Kolom

“Jalan Mulus” Menguras Air Di Tengah Hutan

×

“Jalan Mulus” Menguras Air Di Tengah Hutan

Sebarkan artikel ini
Penasihat Pendekar Banten. FOTO: ist/LC

Catatan Naim Emel Prahana

 

SEBUAH lukisan yang tergantung di dinding menciptakan tafsir penilaian berbeda di antara pengunjung yang memandangnya. Kenapa harus berbeda, tidak lain karena cara memandang, jarak pandang dan dari sisi mana memandangnya. Demikian juga, ketika kita sedang berada di dalam ruang toilet. Kebetulan dinding ruangnya sudah kusam, beragam gris futuris ada di dindang. Yang seseorang dengan seseorang lainnya dalam keadaan jongkok, melihat dinding kusam tersebut banyak imajinasi yang muncul.

Ada garis-garis yang melengkung, lurus dan warna kehitaman berkumpul disatu titik, ketika dipandang, lama-kelamaan akan membentuk imaji sebuah lukisan. Bisa saja lukisan yang terbentuk melalui tatap tersebut seperti mirip gambar wajah seseorang. Juga, ada pandangan melihat kekusaman itu seperti ‘mirip’ lukisan kuda sedang berlari kencang di padang sabana.

Akan berbeda ketika dinding-dinding toilet (WC) itu putih bersih, abu-abu, atau biru yang tidak akan menciptakan imaji bagi yang menatap dinding tersebut sebagai macam-macam lukisan abstrak yang imajinya dimirip-miripkan sebagai bentuk-bentuk. Demikian juga, ketika berada di ruang toilet, kita disuguhkan aroma yang beraneka ragam, ditambah lagi fasilitas airnya kurang standar. Maka, keinginan untuk membuang kotoran besar atau kecil pasti tiba-tiba akan kendor, walau sebelumnya kebelet banget.

Pada suatu ketika atau banyak waktu yang sudah terjadwal, anda mengunjungi sebuah kota di luar tempat tinggal anda. Apakah kunjungan itu dilakukan secara rombongan (bersama-sama), atau anda lakukan sendiri. Selama yen-yen (jalan-jalan) mengunjungi tempat-tempat tertentu. Tentu saja, bukan hanya sekelebat perjalanan tanpa pandangan yang menciptakan ilustrasi tertentu. Hanya sekedar halan-halan (bahasa akrab orang tua merasa dirinya muda menyebut kata ‘jalan-jalan’).

Moment kunjungan dan jalan-jalan tersebut, suda barang tentu yang dikunjungi hanyalah tempat-tempat yang ‘sungguh’ sudah disaloni dengan berbagai kreasi dan inisiasi pembangunan dengan tujuan, agar yang mengunjunginya antusias dan tertarik. Obyek wisata, jalan utama kota, kawasan gedung-gedung pencakar langit, mall dan kawasan bangunan kuno (peninggalan zaman). Pandangan, tentunya akan memerintahkan mulut untuk mengucapkan kata ‘waw’ keren, wow bagus sekali dan ucapan kata seru lainnya—yang menggambarkan suka, senang dan tafsiran amazing.

*****

Kemudian, selama waktu (sekali, berulangkali) melakukan perjalanan ke daerah lain ata tempat lain di luar tempat tinggal sendiri. Ada gak mengunjungi suatu kawasan atau tempat yang benar-benar natural. Seperti kampung kumuh di muara sungai pinggiran pantai, rumah-rumah kardus di bawah kolong jembatan jalan tol, sisi kiri rel kereta api atau pemukiman padat di belakang gedung-gedung mewah atau pabrik-pabrik besar.

Sejatinya itu, jika demikian kita sudah mulai memenggal rasa kepedulian terhadap kehidupan sosial lainnya selain kehidupan yang sosial yang gemerlapan. “Itu secara otomatis, itu lama kelamaan akan menjadi tradisi bahwa sikap kepedulian yang sering diucapkan itu, hanyalah lips service. Hanya omon-omon. Ketika ramai dibicarakan soal proyek strategis nasional, soal pembangunan infrastruktur jalan berikut sarana dan prasarananya, ketika rutin dilakukan lauching-lauching usaha kaum the haves.

Sejatinya, semua sudah melupakan hidup sebagian besar penduduk negeri ini masih dalam lingkaran kemiskinan. Maka, ketika membaca keep calm and don’t let idiots ruin your day di flatform media sosial saya spontan marah. Karena orang barat mengatakan “tetap tenang dan jangan biarkan orang bodoh merusak harimu” (keep calm and don’t let idiots ruin your day). Siapa yang disebut orang bodoh merusak waktu itu?

Padahal, yang merusak kita itu adalah orang-orang pintar, yang mungkin pengusaha yang mungkin pejabat yang mungkin pemimpin daerah atau negeri ini. Orang bodoh (miskin) dalam tanda tanya (?) tidak menimbulkan kerusakan apa-apa, karena hidup mereka sudah sepanjang kehidupan mereka telah diobok-obok oleh para kamum the haves (orang kaya). Dalam hal ini orang kaya itu beragam profesinya.

