaikan secara langsung, melainkan muncul melalui simbol, metafora, pertanyaan retoris, dan pengulangan kata. Analisis psikoanalisis bertujuan mengungkap makna laten (perasaan tertekan, trauma emosional, dan kegelisahan psikologis), yang tersembunyi di balik bahasa puitik dan membentuk pengalaman batin tokoh lirik.

(Susanto, S.S., S.H., M.Hum., M.A., M.H., Ph.D. Ia back to campus sebagai Kepala Pusat Studi Linguistik sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Bandar Lampung (UBL))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kolom

Oleh Naim Emel Prahana   INI tentang ‘pemaknaan’…