Kolom

Analisis Puisi “Siapa di Sana Malam Ini” karya Naim Emel Prahana dengan Pendekatan Teori Afek (Affect Theory)

×

Analisis Puisi “Siapa di Sana Malam Ini” karya Naim Emel Prahana dengan Pendekatan Teori Afek (Affect Theory)

Sebarkan artikel ini
Teks Puisi Naim Emel Prahana. FOTO:ss/lc

Oleh: Susanto, SS, SH, MHum, MA, MH, PhD

 

Puisi “Siapa di Sana Malam Ini” karya Naim Emel Prahana, yang ditulis pada November 2025, merupakan sebuah karya yang menggabungkan elemen lirik lagu pop rock dengan refleksi introspektif tentang kegelisahan malam hari. Puisi ini menggambarkan perasaan gelisah seorang subjek yang terjaga di malam sunyi, dihadapkan pada nafas kehidupan yang berhembus, kehadiran makhluk tak kasat mata, dan akhirnya resolusi menuju kedamaian dengan datangnya fajar.

Tema utamanya meliputi isolasi, kehadiran yang ambigu, dan transisi dari kecemasan ke harapan.

Untuk menganalisis puisi ini, saya menggunakan Teori Afek (Affect Theory), salah satu teori sastra terkini yang berkembang pesat sejak awal abad ke-21 dan terus relevan hingga 2025. Teori ini, dipelopori oleh pemikir seperti Brian Massumi dan Sara Ahmed, memfokuskan pada bagaimana teks sastra menciptakan dan menyebarkan afek yaitu sensasi, emosi, dan intensitas prakognitif yang tidak selalu terikat pada narasi linier atau subjek rasional. Afek di sini dilihat sebagai kekuatan yang beredar di antara tubuh, lingkungan, dan teks, membentuk pengalaman pembaca secara visceral. Dalam konteks sastra Indonesia kontemporer, teori ini berguna untuk mengeksplorasi bagaimana puisi seperti ini membangun suasana (atmosphere) yang memengaruhi pembaca, terutama di era digital di mana emosi kolektif sering amplified melalui media sosial dan lagu.

Teori afek transdisipliner, mengintegrasikan psikologi, filsafat, dan studi budaya, sehingga sesuai dengan tren terkini seperti yang dibahas dalam karya Suwardi Endraswara tentang perspektif transdisipliner dalam teori sastra (2022-2025).

Pembangunan Afek Kegelisahan melalui Imajeri Sensorial

Puisi dimulai dengan stanza yang menggambarkan kegelisahan malam: “Kutiduri gelisah di denyut malam / tidur di sungai waktu menuju / di antara mereka masih di luaran / nafas-nafas kehidupan berubah arah”. Di sini, afek kegelisahan dibangun melalui imajeri sensorial yang intens: “denyut malam” dan “nafas-nafas kehidupan” menciptakan sensasi pulsasi dan hembusan yang tak terkendali, seolah malam bukan sekadar waktu, melainkan entitas hidup yang memengaruhi tubuh subjek.

Menurut teori afek, elemen ini bukan hanya metafor, tapi aliran intensitas yang beredar (circulation of affect) antara subjek dan lingkungannya. Pembaca diajak merasakan ketidakpastian ini secara fisik seperti denyut jantung tanpa perlu narasi eksplisit.

Ini mencerminkan bagaimana puisi Prahana, sebagai “puisi dalam lagu”, memanfaatkan ritme pop rock untuk memperkuat afek, mirip dengan bagaimana lagu-lagu kontemporer seperti karya-karyanya yang lain (misalnya “Nyanyian Hutan Kami” atau “Ibu di Dalam Rinduku”) menggunakan melodi untuk menyebarkan emosi.

Stanza selanjutnya, “oooooo………malamku / makhluk lain yang sedang lelap / sebelum fajar datang di paginya / masihkah ada tujuan belum sampai”, memperdalam afek ini dengan pengulangan suara “ooooo” yang menyerupai erangan atau hembusan angin.

