Artikel

Intervensi Birokrasi Dinilai Cederai Demokrasi Kampus

×

Intervensi Birokrasi Dinilai Cederai Demokrasi Kampus

Sebarkan artikel ini

Oleh : Arlyan Pramana Syah Putra
‎

‎Menyoroti Pesta demokrasi yang dilaksanakan oleh UIN Jusila yaitu melalui sistem pemilihan Kongres (delegasi) utusan dari tiap – tiap Fakultas dan Jurusan masing-masing, mengutus mahasiswa dari sebagai audiens hadirinnya.
‎
‎Kongres yang dilaksanakan selama 2 hari ini meliputi 2 hal pemilihan 1. Pemilihan Sema-U (Senat Mahasiswa) Universitas 2. Dema-U (Dewan Eksekutif Mahasiswa) Universitas, yang dimana harusnya menjadi acara pemilihan ini menjadi sarana untuk menghidupkan kembali demokrasi yang ada di kampus setelah sekian lama vakum. Tapi kenyataannya yang terjadi adalah kegagalan dalam pelaksanaannya jauh dari kata lancar dan fair.
‎
‎Banyaknya kecacatan regulasi yang terjadi, pelaksanaan yang terburu buru karena kurangnya persiapan dari panitia pelaksana, adanya pihak – pihak dosen terkait yang ikut campur dalam urusan mahasiswa, serta keikutsertaan pihak eksternal (polisi) yang ikut tergabung dalam berjalannya acara tersebut.
‎
‎Kampus adalah miniatur negara, artinya butuh pemerintahan dari atas, secara ORMAWA (Universitas) sampai dengan bawah (Jurusan) Sema-U adalah yang membidangi bidang Legislatif dan Dema-U adalah bidang Eksekutifnya.
‎
‎Saya sebagai alumni UIN Jusila menyayangkan adanya kejadian tersebut dan juga peran dan kapasitas Wakil Rektor lll perlu dipertanyakan sebenarnya berada di pihak mana?
‎‎
Berada di kepentingan sebagian golongan atau memang benar berada pada sesuai tupoksinya yaitu bidang Kemahasiswaan dan Alumni? Itu tanda tanya besar sebagai pimpinan, sebagai tenaga pengajar harusnya kita bisa bersikap netral dan transparan.
‎

‎Wajar saja terjadinya kericuhan saat berjalannya proses pemilihan karena memang dinilai dari awal cacat prosedur dan tidak transparan.
‎
‎Lalu yang kedua kenapa sampai ada pihak kepolisian hadir? Apakah para mahasiswa akan melakukan tindak pidana? Tingkat pengamanan tertinggi di kampus, di ranah akademisi itu cukup lah satpam apalagi ada Menwa (Resimen Mahasiswa) itu sudah lebih dari cukup, kenapa sampai harus ada pihak aparat yang masuk ke dalam ruang lingkup pendidikan? Itu justru menimbulkan framing yang tidak bagus untuk kampus itu sendiri artinya menandakan kampus UIN Jusila tidak aman atau tidak ramah bagi mahasiswanya.
‎
‎Ini jelas berbahaya kenapa? Tidak lama lagi pasti akan ada penerimaan mahasiswa baru, jadi jangan sampai branding value kampus UIN Jusila buruk di mata para pendaftar yang ingin berkuliah disana, akibatnya nanti menurunnya atau minimnya pendaftar di kampus UIN Jusila.
‎
‎Harapan saya sebagai alumni sekaligus Kepala Bidang Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan HMI Cabang Metro, jelas ingin yang terbaik terhadap seluruh pimpinan dan para pihak terkait cepat temukan titik jelas dalam permasalahan ini, dikarenakan jika kita terlalu berlarut-larut dalam permasalahan ini menjadi bom waktu untuk UIN Jusila sendiri baik dimata internal (mahasiswa) ataupun eksternal (masyarakat).

Tetapi jika memang Wakil Rektor lll tidak bisa mengambil sikap yang adil untuk para mahasiswa yang berkompetisi demi keberlangsungan aktivitas ORMAWA di tingkat Universitas, lebih baik mundur saja.

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.