Kegiatan malam hari masyarakat Indonesia yang disebut ‘ronda’ sudah sangat populer. Tahukah anda, kalau kata ronda itu bukan bahasa Indonesia, melainkan berasal dari kata asing dari Portugis dan bahasa Spanyol ‘ronda’. Aslinya berasal dari kata Latin rotunda. Kemudian bahasa asing itu diserap-masuk ke dalam bahasa Melayu (Induk bahasa Indonesia) yang diartikan sebagai kegiatan berkeliling kampung atau lingkungan di malam hari (sekarang, bisa juga dilakukan siang hari di daerah tertentu). Arti sesungguhnya rotunda atau ronda adalah ‘berkeliling’ (atau istilah sekarangnya ‘patroli’).
“Kejahatan dapat terjadi kapan saja, mencari kelemahan dan kealfaan masyarakat!”
Makna Asal ronda: Secara harfiah, kata ini merujuk pada tindakan berjalan berkeliling. Konteks Sejarah: Istilah ini populer seiring dengan berjalannya waktu dan penggunaan oleh pemerintah kolonial, di mana para penjaga gardu (sering disebut jago) bertugas mengamankan wilayah. Pengaruh: Selain dari Portugis, pengaruh bahasa Belanda juga berperan dalam penggunaan kata ini di Indonesia. Konteks Modern: Meskipun berasal dari bahasa asing, kegiatan ronda telah menjadi tradisi lokal di Indonesia yang digabungkan dengan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling).
Ronda merupakan bentuk partisipasi warga dalam menjaga keamanan lingkungan, sering kali diiringi dengan tradisi jimpitan (iuran warga). Ronda adalah kegiatan jaga malam atau patroli bersama yang dilakukan warga secara bergiliran di tingkat RT/RW untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan lingkungan dari tindak kejahatan. Kegiatan ini, bagian dari Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling), sering dilakukan di pos ronda sambil memupuk rasa kekeluargaan dan gotong royong
Berikut adalah poin penting mengenai ronda:
- Tujuan utama:Menjaga keamanan, mencegah pencurian, dan gangguan keamanan lainnya.
- Waktu & Tempat:Dilakukan pada malam hari, biasanya berpusat di pos ronda atau gardu atau pos kamling.
- Kegiatan:Meliputi patroli berjalan keliling lingkungan, memantau situasi, dan kadang menggunakan kentongan untuk isyarat,
- Nilai Sosial:Menjadi sarana silaturahmi, solidaritas, dan ajang berinteraksi antarwarga.
- Budaya:Sering melibatkan kegiatan sosial seperti jimpitan (sumbangan kecil dari rumah ke rumah).
Ronda menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman (swakarsa). Pos ronda atau pos kamling adalah pos keamanan lingkungan yang dijaga secara bergilir oleh warga (biasanya bapak-bapak) pada malam hari untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan sosial di lingkungan RT/RW, sering dilengkapi kentongan untuk tanda bahaya dan berfungsi sebagai tempat berkumpul serta bersilaturahmi.
Manfaat dari pelaksanaan ronda itu sendiri sangatlah banyak diantara pokok intinya adalah menjaga keamanan dari segala macam tindak kriminal, sebagai upaya antisipasi dalam penanganan masalah yang ditimbulkan karena adanya gangguan keamanan masyarakat dan musibah atauapun bencana alam, Sebagai sarana mempererat.
Bagaimana Menjadikan RondaSebagai Ajang Komunikasi
Dari berbagar literatur dan referensi, bahwa kalau kegiatan ronda itu dapat menjadi ajang interaksi, komunikasi dan kekeluargaan yang dapat menumbuhkan nilai-nilai gotong royong, dan ajang organisasi paling demokratis. Gampang, itu mah.
Ronda itu ada karena beberapa hal pokok: (1) ada wilayah/daerahnya, (2) ada warganya, (3) ada forum musyawarahnya, (4) ada struktur kegiatan yang paling dinamis dan sederhana, (5) ada kesepakatan. Sedang unsur pelaksanaan ronda ada tiga kelompok, yaitu 1. Sebab, 2. Kesadaran, 3. Kebersamaan dalam permusyawaratan mufakat.
Target (tujuan) ronda:
- Meningkatkan rasa aman dan tentram warga
- Menjaga kondisi ketertiban
- Mencegah berbagai bentuk tindakan asosial, amoral, a-arogan, konflik, atau perbuatan orang/kelompok orang yang merugikan orang lain di suatu lingkungan.
Alat Bantu Ronda:
Di samping keliling kampung atau wilayah, ronda harus mempunya alat bantu seperti, yaitu: pos ronda, gardu, pos kamling, kentongan/lonceng, portal, CCTV, daftar/jadwal warga yang akan ronda dan konsumsi saat melakukan ronda serta lainnya sesuai kebutuhan suatu wilayah atau lingkungan.