Afek di sini adalah rasa limbo antara tidur dan bangun, antara kehadiran dan ketiadaan. Massumi (2002) menyebut ini sebagai “autonomi afek”, di mana sensasi mendahului pemahaman kognitif, membuat pembaca merasakan kegelisahan sebelum memahami maknanya.

Dalam konteks Indonesia 2025, di mana isu kesehatan mental dan isolasi pasca-pandemi masih relevan, afek ini resonan dengan pengalaman kolektif, di mana malam menjadi ruang untuk kontemplasi atas “tujuan belum sampai” mungkin metafor ambisi pribadi atau sosial yang tertunda.

 

Transisi Afek menuju Ambivalensi dan Kedamaian

Bagian tengah puisi beralih ke pertanyaan eksistensial: “oh…siapapun di sana malam ini / ada yang berdesah, berbisik dan diam / oh…siapa gerangan di sana malam ini / saat mereka berada di peraduan / mengunyah mimpi yang terbang lagi”.

Afek ambivalensi muncul melalui kontras antara “berdesah, berbisik dan diam”, suara yang hadir tapi tak jelas, menciptakan sensasi kehadiran yang haunting.

Sara Ahmed (2014) dalam teori afeknya menjelaskan ini sebagai “sticky objects”, di mana emosi melekat pada objek ambigu seperti “siapa di sana”, membuatnya menempel pada pembaca.

Puisi ini tidak menyelesaikan misteri ini secara naratif, melainkan membiarkan afek beredar, mengundang pembaca untuk merasakan ketakutan dan penasaran secara bersamaan. Ini terkait dengan gaya Prahana yang sering mengintegrasikan puisi dengan lagu, di mana afek diperkuat oleh elemen auditory, seperti yang terlihat dalam karya-karyanya yang dibagikan di platform seperti YouTube.

Akhir puisi menuju resolusi: “sebenarnya malam ini / ada yang bersamamu dan sendirian / sebenarnya sepenggal perjalanan / cahaya akan tiba tepat waktunya / damailah… damailah… damailah.”

Di sini, afek bergeser dari kegelisahan ke kedamaian melalui pengulangan “damailah”, yang berfungsi sebagai mantra afektif.

Teori afek melihat ini sebagai proses modulasi, afek tidak hilang, tapi diubah menjadi intensitas positif. Pengulangan menciptakan ritme yang menenangkan, mirip dengan meditasi, dan “cahaya akan tiba tepat waktunya” menjanjikan harapan, mengalirkan afek optimisme. Dalam perspektif transdisipliner terkini, ini bisa dikaitkan dengan psikologi positif, di mana sastra berfungsi sebagai “simulator jiwa” (seperti dibahas dalam diskusi sastra Indonesia 2025), membantu pembaca mengelola emosi di era ketidakpastian global.

Kesimpulan

Melalui Teori Afek, puisi “Siapa di Sana Malam Ini” karya Naim Emel Prahana terungkap sebagai teks yang tidak hanya menceritakan, tapi juga “melakukan” emosi, membangun aliran kegelisahan yang visceral menuju kedamaian. Ini menunjukkan kekuatan puisi kontemporer dalam menyebarkan afek di tengah masyarakat digital, di mana karya Prahana sering dibagikan melalui media seperti YouTube, memperluas dampak emosionalnya.

Sebagai sastrawan yang dianugerahi penghargaan 2024, Prahana berhasil mengintegrasikan elemen pop rock dengan refleksi mendalam, membuat puisi ini relevan dengan tren sastra terkini yang transdisipliner dan berfokus pada pengalaman sensorial.

Analisis ini menggarisbawahi bagaimana afek dalam puisi bisa menjadi alat untuk navigasi emosi manusia di malam yang gelap, menuju fajar yang damai.

 

Susanto Saman: Kepala Pusat Studi Linguistik sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Bandar Lampung (UBL). Selasa, 6/1/26

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kolom

Oleh Naim Emel Prahana   INI tentang ‘pemaknaan’…