Artikel

Diturunkan Di Persimpangan Jalan Malam

×

Diturunkan Di Persimpangan Jalan Malam

Sebarkan artikel ini
Diturunkan di tengah malam di tempat yang sepi

Oleh : Naim Emel Prahana

 

Memimpikan perjalanan indah ke suatu tujuan mungkin menjadi mimpi banyak orang. Di mana orang-orang membayangkan suatu pemandangan yang belum didatangi, tetapi sudah ada dalam imajinasinya. Atau mereka akan gusar manakala tahu battery ponselnya tinggal segaris. Rasa takut tak dapat mengabadikan bagian-bagian suasana selama perjalanan tidak terekam.

Apalagi sekarang, pilihan untuk melakukan perjalanan sangat banyak. Bisa saja menggunakan mobil pribadi, jika status ekonomi sosial mereka lumayan atau menggunakan jasa travel. Mungkin, banyak diantaranya menggunakan pesawat terbang, kereta api atau kapal laut. Sangat boleh, tergantung tebal tipisnya isi kantong celana, atau berat ringannya isi kartu ATM.

Sesungguhnya itu adalah trik untuk melakukan perjalanan yang penuh dengan kenangan dikemudian harinya. Yang jelas perjalanan yang aku katakan di atas pastilah perjalanan, bukan untuk mencari cuan seperti kanal-kanal youtuber yang khusus mengeksplore tempat tertentu, suasana perjalanan dengan angkutan umum mewah.

Tetapi, perjalanan yang memang dilakukan bukan untuk medapat nilai ekonomis semata dengan cara-cara eksplore suasana tertentu yang menyembunyikan sponsor tertentu. Ini pernjalanan nyata secara privat, masuk ke dalam kantong-kantong sosial. Di mana aturan dan kompromi itu, sering tidak diacuhkan.

Maka, rekaman perjalanannya menjadi nyata, bahwa di balik narasi suasana yang direkam banyak “pencari cuan” melalui kanal-kanal youtube mereka, terhampar kondisi yang sesungguhnya, jika tidak siap maka akan dilalap oleh dampak dan realitas sosial masyarakat yang benar-benar seperti akan-akan pepohonan saling bersentuhan. Sudah merambah menjadi ancaman ketika kondisi terus tergerus oleh narasi formalitas para pejabat penguasa dan pengusaha.

Inilah yang aku temukan sepanjang perjalanan, siang atau malam. Di kota atau di pedesaan dan antara keduanya seperti gedung-gedung beton menjulang tinggi, di bawahnya berhampuran rumah-rumah seadanya. Jalan-jalan becek, sampah dan dikurung oleh budaya baru sebagai bentuk dari dampak makin melebar jurang antara pemerintah dan rakyatnya.

Teori apa, yang akan kita paparkan dengan lantang dengan sumbang, sekedar memberi gambaran kalau masyarakat secara umum itu “baik-baik saja”. Untuk menjawab tantangan itu, lakukanlah perjalanan tanpa sponsor tan rekomendasi atau legalisir dari pihak-pihak tertentu. Anda akan menembukan jawaban konkrit bahwa 1 + 1 itu pasti ‘dua’. Jangan pakai retorika, matematika, filsafat, pemeriksaan berkas administrasi ala BPK, KPK, Polisi, Kejaksaan atau SPJ pemerintah sesuai jenjangnya.

Pakai saja realita sosial. Kita akan menjadi pemimpin yang sangat bijak dan terhormat, ketika ada niat dan keinginan untuk menjadi pemimpin di struktur pemerintahan, di DPR—DPRD atau jadi pemimpin di perusahaan-perusahaan. Anda atau kita akan menjadi pemimpin bukan “ngember!”.

Salah satu contoh bagaimana untuk mengetahui bahwa banyak aturan, komunikasi sosial dan gambaran-gambaran kehidupan itu pada kenyataannya (pakai aja terori lainnya), di tatanan sosial kemasyarakat, tidak diberlakukan. Apa yang diberlakukan adalah perjanjian-perjanjian khusus yang penuh dengan kekhususan lainnya hidup sudah menjadi alat untuk berhomo homini lopus.

Saya melakukan perjalanan malam dari Cirebon menuju kota pelabuhan Merak, Banten belum lama ini. Dalam komunikasi dengan pekerja di angkutan umum katakanlah sopir dan kondektur (atau kernetnya) sudah tercantum trayek yang dilalui itu bermula dari kota Cirebon berakhir di Merak. Tarifnya Rp 120 ribu dengan tambahan keterangan perjalanan malam itu langsung ke Merak—akhir tujuan.

Tentu, aku dan penumpang lain sangat-sangat ‘ok’, perjalanan dilanjutkan. Sebuah tas ransel, satu bungkusan berisi buah mangga oleh-oleh dari seorang teman dan air mineral. Bus malam tujuan Merak berjalan apik, kendati mereka mengabaikan waktu. Aku masih maklum, karena mereka juga mencari ‘seseran’, di mana-mana berhenti menunggu kalau-kalau ada penumpang lagi.

