METRO, (LC)–Komunitas Literasi Lenteraku kembali menyelenggarakan program diskusi publik LenteraTalk dengan mengangkat tema “Pencegahan Bullying dan Kesehatan Masyarakat”, Sabtu (25/7/2026). Webinar yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut menghadirkan Efa Septiana, STr.Keb, MKes., dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung, sebagai narasumber dan dipandu oleh Ulfa Tsamroturrofiqoh, mahasiswa Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) UIN Jurai Siwo Lampung. Kegiatan ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, pegiat sosial, serta masyarakat dari berbagai daerah yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental, literasi digital, dan perlindungan masyarakat dari praktik perundungan.
Ketua penyelenggara menjelaskan bahwa LenteraTalk merupakan program rutin Komunitas Literasi Lenteraku yang dirancang sebagai ruang berbagi pengetahuan, bertukar gagasan, serta membangun kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang di era digital. Melalui forum ini, peserta tidak hanya memperoleh informasi akademik, tetapi juga diajak memahami solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tema mengenai bullying dipilih karena kasus perundungan, terutama di ruang digital, terus meningkat dan menimbulkan dampak yang semakin luas terhadap kesehatan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Efa Septiana menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi. Di balik kemudahan berkomunikasi, muncul tantangan baru berupa cyberbullying atau perundungan siber yang kini menjadi salah satu ancaman serius terhadap kesehatan mental.
“Cyberbullying bukan sekadar komentar negatif atau candaan di media sosial. Tindakan ini merupakan bentuk kekerasan psikologis yang dilakukan melalui ruang digital, baik dalam bentuk penghinaan, pelecehan, penyebaran fitnah, intimidasi, maupun penyebaran informasi yang mempermalukan seseorang. Dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama karena jejak digital sulit dihapus,” ujar Efa.
Menurutnya, media sosial yang seharusnya menjadi ruang untuk bertukar informasi justru kerap dimanfaatkan sebagai sarana melakukan kekerasan verbal. Pelaku sering kali merasa aman karena berada di balik layar, sedangkan korban harus menanggung tekanan psikologis yang tidak terlihat secara langsung. Kondisi tersebut menyebabkan banyak korban memilih diam, menarik diri dari lingkungan sosial, bahkan enggan menyampaikan pengalaman yang dialaminya.
Efa menjelaskan bahwa dampak cyberbullying tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat secara umum. Korban dapat mengalami kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, gangguan tidur, penurunan konsentrasi, depresi, hingga muncul keinginan mengisolasi diri dari lingkungan sekitar. Dalam sejumlah kasus, tekanan psikologis yang berlangsung dalam waktu lama bahkan berpotensi memicu tindakan yang membahayakan diri sendiri.
“Ketika seseorang mengalami perundungan secara terus-menerus, tubuh akan merespons dengan stres berkepanjangan. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, kesehatan mental akan terganggu dan pada akhirnya memengaruhi kesehatan fisik. Oleh karena itu, bullying harus dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat, bukan sekadar konflik antarindividu,” katanya.
Lebih lanjut, Efa menekankan bahwa pencegahan bullying merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, keluarga menjadi lingkungan pertama yang harus menanamkan nilai empati, sekolah dan perguruan tinggi perlu membangun budaya saling menghormati, sedangkan masyarakat harus berani menciptakan ruang digital yang aman dan bebas dari kekerasan verbal. Ia juga mengingatkan bahwa setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab moral atas setiap konten yang diunggah maupun disebarluaskan.
“Jangan pernah berpikir bahwa satu komentar kasar tidak akan berdampak. Bagi pelaku mungkin hanya beberapa detik untuk mengetik, tetapi bagi korban luka psikologisnya bisa bertahan bertahun-tahun. Karena itu, sebelum menulis, berhentilah sejenak dan pikirkan apakah kalimat tersebut akan menyakiti orang lain atau tidak,” tegasnya.
Selain membahas dampak bullying, narasumber juga menguraikan pentingnya meningkatkan literasi digital sebagai langkah preventif. Menurutnya, masyarakat perlu memahami etika bermedia, mampu memilah informasi, menghargai privasi orang lain, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis sebelum memberikan respons di ruang digital. Ia menilai bahwa kecakapan digital harus berjalan beriringan dengan kecerdasan emosional agar teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan sosial.
“Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan gawai atau media sosial. Yang lebih penting adalah kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, beretika, dan menghormati martabat sesama manusia. Semakin tinggi literasi digital masyarakat, semakin kecil peluang terjadinya cyberbullying,” ungkapnya.
Diskusi berlangsung interaktif. Peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, dan pegiat sosial aktif menyampaikan pertanyaan mengenai mekanisme pendampingan korban, strategi membangun ketahanan mental remaja, hingga peran komunitas dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Sejumlah peserta juga berbagi pengalaman terkait kasus perundungan yang mereka temui di lingkungan pendidikan maupun media sosial. Narasumber menanggapi setiap pertanyaan dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari keluarga, institusi pendidikan, pemerintah, tenaga kesehatan, hingga komunitas literasi dalam membangun budaya komunikasi yang lebih sehat.
Menutup kegiatan, moderator Ulfa Tsamroturrofiqoh mengajak seluruh peserta menjadikan hasil diskusi sebagai langkah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap LenteraTalk tidak hanya menjadi forum berbagi ilmu, tetapi juga mampu melahirkan gerakan sosial yang mendorong terciptanya ruang digital yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.
“Perubahan selalu dimulai dari diri sendiri. Jika setiap orang memilih untuk menyebarkan empati, menghargai perbedaan, dan menggunakan media sosial secara bijaksana, kita sedang membangun lingkungan yang lebih sehat bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang,” pungkasnya. (LC-01)









