Oleh: Zakia Sarah
Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jurai Siwo Lampung
Pemandangan tumpukan sampah di pasar, selokan yang tersumbat, hingga ruang publik yang kotor masih menjadi persoalan yang mudah dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan semata-mata disebabkan oleh keterbatasan sarana, melainkan juga rendahnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap ruang hidup bersama.
Dalam konteks ini, aksi bersih-bersih yang dipimpin Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, di kawasan Pasar Raya Lebak Budi dan Pasar Pasir Gintung pada 6 Juni 2026 tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi simbol bahwa persoalan lingkungan hanya dapat diselesaikan melalui partisipasi sosial.
Ironisnya, di saat masalah lingkungan semakin kompleks, budaya kerja bakti justru semakin jarang dilakukan. Kesibukan, urbanisasi, dan berkembangnya gaya hidup individualistis perlahan mengikis tradisi gotong royong yang selama ini menjadi identitas masyarakat Indonesia. Padahal, kerja bakti bukan sekadar aktivitas membersihkan lingkungan, melainkan mekanisme sosial yang membangun rasa memiliki terhadap ruang bersama. Berkurangnya praktik kerja bakti sesungguhnya merupakan indikator melemahnya solidaritas sosial.
Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian. Banyak orang menganggap kebersihan sebagai tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan. Cara pandang tersebut melahirkan perilaku pasif dan mengurangi rasa tanggung jawab warga terhadap lingkungan. Akibatnya, masyarakat lebih mudah menuntut pelayanan publik daripada berpartisipasi menyelesaikan persoalan bersama. Padahal, kualitas lingkungan sangat ditentukan oleh kualitas partisipasi masyarakat.
Kerja bakti menawarkan solusi yang jauh melampaui persoalan kebersihan. Dalam perspektif ilmu sosial, kerja bakti merupakan bentuk modal sosial (social capital) yang memperkuat kepercayaan, jaringan sosial, dan norma kerja sama di dalam masyarakat. Semakin tinggi modal sosial suatu komunitas, semakin besar pula kemampuan masyarakat menghadapi berbagai persoalan bersama. Sebaliknya, ketika modal sosial melemah, masyarakat cenderung terfragmentasi, individualistis, dan kehilangan kemampuan menyelesaikan masalah secara kolektif.
Kerja Bakti sebagai Indikator Modal Sosial
Dalam perspektif sosiologi, kerja bakti merupakan manifestasi dari modal sosial (social capital). Robert D. Putnam menjelaskan bahwa modal sosial dibangun oleh tiga unsur utama, yakni kepercayaan (trust), norma sosial (norms), dan jejaring (network). Ketiga unsur tersebut memungkinkan masyarakat bekerja sama secara efektif untuk mencapai tujuan bersama.
Ketika masyarakat masih memiliki budaya kerja bakti yang kuat, sesungguhnya mereka sedang memperkuat modal sosialnya. Sebaliknya, ketika budaya tersebut mulai ditinggalkan, yang melemah bukan sekadar tradisi, melainkan kemampuan masyarakat menyelesaikan persoalan secara kolektif.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa gotong royong menjadi modal sosial yang efektif dalam menyelesaikan persoalan masyarakat, mulai dari pembangunan desa hingga penanggulangan kemiskinan.
Individualisme: Ancaman Baru Kehidupan Bermasyarakat
Perubahan sosial telah mengubah pola interaksi masyarakat. Kehidupan perkotaan, mobilitas tinggi, dan perkembangan teknologi digital menjadikan masyarakat semakin individualistis.
Paradoksnya, semakin mudah seseorang berkomunikasi melalui media sosial, semakin sedikit interaksi sosial yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Tetangga saling mengenal melalui grup WhatsApp, tetapi tidak mengenal kondisi tetangga yang tinggal di sebelah rumah.
Tadjuddin Noer Effendi menyebut bahwa menguatnya individualisme menjadi salah satu penyebab melemahnya budaya gotong royong dalam masyarakat Indonesia. Jika kondisi ini terus berlangsung, masyarakat berpotensi kehilangan kohesi sosial yang selama ini menjadi kekuatan bangsa.
Kerja Bakti sebagai Ruang Komunikasi Sosial
Kerja bakti bukan sekadar aktivitas membersihkan lingkungan, tetapi juga ruang komunikasi sosial. Wilbur Schramm menjelaskan bahwa komunikasi bertujuan membangun shared understanding (kesamaan makna). Sementara Harold D. Lasswell menegaskan bahwa komunikasi memiliki fungsi pewarisan nilai sosial (transmission of social heritage).
Artinya, ketika masyarakat berkumpul dalam kerja bakti, sesungguhnya mereka sedang membangun kesepahaman, memperkuat kepercayaan, menyelesaikan konflik, dan mewariskan nilai gotong royong kepada generasi berikutnya. Dalam konteks ini, kerja bakti merupakan media pendidikan sosial yang tidak dapat digantikan oleh komunikasi digital.
Kerja Bakti dan Perspektif Islam
Islam memberikan landasan moral yang kuat terhadap budaya gotong royong. Allah SWT berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2).
Ayat tersebut menunjukan bahwa Islam mendorong umatnya untuk saling membantu dalam segala bentuk kebaikan. Kerja bakti merupakan salah satu wujud dari perintah tersebut karena masyarakat bekerja sama untuk menjaga kebersihan lingkungan, memperbaiki fasilitas umum, serta menciptakan kenyamanan bagi seluruh masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat secara fisik, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat
Rasulullah SAW juga bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa kerja bakti bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari implementasi ajaran Islam mengenai ukhuwah, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Kajian akademik kontemporer juga menunjukkan bahwa konsep gotong royong memiliki kesesuaian yang kuat dengan prinsip ta’awun (tolong-menolong) dalam Islam.
Revitalisasi Kerja Bakti sebagai Kebijakan Sosial.
Pemerintah tidak cukup hanya memperbanyak petugas kebersihan atau menyediakan infrastruktur persampahan. Yang lebih penting adalah membangun budaya partisipasi masyarakat.
Karena itu, revitalisasi kerja bakti harus ditempatkan sebagai kebijakan sosial. Pemerintah daerah dapat mengintegrasikan kerja bakti dengan program kampung bersih, pendidikan karakter di sekolah, organisasi kepemudaan, serta pemberdayaan RT/RW.
Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur yang dibangun, tetapi juga dari seberapa kuat solidaritas sosial masyarakatnya.
Penutup
Kerja bakti sesungguhnya bukan persoalan menyapu jalan, mengangkut sampah, atau membersihkan saluran air. Lebih dari itu, kerja bakti merupakan mekanisme sosial yang menjaga kepercayaan, komunikasi, dan solidaritas masyarakat.
Ketika kerja bakti mulai ditinggalkan, sesungguhnya yang sedang hilang bukan hanya budaya gotong royong, tetapi juga modal sosial bangsa. Oleh karena itu, kerja bakti tidak lagi layak dipandang sebagai tradisi turun-temurun. Di tengah meningkatnya individualisme dan melemahnya kepedulian sosial, kerja bakti telah menjadi keniscayaan sosial yang menentukan kualitas kehidupan bermasyarakat di masa depan. (Kontributor UIN Jusila)







