Artikel

Seni Mengurai Kusut dalam Kehidupan

×

Seni Mengurai Kusut dalam Kehidupan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nurul Hidayah

Alumni KPI IAIN Metro 2018

Kehidupan seringkali menyapa kita dengan wajah yang tak terduga. Terkadang, ia datang serupa segulung benang yang ruwet, berwarna-warni, saling silang, dan terikat dalam simpul-simpul yang menyesakkan dada.

Merah melambangkan amarah yang tertahan, biru merepresentasikan kesedihan yang mendalam, kuning adalah kecemasan akan masa depan, dan hitam mungkin adalah bayang-bayang kegagalan masa lalu.

Semua warna itu berbaur menjadi satu bulatan besar yang tampak mustahil untuk diurai. Dalam pandangan manusia yang terbatas, kekacauan ini sering dianggap sebagai akhir dari segalanya, sebuah jalan buntu yang hanya menyisakan keputusasaan.

Namun, jika kita mau sedikit menepi dan melihat dengan mata hati, sesungguhnya kekacauan tersebut adalah bahan baku dari sebuah mahakarya. Persis seperti seorang pengrajin rajut yang handal, langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah memotong benang yang kusut itu, melainkan mengurainya dengan kesabaran yang tak bertepi. Kita perlu memisahkan warna demi warna, mengidentifikasi setiap masalah satu per satu, dan meletakkannya pada tempat yang semestinya. Proses “pemilahan” ini adalah fase kritis dimana kedewasaan spiritual dan emosional kita diuji.

Menurut perspektif iman, setiap kekusutan yang kita hadapi telah diukur dengan saksama oleh Sang Pencipta. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6. Ayat ini menggunakan kata ‘ma’a’ yang berarti “bersama”.

Artinya, kemudahan itu tidak datang jauh setelah kesulitan, melainkan ia melekat atau berada di dalam kesulitan itu sendiri. Sama halnya dengan benang kusut; potensi menjadi kain rajut yang indah sudah ada sejak benang itu masih berantakan. Tugas kita hanyalah “mengurai” kesulitan itu melalui manajemen yang diajarkan oleh-Nya.
Nabi Muhammad SAW juga bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kekhawatiran dan kesedihan, gangguan dan kesusahan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya.”

Hadits ini mengajarkan kita bahwa proses mengurai masalah bukan sekadar urusan teknis duniawi, melainkan sebuah perjalanan penyucian jiwa.

Setiap tarikan benang yang berat adalah penggugur khilaf, dan setiap keberhasilan memisahkan satu warna masalah adalah bentuk pertolongan Allah (Ma’unah) yang nyata.

Ketika benang-benang itu telah terurai dan diletakkan dalam wadah yang rapi, mulailah proses perajutan. Manajemen Allah tidak membuang masalah-masalah kita, melainkan mengaturnya kembali dalam harmoni yang baru. Warna-warna yang tadinya tampak bertabrakan kini disatukan dengan pola yang terencana. Kesedihan dipadukan dengan ketabahan, dan ujian dipadukan dengan syukur.

Hasilnya bukan lagi sekadar bulatan benang, melainkan sehelai kain rajut yang hangat, cantik, dan memiliki nilai guna bahkan nilai jual yang tinggi.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah bentangan kain yang sedang ditenun oleh tangan-tangan takdir di bawah bimbingan Ilahi.

Jangan pernah membenci kekusutan yang saat ini sedang melilit hari-harimu. Terimalah ia sebagai tantangan untuk belajar tentang ketelitian dan kepasrahan. Sebab, tanpa benang yang ruwet itu, kita tak akan pernah memiliki bahan untuk menciptakan sesuatu yang indah.

Jadilah jiwa yang tenang saat jari-jemari kehidupan sedang memilah setiap bebanmu. Percayalah bahwa Allah adalah Sang Desainer terbaik. Di balik setiap simpul yang sulit dibuka, ada jemari rahmat-Nya yang sedang bekerja.

Kelak, saat semua telah terajut sempurna, kita akan menoleh ke belakang dan tersenyum, menyadari bahwa setiap kerumitan yang dulu kita tangisi, kini telah menjelma menjadi sebuah simfoni warna yang menakjubkan dalam kanvas sejarah hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.