Kolom

Catatan Bagian 1 Dari Seminar Nasional HISKI

×

Catatan Bagian 1 Dari Seminar Nasional HISKI

Sebarkan artikel ini
Susanto, S.S., S.H., M.Hum., M.A., M.H., Ph.D. FOTO: LC

Oleh Susanto, SS, SH, MHum, MA, MH, PhD

Penulis adalah Wakil Ketua HISKI Provinsi Lampung dan Kepala Pusat Studi Linguistik sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Bandar Lampung (UBL))

 

HISKI (Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia) pagi ini di Bandarlampung membawa sebuah perenungan mendalam. Ketika Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung memaparkan materi, kita menyadari bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan detak jantung peradaban.

Ada makna di balik angka Indeks Pembangunan Kebahasaan (IPK). Selama ini, kita mungkin melihat IPK hanya sebagai deretan statistik administratif. Namun, paparan Kepala Balai menyadarkan kita bahwa setiap angka dalam indeks tersebut adalah suara dari martabat sebuah bangsa.

IPK yang tinggi bukan sekadar bukti masyarakat pandai mengeja, melainkan bukti bahwa masyarakat Lampung mampu mengolah narasi, berpikir kritis, dan memiliki karakter yang kokoh. Bahasa adalah perangkat lunak bagi kemajuan infrastruktur fisik di Bumi Ruwa Jurai.

Bahasa merupakan benteng karakter. Kebijakan kebahasaan adalah strategi kebudayaan. Ketika kita mengutamakan bahasa Indonesia, kita sedang merajut tenun kebangsaan. Ketika kita merevitalisasi bahasa Lampung, kita sedang menyelamatkan memori kolektif dan kearifan lokal agar tidak lekang ditelan zaman.

Membangun peradaban tanpa menjaga bahasa ibarat membangun gedung pencakar langit di atas tanah rawa, ia akan kehilangan pijakan dan identitasnya.

Untuk daya saing intelektual di kancah global, literasi adalah energi. Masyarakat dengan literasi kebahasaan yang tinggi memiliki kemampuan untuk menyaring informasi di era disrupsi. Kekuatan intelektual Lampung tidak diukur dari seberapa banyak gedung yang berdiri, tapi dari seberapa tajam pena para sastrawannya dan seberapa santun lisan para pemudanya.

Jika ingin membangkitkan sebuah peradaban, muliakanlah bahasanya. Ada mandat bagi kita semua bahwa menjaga bahasa adalah bentuk patriotisme modern. Kita sedang menulis sejarah Lampung masa depan melalui setiap kata yang kita ucapkan dan tuliskan hari ini.

Bandarlampung, (20/01/26)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kolom

Oleh Naim Emel Prahana   INI tentang ‘pemaknaan’…