Oleh: Susanto Saman
SEBUAH bangsa mungkin tidak mudah dan tidak akan hancur karena ledakan bom di pelabuhan atau invasi militer di perbatasan. Tapi, bangsa itu pasti akan mati perlahan, dari dalam, ketika ia memutuskan untuk membiarkan para pembentuk jiwanya mati kelaparan sementara para penguasa berpesta di atas meja birokrasi.
Ada ironi yang amat tajam dalam struktur penggajian kita, sebuah belati yang menusuk tepat ke jantung peradaban. Di satu sisi, kita melihat gedung-gedung tinggi tempat para anggota dewan bersidang, mengenakan jas mahal, dan menerima tunjangan yang bahkan sulit dibayangkan oleh rakyat jelata. Di sisi lain, kita melihat seorang guru honorer di pelosok desa, yang dengan sepatu usangnya harus menempuh berkilo-kilometer jalan berlumpur hanya untuk mendapatkan upah yang lebih rendah dari biaya servis mobil dinas seorang pejabat.
Ketika negara memutuskan bahwa suara seorang politisi jauh lebih berharga daripada keringat seorang pendidik, negara tersebut sedang menulis surat kematiannya sendiri. Anggota dewan mungkin membuat hukum, tetapi gurulah yang membentuk manusia yang akan menjalankan hukum tersebut.
Bagaimana mungkin seseorang yang bertugas merakit moralitas dan kecerdasan bangsa diberi “uang lelah” yang bahkan tak cukup untuk membeli beras satu bulan? Jika ini terjadi, atau apakah sudah dan sedang terjadi? Jika ini terjadi, ini bukan sekadar masalah ekonomi, ini adalah penghinaan terhadap martabat intelektual.
Benarkah seorang guru sesungguhnya berinvestasi pada manusia, sedangkan pejabat seringkali hanya berinvestasi pada periode jabatan berikutnya?
Melemahkan guru adalah cara paling efektif untuk menciptakan generasi yang tumpul. Saat seorang guru terpaksa mencari kerja sampingan, dengan menjadi pengemudi ojek, buruh cuci, atau pedagang asongan, fokusnya terbagi. Energi yang seharusnya digunakan untuk merancang metode pembelajaran yang kreatif habis terkuras untuk memikirkan bagaimana cara melunasi hutang warung.
Akibatnya, pendidikan akan menjadi formalitas. Guru mengajar tanpa jiwa karena jiwanya sedang tercekik kebutuhan hidup.
Akibatnya, hilanglah teladan. Anak didik melihat bahwa menjadi pintar dan berbakti (seperti guru mereka) hanya berujung pada kemiskinan, sementara menjadi licin dan pandai bersiasat, seperti mereka para oknum, berujung pada kemewahan.
Akibatnya, erosi kualitas akan terjadi. Anak-anak terbaik bangsa tidak lagi bercita-cita menjadi guru. Mereka lari ke industri yang memanusiakan dompet mereka, meninggalkan ruang kelas diisi oleh mereka yang “terpaksa” mengajar.
Menurut saya, negara yang menggaji gurunya lebih rendah dari anggota dewannya adalah negara yang sedang melakukan bunuh diri kelas. Tidakkah kita sedang membangun menara megah di atas fondasi yang keropos? Tidakkah kita menuntut kualitas pendidikan kelas dunia, namun memberikan apresiasi kelas budak.
Jika hari ini kita membiarkan guru-guru kita merintih dalam diam, jangan terkejut jika besok kita melihat bangsa ini runtuh bukan karena serangan asing, melainkan karena kita telah kehilangan akal sehat dan hati nurani.
Dan, saya sangat khawatir dengan kalimat ini. Dan, saya tidak ingin meyakininya, “Sebuah bangsa yang tidak menghargai gurunya, masihkah layak memiliki masa depan?”*
Susanto, S.S., S.H., M.Hum., M.A., M.H., Ph.D. Ia back to campus sebagai Kepala Pusat Studi Linguistik sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Bandar Lampung (UBL)








selain honor yang kecil, dan beban dan tuntutan guru yang semakin banyak hal ini beban guru semakin berat, sehingga kadang guru mengajar hanya menyampaikan tugas yang penting terlaksana, sehingga keberkahan ilmu yang d sampaikan guru tidak ada lagi, dan jika sdah tidak ada keberkahan dan keridhoan guru dalam menyampaikan ilmu mana mungkin ilmu itu akan sampai k dalam hati peserta didik
Bener sekali, negeri kita sedang tidak baik-baik saja