Kolom

Syamsul Arifien Membangun  Untuk Grup Musik Jamus Kalimasodo

×

Syamsul Arifien Membangun  Untuk Grup Musik Jamus Kalimasodo

Sebarkan artikel ini
Cak Sul bersama Rhoma Irama si Raja dangdut dan Robert Sudarwan. FOTO: ist/LC

Oleh  Robert Sudarwan 

Dijenguk Cak Syamsul Arifien di Jakarta itu jadi teringat dengan bagaimana sajak Umbu Landu yang bertanya “Apa ada angin di Jakarta”, beliau yang juga Ketua LESBUMI PW NU Lampung dan pernah jadi Ketua KPU Lampung Timur ini sedang merintis Majelis Ambengan di Daerah Metro Kibang sebagai salah satu simpul Maiyah di negeri ini. Tidak mudah membangun komunitas yang orientasinya sulit dipahami oleh masyarakat, lingkungan apalagi generasi zaman baru ini. Semangat yang telah di mulai oleh Sang Pendahulu “Mbah Nun” untuk keliling membersamai masyarakat dalam lingkaran Maiyah merupakan sarana penggalian makna dari kehidupan yang kompleks. Disana kita akan berbicara tentang kesejatian dan makna nilai dari yang tampak dan tidak tampak.

Lingkaran Maiyah lebih menguatkan ikatan kami yang melebihi ikatan senioritas di PII dulu atau apapun itu. Kesadaran yang dibangun tanpa ada pamrih selain berbuat untuk karya, Karena disitulah Mbah Nun mengajarkan keseimbangan dalam menempatkan diri pada ruang dan kuadran mana kita berdiri. Cak Sul mengambil dimensi lain dalam ruang hidupnya, untuk memilih melayani kebutuhan dasar masyarakat, dia memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain di angkatan usianya, lingkungannya, ataupun komunitasnya. Kalau untuk sekedar menjadi orang terkenal dan banyak uang, saya yakin tidak sedikit posisi-posisi strategis di beberapa instansi yang datang menawarinya.

Berbekal Grup Musik Jamus Kalimasodo besutannya yang merupakan adik dari Kyai Kanjeng, Cak Sul memulai membangun simpul-simpul Maiyah melalui strategi kebudayaan dengan sudut pandang Dusun pada serba-serbi kehidupan yang jauh berbeda dengan masyarakat kota tentunya. Pastinya ia tidak melulu berbicara soal dalil dan agama, tapi juga akan lebih menyentuh pada dimensi akar nadi kehidupan masyarakat nya. Seperti hal nya tema Ambengan pekan ini ialah; “TANDHUR WAL TANDZUR”, Tandur adalah menanam, musim hujan ini memang saat yang tepat untuk menanam, bisa menanam padi di sawah, bisa menanam palawija, atau menanam benih-benih kebaikan sebagai sedekah amal yg tak berujung. Lalu penjelasan wal Tadzur, tentu akan lebih pas di bahas di Maiyah Dusun Ambengan 18 Februari besok. hehe

Kembali ke Sajak Umbu Landu;

……………..

Apa ada angin di Jakarta

Seperti dilepas desa Melati

Apa cintaku bisa lagi cari

Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku

Terlontar jauh ke sudut kota

Kenangkanlah jua yang celaka

Orang usiran kota raya

………………

Cak, di Jakarta ini ada angin memang, entah segar atau sesak. Mungkin aku hanya polutan dalam kosmofolitan kota ini. Tapi terkadang kita harus berada dalam polutan agar bisa mengerti arti udara segar. Kiranya begitu x Markesot pernah bertutur. Akhirnya “yang diam di dasar jiwamu”, di artikan sebagai idealisme. “terlontar jauh ke sudut kota”. Sy menyadari untuk menjadi waras di Ibu Kota ini memang sulit, dan bertahan dalam kewarasan adalah sesuatu yang menyulitkan. Baik pada dunia karya ataupun dunia kerja, semua tentunya proses.

…………….

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati

…………….

Rumah Hati yang Cak Sul buat bisa jadi adalah perwujudan dari pembangunan nyata masyarakat kita di tengah gumpalan pembangunan yang berfokus di Kota-Kota. Seperti halnya Landu berpesan pada sajak ini bahwa ada ketimpangan sosial dalam kondisi masyarakat kita, jelas diskursus pendidikan kita yang Urban Centris saat ini cenderung mengajak masyarakatnya untuk Hijrah ke Kota. Sedikitnya kesadaran untuk kembali ke desa, kembali ke huma berhati, dan membangun pertanian, mengolah tanah dan menjadi Tuan dalam kedaulatan rumah tangga kecilnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kolom

Oleh Naim Emel Prahana   INI tentang ‘pemaknaan’…