Bagaimana Membuat Daftar Jadwal Ronda?:
- Pelaksanaan kegiatan ronda yang pertama harus disepakati banyak warga,
- Setelah disusun daftar nama, kemudian diminta pendapat kepada warga secara sampling,
- Tidak semua warga terutama yang sudah berusia di atas 60 tahun atau warga yang kondisi fisiknya sudah menurun dilibatkan dalam daftar jadwal ronda. Warga khusus itu diberi keleluasaan untuk nimbrung setiap saat dengan warga yang ronda di pos ronda atau berkumpul sesekali.
- Sebelum menetapkan jadwal ronda dan dilaksanakan, harus dibicarakan jadwal ‘waktu’ ronda. Apakah perlu adanya pergantian tim ronda setiap malam atau tidak. Misalnya karena aksi kejahatan sering dilakukan sore antara pukul 18.00—21.00 WIB, pukul 03.00—05.00 WIB. Jadwal waktu ronda harus disesuaikan dengan siatuasi dan kondisi demikian, sebab ronda itu intinya “mencegah tindakan kejahatan”.
- Biasanya di suatu wilayah ada pemimpin umum ronda biasanya ditunjuk kepala satuan security, ketua lingkungan atau ketua Rukun Tetangga atau Ketua Rukun Warga atau bisa saja kalau disepakati ditunjuk salah satu tokoh masyarakay yang mempunyai akses komunikasi internal dan eksternal yang lebih luas.
- Karena kegiatan ronda adalah amanah dan diberi tanggungjawab, maka koordinatornya harus dekat dan sesering mungkin berkumpul dengan warga yang ronda, menggali informasi dan harus siap menerima masukan, pendapat, saran dan usulan warga seputar soal menjaga ketertiban lingkungan. Koordinator ronda, siapapun yang ditunjuk benar-benar berfungsi dan berpera agar ronda dapat berjalan dengan baik. Oleh karenanya, masih dibutuhkan susunan (struktur) warga yang akan ikut ronda (dalam daftar ronda). Misalnya Pembina, Penasihat/Sesepuh, Pengawas dan anggota/warga sebagai pelaksana ronda.
- Dalkam sistim ronda yang merupakan bagian dari siskamling “semua warga berkedudukan yang sama dalam melaksanakan ronda, baik ketua RT, Ketua RW, koordinator security (satpam/linmas). “Tidak mengenal pemahaman bahwa ketua RT/RW itu berbeda dengan warga, tidak perlu ikut ronda!”
Kenapa Kegiatan Ronda Itu Tidak Berjalan?
Pasti ada sebabnya, diantaranya:
- Interaksi dan komunikasi sosial antar warga stagnan (kaku)
- Ada praktek yang dijalankan seperti ada ‘atasan’ dan ‘bawahan’ atau ada praktek “tangan besi’ saat menetapkan jadwal ronda, tanpa mendengar masukan, saran dan usulan warga.
- Orang yang dianggap koordinator/bertanggungjwab/yang menyusun daftar ronda, tidak pernah berkumul dengan warga saat ronda.
- Alat komunikasi selalu dimatikan saat malam hari.
- Sering terjadi omongan atau pesan komunikasi yang menyinggung perasaan warga lainnya.
- Ada praktek otoritesme di kalangan warga.
- Jika seorang warga karena pekerjaannya, tidak dapat rutin ikut ronda harus dicari solusi yang paling bijak.
Wajib Cocokkan Jadwal Ronda Dengan Pekerjaan Warga
Yang perlu diperhatikan ketika menetapkan warga yang akan ronda melalui “daftar ronda’ adalah perbedaan pekerjaan warga yang banyak berbeda soal waktu kegiatan masing-masing. Saat melakukan kegiatan keliling, petugas ronda harus memonitor rumah-rumah warga secara menyeluruh. Bukan hanya wilayah tertentu saja yang diawasi. Sebab, ronda itu diartikan berkeliling.
Catatan penting: aksi kejahatan tidak dilakukan secara instan atau spontan. Para pelaku kejahatan sudah pasti sebelum melakukan kejahatannya sudah melakukan “pemetaan wilayah target operasional”. Bahkan, mereka mempunyai cepu di daerah target operasi yang bisa saja cepu itu adalah warga yang juga ikut ronda atau cepupara penjahat itu adalah salah satu anak warga di wilayah operasi kejahatan.
Disusun oleh tim Lampungcentrali.id (LC) dan Pusat Informasi Pedalaman (PIPOP) dari berbagai sumber literatur.







