Sastra dan Budaya

Kenangan Indah Dari Pameran Antologi Puisi Penyair Indonesia

×

Kenangan Indah Dari Pameran Antologi Puisi Penyair Indonesia

Sebarkan artikel ini
Para penyair berkumpul di Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia di Indramanyu, Jawa Barat 27-28 Juni 2026. FOTO: NEP/LC

Catatan Perjalanan: Naim Emel Prahana

 

INDRAMANYU—Pameran Antologi Puisi yang dilaksanakan di markas Sastra Indonesia Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia yang dihelat tanggal 27—28 Juni 2026, harus diakui sebagai salah satu langkah maju untuk mendokumentasikan karya-karya para sastrawan khususnya para penyair seluruh tanah air.

Beragam komentar tentang “Pameran Antologi Puisi 2026” mengalir bagai irama musik yang sangat dinikmati dihampir semua kalangan. Setidak-tidaknya para penyair yang menyertakan antologi puisi mereka, tidak dapat dilepaskan dari keinginan yang serius untuk bagaimana upaya menghargai, memelihara dan mendokumentasikan karya-karya puisi para penyair. Jangan sampai habis diterbit lalu hilang dari penglihatan masyarakat.

Hal itu dilakukan oleh Agus Swasono (Rg Bagus Swasono) yang dibantu oleh Wawan Hamzah Arfan dan kawan-kawan penyair yang telah terhubung dengan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Indramanyu. Untuk melakukan hal itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Bagaimana perjuangan dahsyat Rg Bagus Swasono untuk menghadirkan suasana sastra di tengah terjangan pemikiran instan karena kemudahan yang ditampilkan oleh teknologi digital dewasa ini.

Di sini, aku tidak mengupas soal kualitas di dalam 100-an buku antologi yang dipamerkan. Namun, lebih menitik beratkan menyambung upaya tak kenal lelah dari Lumbung Puisi Sastrawan, agar karya-karya puisi para penyair dapat dipelihara, dikumpulkan dan dijadikan basis literasi.

Nilai perjuangannya tak dapat diukur oleh perdebatan untuk menghadirkan kumpulan puisi dalam sebuah buku. Apalagi, disaat sekarang. Kita tak dapat mengukur perjuangan itu dari cover antologi atau dari bagusnya hasil cetakan. Perjuangan mempunyai intisari tersendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Bagus Swasono di Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

Adalah sangat sulit untuk menemukan sepak terjang Bagus Swasono dengan ‘kemandiriannya’ untuk memberikan kontribusi tak terhadap pada dunia literasi, untuk disodorkan pada masa berikutnya. Di mana, upaya untuk menjamu para sastrawan terkhusus para peminat sastra di Lumbung bukan persoalan yang mudah. Tapi, semuanya dapat dilakukan oleh Bagus Swasono tanpa mengharapkan imbalan apapun dari siapapun.

Perjamuan dan acara yang sederhana gaungnya meledak-ledak keseantero Indonesia. Kalau bukan orang yang sangat piawai mengemasnya, tentu akan mengalami kesulitan sangat berarti. Tapi, Rg Bagus Swasono tetap santai, tertawa tak ada keluh kesah tak ada yang harus dibedakan. Keterbukaan akhirnya menjadi kualitas sebagai pemerhati dunia sastra.

“Saya pikir mas Rg Bagtus Swasono sangat mengedepankan nilai persahabatan untuk dijadikan jembatan menuju dunia yang lebih transparan!”

“Selamat datang, siapapun dari manapun selalu terbuka disambut dengan tangan terbuka. Luar biasa mas Bagus!”

Aku memang berpikir, mas Rg Bagus Swasono dan Wawan Hamzah Arfah telah memberikan warna tersendiri pada dunia sastra saat ini. Tidak lagi monoton, tidak lagi orderan dan tidak lagi ada tembok pembatas. Pada akhirnya, di kalangan dunia pendidikan sangat berasa berada di Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia mendapat pelajaran “penuh makan”. Kepala sekolah, Guru-guru, murid, seniman dari berbagai bidang dan masyarakat lain harus memetik buah dari kehadiran mereka di Indramanyu.

Tentang, ada hal terlupakan, itu sangat manusiawi sekali. Yang penting intinya tetap menyala dan dirasakan oleh semua orang. Terima kasih mas Bagus Swasono dan mas Wawan Hamzah Arfah atas sambutan, pelayanan dan rasa kekeluargaan yang diciptakan, khususnya untuk kehadiranku. Dan, tak lupa sampaikan salam hangatku untuk; Bambang Widiatmoko, Dodi Ahmad Fauzi, Juniarso, Yoga, Wardjito, Ade Sumarna, Budi Waluyo, Acep Syahril, Slamet Suryadi Irmansyah, Enthih Mudhakir, Law Pau Phin, Syaiyidin, makyu Barokah Nawawi, Sri Sunarti, Sartika, Sri Wahyuni, Rita HB Yassin, dan kalu ada yang terlupakan—sampaikan maafku tak menyebut nama-nama mereka. (Naim Emel Prahana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.