*****

Zaman now, penting untuk dibicarakan. Karena kita hidup di zaman ini. Sebagai warga negara yang ada hak dan kewajiban terlalu sering masyarakat hanya diminta untuk melaksanakan kewajiban doang. Sementara hak-hak, apalagi sudah tercantum dalam UUD 1945, tidak dipenuhi sebagaimana mestinya.

Mengingatkan kepada semuanya, bahwa belanja rutin pemerintah lebih dari separuh anggaran pembangunan, baik ditingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota termasuk desa/kampung/kelurahan. Salah satu kebutuhan dan haknya masyarakat adalah mendapatkan sarana dan prasarana lalulintas aktivitas rutin mereka, yaitu berupa jalan. Apakah itu jalan negara (nasional), jalan provinsi, jalan kabupaten/kota, jalan desa bahkan jalan ke umbulpun dibutuhkan bagus.

Dengan bagus (mulusnya) jalan, maka akan mengurangi beban ekonomi rakyat dan harga-harga dapat relatif murah karena biaya pengangkutan (pengirimannya) lebih murah dibandingkan biaya pengiriman melalui jalan yang tidak bagus. Jalan tidak bagus menjadi alasan para pengusaha cq pedagang untuk menaikkan harga yang kadang jauh melebih HET (harga eceran tertinggi).

“Jalan mulus” memang ibarat mengurai air di tengah hutan. Jika tidak dibangun dengan sungguh-sungguh, niscaya air hutan yang mengalir akan marah dan melabrak apa saja ketika mereka sedang meluap, apakah di musim hujan atau karena saluran airnya diakali oleh para pengusaha.

Di tengah kota, jangankan di kawasan pemukiman padat atau pemukiman kumuh sampai pedesaaan. Keadaan jalanpun—termasuk ruas jalan protokol ada kesan diabaikan. Kalau lupa, tentu setelah dilalui pejabat kemudian diketahui ada lubang atau air ke luar dari drainase yang tersumbat. Pasti segera diperbaiki. Kalau selama ini, tidak seperti itu. Jalan protokol saja dihadirkan sebagaimana mestinya, apalagi jalan di kawasan kampung kumuh atau desa. Padahal, biaya pemeliharaannya tetap ada setiap tahun anggaran. Tapi, ke mana anggaran ntersebut dilimpahkan, sehingga jalan tak pernah mulus sebagaimana fungsinya.

Disitulah kepedulian para pemimpin sudah terputus. Tapi, anehnya masih terus beretorika bahwa pembangunan jalan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Maksudnya, rakyat yang mana? Persoalannya memang rumit, tetapi masalahnya dapat dengan mudah dipecahkan. Kita tak lagi melihat adanya good will pemerintah untuk ‘sesungguh’ memperhatikan rakyat biasa. Mereka hanya membangun untuk ‘membangun’ citra—kelak di penghujung masa jabatannya akan dipilih lagi.

Keadaan yang sessungguhnya ‘diabaikan’ itu sudah pasti diperkeruh oleh sekelompok orang, yang juga memanfaatkan kedekatan dengan pemimpin untuk mendapatkan irisan kue tart pembangunan. Nyatanya, mereka memang kebagian secara terus menerus. Dan, bagaimana hasil pekerjaan mereka. Mari kita pertanyakan kepada diri kita masing-masing.

Apalagi para penguasa daerah tidak mau menerima saran, masukan dan kritik. Sebab, mereka mengganggap saran, kritik dan masukan itu sebagai musuh yang harus dijauhi. Tidak boleh dilibatkan ke dalam aktivitas pembangunan menyeluruh di sebuah daerah kecil atau kota kecil yang penduduknya tidak sampai 200 ribu jiwa (termasuk anak-anak baru lahir).

“Jalan mulus” tidak akan ada kalau pembicaraannya hanya adu besar urat leher, adu kuat berteriak yang cenderung mengancam. Jalan mulus akan hadir dan dinikmati rakyat kebanyakan, bukan karena direhab terus tiap tahun, dibeton, dihomix atau dibuat cat malka ruas jalannya. Akan tetai, sesungguh harus ada kesadaran semua pihak yang terlibat.

Mulai dari good will pemerintah daerah (cq pejabatnya), para kontraktor, pihak pengawasan, harus juga melibatkan APH dari berbagai instansi dan tentu pengawasan proses pembangunannya, tidak hanya menerima laporan di ruang saja dari bawahan yang mungkin hanya ceremonial.

“Jalan mulus” tidak akan dapat dinikmati secara normal oleh masyarakat dalam waktu cukup lama, apabila proyek pembangunannya hanya berdasarkan kepentingan, termasuk like dan dislike terhadap kontraktor. Sebab, jalan mulus itu tidak ditentukan ada setoran atau tidak. Akan tetapi, bagaimana perencanaan pembangunan dijalankan sesuai ketentuannya, termasuk proses lelang dan penunjukan para pelaksana proyek tersebut. Kita tidak ingin melihat bahwa murid sekolah dasar itu diajarkan oleh seorang guru yang latar belakang pendidikannya bukan jurusan penddikan. Atau seorang pasien sakit gigi, pergi ke dokter kandungan.

Penulis adalah penggagas Pusat Informasi Pendalaman Orang-Orang Pinggiran (PIPOP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kolom

Oleh Naim Emel Prahana   INI tentang ‘pemaknaan’…