KolomPendidikan

Susanto Saman,  Sosok Pemburu Ilmu dan Doktor Linguistik dan Fonetik

×

Susanto Saman,  Sosok Pemburu Ilmu dan Doktor Linguistik dan Fonetik

Sebarkan artikel ini
Susanto, S.S., S.H., M.Hum., M.A., M.H., Ph.D

GAK jauh dengan pepatah, “semakin tinggi ilmu seseorang, semakin santun dan sederhana!”. Agak bingung mulai menulis sosok hebat ini, dari mana mulainya. Karena, sosok yang akan kita bicarakan di bulan penghujung Desember 2025 ini, luar biasa.

Boleh dibilang sosok ini sangat kaya raya dalam arti kebahagiaan sebagai pembawaan dirinya di tengah masyarakat. Jangan bicara soal supel, ceria, enerjik dan selalu ingin berkomunikasi dengan siapa pun. Konon kata teman-teman, sosok ini multi talenta, terkhusus masalah ilmu pengetahuan berkaitan dengan ‘lingustik’, dialah ahlinya.

Walau, ketika ditanya sosok ini tak mau mengaku. Tanda-tanda orang berilmu tinggi dan pendalaman tentang ilmunya sangat dalam sekali. Kemarin, aku sempat membaca sebuah puisi yang ia tulis di papan WhatSapp (WA). Keren habis, sebuah puisi esai yang ia tulis sungguh melebihi penyair yang hobinya suka menulis puisi.

Hampir 45 tahun bergelut di bidanh tulis menulis untuk publik, aku akui mengalami hambatan menguraikan sosok intelektual ini. Tapi, apaboleh buat au tulis aja secara deskriptif aja.

Baik, sosok yang kita unggulkan sepanjang 2025 ini memiliki nama yang cukup satu kata, Susanto. Dia sembunyikan tahun kelahirannya, katanya sih untuk memancing pembaca, agar mau bertanya padanya. “Oh, gitu ya!” tapi, sebelum aku lanjutkan profil Susanto ini, di bawah ini dikutip puisi yang dibuat awal Desember 2025. Kita simak.

 

(………………………………….)

Mereka bukan pasukan bersenjata,

tapi mereka adalah pasukan paling berani yang pernah dimiliki bangsa ini.

 

Mereka pakai baju hitam sederhana bertuliskan Granat,

bukan karena ingin kelihatan keren,

tapi karena hitam adalah warna yang tidak pernah menyerah pada kegelapan.

 

Mereka adalah Granat sungguhan,

yang rela mencabut pin dirinya sendiri

agar anak-anak Indonesia tidak pernah harus meledak di usia muda.

 

Di malam yang paling gelap sekalipun,

ketika bandar narkoba tertawa di balik mobil mewah mereka,

pejuang Granat berjalan kaki,

masuk gang sempit,

mengetuk pintu-pintu yang sudah lama tak diketuk kasih sayang,

dan berbisik pada anak yang matanya sudah redup:

“Nak, kamu bukan barang rongsokan. 

Kamu adalah masa depan yang sedang dicuri. 

Ayo pulang. Rumah masih menunggu.”

 

Mereka pernah dipukuli sampai berdarah,

diteror sampai anak-istri mereka takut tidur,

motor dibakar,

rumah dilempar molotov.

Tapi pagi harinya,

mereka tetap berdiri di lapangan upacara sekolah,

mengangkat spanduk putih besar:

 

“SAYA CINTA INDONESIA.

SAYA ANTI NARKOBA.”

 

Dan ribuan anak berseragam putih itu berteriak bersamanya,

seolah dunia mendengar detak jantung baru bangsa ini.

 

Mereka tidak punya gaji tinggi,

banyak yang hidup dari uang pas-pasan,

tapi mereka punya sesuatu yang lebih mahal dari emas:

nyali untuk berdiri di depan bandar dan berkata,

“Lewat anak-anak kami, kamu harus lewat kami dulu.”

 

Mereka pernah menggendong pecandu remaja yang sudah tinggal tulang,

membawanya ke rehabilitasi dengan motor butut,

menangis di jalan karena tahu

satu nyawa yang mereka selamatkan malam ini

bisa jadi presiden di tahun 2045.

 

Mereka adalah ibu-ibu yang meninggalkan anaknya tidur sendirian demi razia malam,

bapak-bapak yang pulang subuh dengan badan penuh luka tapi hati penuh harapan,

pemuda-pemudi yang menolak tawaran duit haram karena mereka tahu

ada harta yang lebih berharga:

martabat bangsa.

 

Mereka tidak menunggu pemerintah,

mereka tidak menunggu polisi,

mereka tidak menunggu siapa-siapa.

Mereka bergerak duluan.

Karena bagi mereka,

satu detik terlambat

bisa berarti satu anak hilang selamanya.

