Naim Emel Prahana
Hilirisasi itu dari tidur ke bangun—secara rutin alias kontinyu (continue) bisa jadi disebut dengan ‘berkelanjutan’. Gak usah ribet cari tafsiran maknanya. Baca dan menulis di ruang literasi, cukup. Tapi, ingat literasi di sini tidak sama belajar menulis dan membaca saat Rasulullah SAW diberi wahyu melalui malaikat Jibril, untuk ‘baca’
Sebab, jangankan baca menulis saja saat itu Rasulullah gak bisa. ‘Baca’—membaca saat Rasulullah menerima wahyu dari Allah SWT itu, bukan hanya membaca aksara tetapi membaca suasana membaca pikiran orang lain membaca tabiat, karakter dan sifat manusia maupun flora dan fauna yang ada di alam semesta ini.
La, sekarang rangkuman literasi dimaksud itu bunyinya begini “kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas melalui berbagai aktivitas. Kegiatan literasi (khusus di sekolah) dapat dilakukan melalui membaca, menulis, menyimak, melihat, dan berbicara. Rodo sama, tapi tak sama.
Kalau literasi itu dipojokan apalagi di “gang sempit’—maknanya hanya dianjurkan. Bagaimana dapat memberikan kemmapuan untuk membaca dan menulis, lalu diekspresikan serta untuk dianalisa sesuatu yang menjadi pojok ilmu pengetahuan.
Jika, pendukungnya tidak ada—terutama di pedesaan. Buku yang untuk dibaca bersama, sarana untuk menulis bersama, alat visual untuk mendengar bersama bagi anak-anak. Semua tak ada. Apalagi sarana ‘tempat’ yang sangat minim. Pertanyaan kita belum sampai kepada faktor finansial? Itu akan lebih runyam dan ter’pojok’ lagi program tersebut.
Sekarang zaman digital dan media online digital. Telah mematikan media-media cetak seperti koran, majalah, buletin yang biasanya dulu dipajang di mana-mana pinggir jalan, di gang sempit dan dipojok pasar dan sebagainya. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Sekarang sudah di pojok terpojok lagi, lagi-lagi berada di gang sempit. Luculah kalau mengharapkan bidadari saat mandi di hujan gerimis pagi atau sore hari membawa berkarung-karung paket ilmu pengetahuan. Lalu, tiba-tiba berdirilah bangunan-bangunan megah dengan halaman luas tempat anak-anak bermain. Di dilamnya anak-anak belajar membaca, menulis dan menggambar dan, ada juga yang menonton televisi tentang pelajaran matematika he he he he mimpi kali ye.
Saat ini banyak komunitas atau penggiat literasi, seni, sastra dan budaya muncul tanpa ada jedah. Berbekal ketiadaan dan hanya semangat rindu menggebu-gebu terus beraktivitas menyebarkan pengetahun dan banyak ilmu. Negara atau pemerintah sedang berada di mana ya? Sarana sekolah dan pendanaannya saja sudah ribet dan negara—pemerintah lari kocar-kacir. Akhirnya terjadilah salah penerapan kebijakan berdasarkan UU seperti korupsi, penyelewenangan dana-dana dari APBN–APBD dan sebagainya.
Pagi ini kita masih berada di pojok-pojok harapan untuk dan bagaimana memajukan kesejahteraan bangsa dan negara. Dan, tegaknya hukum sebagaimana mestinya.