Itulah keadaan normalnya. Kenyamanan berlangsung berjam-jam, tidak ada gangguang. Paling-paling ketika ngetem (istilah menyebut berhenti di suatu tempat, mencari tambahan penumpang) ada penjual tahu, air mineral dan permen masuk ke dalam bus. Kondisi tetap kondusif, mereka juga mencari nafkah seperti para sopir, kondektur dan kernet bus.

Aku sering melakukan perjalanan, apalagi untuk mengunjungi suatu kegiatan atau teman lama yang sudah jarang bertemu. Kadang-kadang harus menempuh waktu berhari-hari, bahkan juga harus berganti-ganti kendaraan tumpangan. Dari yang mewah sampai yang biasa saja. Banyak ragam aksi dan prilaku yang aku temui, bahkan sampai beberapa kali berhadapan langsung dengan para kriminal jalanan dengan aksi arogan mereka.

Alhamdulillah semua dapat diatasi, tidak perlu bersitegang dan tidak perlu mengeluarkan uang untuk menyelesaikan persoalan seperti itu.

Malam kemarin, sejujurnya aku ingin memberontak akan perlakuan yang tiba-tiba menelantarku di tengah jalanan sepi di waktu malam menjelang subuh. Namun, aku teringat ucapan sahabat sejatiku di Cirebon yang mengatakan perbedaan seseorang dengan yang lain itu, diantaranya ada pada tingkat kesabaran. Baik, aku menyetujui filosofi sahabat itu.

Lagi asyik tidur, aku dibangunkan kondektur dan berkata sangat arogan. Katanya turun di persimpangan jalan di Cilegon di tengah malam menjelang subuh. Sejenak aku mendebatkannya, menyampaikan perjanjian awal di Cirebon bahwa mobil baru berhenti (tujuan akhir) di Terminal Merak. Namun, debat dan pledoiku tak digubris. Memang sih, dia tidak melakukan tindakan fisik seperti menyeret dan sebagainya.

“Silakan turun, Pak!” kata kondektur dengan ketus. Sejenak aku tertiam, maklum baru bangun dari tidur.

“Turun di sini, kami mau mutar balik,” kata dia memerintah.

“Gila kalian!” ujarku sambil melangkah ke luar bus. Kata-kataku itu tidak digubris, ketika aku sudah di jalan dan kondektur itu mau naik ke dalam bus lagi. Tanganku reflek memegang tangan sang kondektur itu dengan cengkraman kuat.

“Tunggu, kembalikan ongkosku karena kalian sudah inkar,” kataku makin tegas di tengah malam itu. Pada saat yang sama suasana di persimpangan sepi, yang ada hanya lalulalang truk-truk berukuran  besar dan mobil pikap pengangkut dagangan.

Aku tak merasa takut di daerah itu, karena bagiku dari itu sering aku kunjungi dan melintasinya. Hanya, diturunkans ecara arogan itu, aku tidak terima sama sekali. Alhasil, karena cengraman tanganku begitu nyata, si kondektur mengembalikan uangku, lalu dia menutup pintu bus dan bus ngacir kembali ke arah Serang. Pertanyaannya, “Adakah hukum disaat begitu?”

Hukum tertulis sebagaimana mengatur trayek angkutan umum, tentang tarif, tentang pelanggaran dan ketidaknyamanan pernumpang dari kru bus angkutan? Yang ada adalah hukum rimba walau di sana bukan di rimba walau di dekat alun-alun kota Cilegon.

“Emang aku pikir soal traktat demikian,” aku berguma sambil melangkah menyeberang jalan karena di seberang jalan itu ada penjual bubur grobakan. Hitung-hitung kalau ada penjahat, mereka akan mikir aku tidak sendirian. Ha ha ha ha ha.

Sambil bertanya dalam hati, bagaimana kalau yang diperlakukan itu anak gadis, pelajar atau mahasiswi, orang tua yang tidak tahu menahu situasi di mana mereka diturunkan tengah malam. Anda mau menjawab pakai apa? Pakai KUHP, KUHAP, UUD 1945 atau kumpulan pidato presiden atau melihat UU tentang fungsi, wewenang dan tugas anggota polisi?

“Ah, itu mimpi. Mimpi beneran yang diagungkan para penguasa sampai saat ini!”

“Kalian mau lapor ke polisi, kantor polisi di mana. Kalau ada, ada gak yang jaga atau nunggu mobil patroli polisi atau petugas LLAJR yang khusus mengontrol lalulintas angkutan umum dan jalan raya.

“Itu hanya mimpi di Indonesia, bukan Singapura!”

 

Cilegon, 30 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.