 

Suatu hari nanti,

ketika Indonesia benar-benar merdeka dari narkoba,

ketika anak-anak kita bisa bermimpi setinggi langit tanpa takut jatuh ke neraka jarum suntik,

di Monas akan berdiri monumen sederhana:

ribuan sepatu lusuh,

helm retak,

baju hitam robek-robek,

dan tulisan besar di bawahnya:

 

“Untuk kalian yang pernah berjalan di malam paling gelap

agar kami bisa berlari di terang.

Kalian bukan pahlawan super.

Kalian lebih dari itu.

Kalian adalah GRANAT—

yang meledakkan kegelapan

demi menerangi masa depan bangsa.”

 

Sampai hari itu tiba,

mereka masih berjalan.

Masih mengetuk pintu.

Masih memeluk anak-anak tersesat.

Masih berteriak di tengah hujan,

“NARKOBA BUKAN TEMAN!

INDONESIA ADALAH RUMAH KITA!”

 

Jadi kalau suatu malam kamu melihat orang berbaju hitam GRANAT

berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang redup,

menghadang anak muda yang hampir masuk jebakan bandar,

berdoalah dalam hati:

 

“Tuhan, kuatkan kaki mereka.

Jangan biarkan mereka lelah.

Karena selama mereka masih berdiri,

Indonesia masih punya harapan.”

 

Mereka tidak minta dipuji.

Mereka tidak minta diingat.

Mereka cuma minta satu hal kecil:

 

Jangan kau jadi korban berikutnya.

Jangan kau jadi alasan mereka menangis lagi malam ini.

 

Lawan narkoba.

Berdirilah bersama GRANAT.

Karena perang ini bukan milik mereka seorang.

 

Ini perang kita semua.

 

Dan kita akan menang.

Kita pasti.

Menang.

 

Untuk anak-anak kita.

Untuk Indonesia yang kita cintai.

Untuk masa depan yang layak diperjuangkan.

 

GRANAT bukan hanya nama gerakan.

GRANAT adalah janji.

Dan janji itu akan ditepati—

sampai narkoba benar-benar terkubur,

dan Indonesia benar-benar bangkit.

 

Sampai jumpa di hari kemenangan itu, pejuangku.

Kami menunggumu dengan bendera merah putih yang berkibar gagah

dan pelukan paling hangat yang pernah ada.

 

Teruslah berjalan.

Kami bersamamu.

Selamanya.

 

Susanto Saman

3 Desember 2025

 

Puisi esai boleh juga “puisi prosa”, sungguh membangkitkan semangat juga yang disamplekan tentang Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat). Sebagai penulis, aku gak berani uraikan Susanto lebih ‘terurai’. Kenapa demikian? Karena, dia doktornya bahasa (linguistik) dan fonetik. Amazing!

Susanto dilahir dan dibesarkan di Medan dan menamatkan S-1 (sarjana) Sastra Inggris di Universitas Terbuka. Gak puas dengan ilmu sastra Inggris, Susanto menimba kemampuan di titel Magister Humaniora (MHum) S2 Linguistik Terapan Bahasa Inggris dari Universitas Negeri Medan. S2 Magister Hukum (MH) dari Universitas Bandar Lampung. Kali ini, Susanto pengen gelar MA, maka iapun melanjutkan studynya di English Literature dari Central Institute of English and Foreign Languages (CIEFL) India, serta gelar Doktor (PhD) Linguistik dan Fonetik dari English and Foreign Languages University (EFLU) India.

Susantojuga menimba ilmu di negeri Paman Sam penanda kalau Susanto sealu haus akan hal minatnya pada linguistik forensik, fonetik, neurolinguistik, kecerdasan buatan dalam bahasa, pengajaran dan akuisisi bahasa. Susanto mengejar minat ilmu utamanya ia menjadi Fulbright Scholar tahun 2018 di Department of Brain and Cognitive Sciences, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat.

Bener aja, Susanto sampai menyelesaikan penelitian pascadoktoral di bidang Linguistik Forensik di Martin Centre for Appliable Linguistics, Shanghai Jiao Tong University, Tiongkok, dan mengikuti ISFC Winter Institute di Macquarie University, Australia.

Kemudian, dari Medan Susanto berperawakan sedang itu hijrah ke Lampung dan jadi Kepala Pusat Studi Linguistik sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Bandar Lampung (UBL). Lagi asyik jadi dosen dua tahun lalu kembali memburu ilmunya. Kali ini berburu linguistik di negeri Mahatma Gandhi, India.

Tahun 2025, sosok multi talenta bahasa ini kembali dari India setelah menggondol titel gelar Susanto, S.S., S.H., M.Hum., M.A., M.H., Ph.D. Ia back to campus sebagai Kepala Pusat Studi Linguistik sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Bandar Lampung (UBL). Dan, melanjutkan tugasnya sebagai konselor dan penyuluh Narkoba pada DPD Granat Provinsi Lampung.

O iya, nyaris lupa. Ternyata sosok Susanto ini selain minat utamanya bidang linguistik forensik, fonetik, neurolinguistik, kecerdasan buatan dalam bahasa, pengajaran dan akuisisi bahasa. Dia, sangat hobi olahraga, khususnya cabang catur, bulutangkis dan tenis.

