Oleh: Susanto Saman
Di bawah langit Sang Bumi Ruwa Jurai, identitas bukanlah sekadar artefak yang membeku dalam etalase sejarah. Ia adalah akar yang merambat jauh ke dalam palung sanubari, menghidupi falsafah Piil Pesenggiri, sebuah komitmen agung tentang harga diri, kehormatan, dan keluhuran budi yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.
Melalui titah Instruksi Gubernur, setiap hari Kamis, kita dipanggil untuk pulang ke rumah tradisi. Kita tidak hanya mengenakan helaian kain Tapis atau motif Batik Lampung, Kita sedang mengenakan identitas yang ditenun dengan doa dan harapan para leluhur. Namun, pertanyaannya, “Mampukah kain-kain itu bicara, ataukah ia hanya sekadar bungkus formalitas yang bisu?”
Membumikan bahasa, langitkan adat
Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita resapi detak jantung tanah ini melalui bahasanya. Dalam bahasa Lampung, kita mengenal istilah “Khukun Belajakh” (Rukun Belajar/Bersekolah). Di sekolah, kita tidak hanya mencari angka, tapi mencari makna.
Budaya Lampung bukan sekadar artefak diam, melainkan ruh yang tegak di atas empat pilar Kemuakhian (Persaudaraan) yang saling mengunci. Keagungan ini bermula dari Nemui Nyimah, sebuah manifestasi kemurahan hati dan santunnya budi dalam menyambut siapa pun yang datang. Keluhuran tersebut kemudian berkelindan dengan Nengah Nyappur, sebuah kecakapan intelektual dan sosial untuk bergaul serta membuka diri terhadap cakrawala dunia tanpa kehilangan jati diri. Di dalamnya, denyut nadi Sakai Sambayan senantiasa berdetak, menggerakkan semangat gotong royong yang tulus demi kemaslahatan bersama. Puncaknya, semua nilai ini bermuara pada Juluk Adok, sebuah janji setia untuk menjaga martabat, kehormatan, serta gelar yang disematkan sebagai amanah moral yang suci.
Satgas Kamis Beradat sebagai Sang Penjaga Api
Bagi institusi pendidikan, instruksi ini adalah sebuah Laboratorium Mental. Di sinilah karakter “beradat” ditempa sebelum para siswa melayari samudera global yang tak bertepi. Di titik inilah, Satgas Kamis Beradat sebaiknya lahir bukan sebagai algojo aturan, melainkan sebagai Duta Siger.
Jika Siger adalah mahkota kemuliaan, maka Satgas adalah penjaga cahayanya. Mereka memastikan bahwa Tapis yang melingkar di pinggang bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat agar langkah kaki selalu terjaga dalam etika. Di tangan siswa sendiri, pesan “Bangga Berbudaya” akan mengalir lebih organik, lebih “relatable”, dan jauh dari kesan purba.
Agar tidak terjebak dalam kaku-nya sekat birokrasi, Satgas ini harus berevolusi menjadi jantung mekanis yang memompa kreativitas melalui tiga arteri utama. Dimulai dari Divisi Literasi (Wakhita), yang bertugas membangunkan filosofi-filosofi agung yang selama ini tertidur di balik lekuk motif Tapis, lalu menyuarakannya kembali lewat narasi digital yang memikat bagi generasi penjelajah layar. Napas ini diperkuat oleh Divisi Etika (Tata Krama) sebagai cermin hidup. Mereka adalah personifikasi nyata bahwa menjadi modern tidak berarti harus tanggal dari akar kesantunan, melainkan tampil dengan ketegasan sikap yang dibalut kelembutan tutur kata. Seluruh simfoni ini kemudian disempurnakan oleh Divisi Kreatif (Daya Cipta) yang bertugas menerjemahkan tradisi ke dalam bahasa visual Gen-Z yang estetik. Lewat tangan mereka, mengenakan atribut adat bukan lagi sebuah beban administratif yang menyesakkan, melainkan sebuah pernyataan gaya hidup, sebuah muara tempat keanggunan masa lalu bertemu dengan gairah masa kini.
Adat dihargai karena nilai kebaikannya, bukan ditakuti karena hukumannya. Satgas akan gugur tugasnya jika hanya menjadi “polisi seragam” yang sibuk mencatat pelanggaran. Keberhasilan sejati adalah ketika seorang siswa berdiri di depan cermin, merapikan Tapisnya, dan merasa berdaulat atas jati dirinya.
Kita tidak hanya sedang menjalankan instruksi gubernur. Kita sedang menyalakan pelita di beranda sekolah agar cahaya Lampung tetap benderang di peta peradaban dunia. Karena pada akhirnya, “Adat muakha, bangso muliya”, ketika adat terpelihara, maka mulialah bangsa itu.
(Penulis adalah dosen bahasa di Universitas Bandar Lampung)