Sekali lagi, tak dapat disangkal Susanto, S.S., S.H., M.Hum., M.A., M.H., Ph.D sudah teruji, terbukti dan sangat teliti. Katanya, dari cara seseorang berbicara, dia sudah tahu karakter dan sifat orang yang berbicara itu. Tak heran, kalau dia (Susanto) mengisi materi suatu acara, bahasa yang ia pakai sangat ‘harian’ sekali. Namun, dibalik bahasa sehari-hari yang ia pakai. Disitulah ia memainkan peran ‘simak’ sisi linguistik seseorang. Mari kita simak lagi narasi catatannya yang ditulis Kamis, 24 Juli 2025 di bawah ini:

 

Dinding Besi Tak Membatasi Cahaya

(Belajar dari Balik Jeruji)

 

Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang dingin, ada hati-hati yang masih ingin belajar, bermimpi, dan kembali menjadi manusia seutuhnya.

Pagi itu (Kamis, 24 Juli 2025) kami tiba di Lapas Kelas IIB Gunung Sugih dengan hati penuh harap.

Begitu gerbang terbuka, kami langsung disambut hangat oleh Kalapas Gunung Sugih, Bapak Mastur bersama jajarannya. Beliau tak hanya membuka pintu lapas, tapi juga membuka ruang hati agar program pemulihan terus hidup dan berkembang.

Kami tidak datang sekadar melakukan observasi kegiatan rutin rehabilitasi sosial bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tindak pidana narkotika.

Kami datang sebagai bagian dari harapan itu sendiri.

Bersama GRANAT (Gerakan Nasional Anti Narkotika), kami mendukung program rehabilitasi yang utuh: membebaskan tubuh dari candu narkoba sekaligus menyembuhkan jiwa dari luka rasa bersalah, putus asa, dan hilangnya harga diri.

Kali ini, para mahasiswa FKIP Universitas Bandar Lampung diajak ke luar dari ruang kuliah ber-AC menuju “ruang kelas” paling nyata: Lapas Kelas IIB Gunung Sugih.

Di sini, mereka tidak hanya belajar mengajar, tapi juga belajar menjadi manusia yang lebih utuh.

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika mahasiswa mengamati langsung proses pembinaan yang dipandu oleh Bapak Benny Mangkunegara, S.E. (Ketua Ikatan Konselor Adiksi Indonesia [IKAI] Provinsi Lampung sekaligus Sekretaris DPC GRANAT Lampung Tengah).

Dengan penuh ketenangan dan keahlian, beliau menjalankan tahapan-tahapan pembinaan adiksi secara profesional: mulai dari pendampingan individu, terapi kelompok, penguatan motivasi internal, hingga latihan keterampilan penolakan (refusal skill). Cara beliau mendengarkan tanpa menghakimi, memberi nasihat tanpa menggurui, serta membangun kepercayaan diri para WBP membuat semua yang hadir terpukau.

Kehadiran istimewa lainnya adalah Bapak H. Abdullah Surajaya, S.H., M.H. (Ketua DPC GRANAT Lampung Tengah sekaligus Anggota DPRD Provinsi Lampung).

Beliau turut memberikan pembinaan langsung dan menyampaikan pesan tegas sekaligus penuh kasih:

“Menjaga pemulihan itu harus sampai akhir hayat. Tapi itu tidak mudah. Yang terpenting adalah niatan kuat dari lubuk hati sanubari, dan keterampilan berani mengatakan ‘tidak’ ketika nanti bebas menghadapi godaan di luar sana.”

Empati bukan lagi hanya teori dari buku psikologi.

Empati lahir saat kita mendengar cerita mereka dan tanpa terasa air mata ikut mengalir.

Refleksi terdalam muncul ketika kita bertanya pada diri sendiri:

“Jika aku yang berada di posisi mereka, akankah masih ada yang percaya aku bisa berubah?”

Kegiatan ini bukan sekadar pengabdian masyarakat biasa.

Ini adalah panggilan kemanusiaan.

Ini bukti nyata bahwa pendidikan dan pemulihan tidak mengenal tembok beton, status sosial, apalagi masa lalu seseorang.

Kita hadir bukan dengan rasa iba, tapi dengan keyakinan teguh: setiap manusia berhak atas kesempatan kedua, dan kita adalah bagian dari kesempatan itu.

 

Ruang kelas sejati bukan yang ber-AC dan berwi-fi,

melainkan yang mampu mengubah hidup seseorang selamanya.

Kita mungkin tidak bisa mengubah dunia sekaligus.

Tapi kita bisa mengubah dunia satu orang per satu.

 

Mulai dari Lapas.

Mulai dari sekarang.

Mulai dari kita.

 

Salam pendidik penuh kasih,

Mari mengajar dengan jiwa.

Mari mengabdi dengan cinta.

 

04 Desember 2025

Susanto Saman Dosen FKIP UBL / Konselor dan Penyuluh DPD GRANAT Provinsi Lampung. (Naim Emel Prahana)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.