Artikel

Paradoks Kehadiran Gadget dalam Ruang Kognitif

×

Paradoks Kehadiran Gadget dalam Ruang Kognitif

Sebarkan artikel ini
Susanto Saman

Oleh: Dr. Susanto Saman

Kepala Pusat Studi Linguistik, Universitas Bandar Lampung

Dalam diskursus linguistik, kita memahami bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin dari proses kognitif manusia. Namun, di era digital ini, ada sebuah interupsi sunyi yang mulai menggerogoti ketajaman berpikir kita. Fenomena ini dipotret dengan sangat bernas oleh Adrian F. Ward, dkk. (2017) dalam penelitian mereka yang berjudul “Brain Drain: The Mere Presence of One’s Own Smartphone Reduces Available Cognitive Capacity.”

Temuan mereka mengungkap sebuah ironi. Ponsel pintar, yang kita anggap sebagai perluasan dari memori dan kecerdasan kita, justru menjadi beban kognitif hanya dengan “berada” di dekat kita. Secara teoretis, keterbatasan kapasitas kognitif (limited-capacity cognitive resources) manusia berarti setiap perhatian yang teralihkan, meski secara bawah sadar, adalah kerugian bagi kedalaman berpikir.

Daya melihat ancaman ini bisa melampaui masalah produktivitas. Kedalaman bahasa (linguistic depth) sangat bergantung pada kemampuan otak untuk melakukan pemrosesan yang kompleks, sintaksis yang rumit, dan pemilihan diksi yang presisi. Jika sebagian kapasitas otak kita tersedot untuk “mengabaikan” kehadiran ponsel di atas meja, maka resonansi intelektual dalam tulisan dan ucapan kita pun akan ikut mendangkal.

Kita sebaiknya mulai menyadari bahwa ponsel kita telah menjadi “pengganggu” yang diam. Meskipun layarnya mati dan posisinya terbalik, keberadaannya memicu proses inhibisi yang melelahkan bagi otak. Kita terjebak dalam kondisi “sustained attention” yang semu. Kita merasa fokus, padahal sebagian energi mental kita sedang berjaga-jaga terhadap godaan notifikasi yang mungkin muncul.

Bagi kita di dunia akademis dan kebahasaan, ini adalah peringatan keras. Ketajaman analisis dan kekayaan semantik membutuhkan kehadiran mental yang utuh. Jika kita terus membiarkan “Brain Drain” ini terjadi, kita berisiko kehilangan kemampuan untuk melakukan “deep work”, yakni sebuah kondisi di mana gagasan-gagasan besar lahir.

Kita perlu merenungkan kembali hakikat “kehadiran” di tengah kepungan teknologi. Jika keberadaan sebuah benda mati saja mampu menguras kedalaman kognisi kita, maka sejatinya kita sedang menghadapi krisis kedaulatan mental. Bahasa adalah rumah bagi keberadaan (house of being), dan untuk menghuninya dengan utuh, kita membutuhkan kejernihan yang tak terbagi.

Membiarkan smartphone mendominasi ruang fisik kita sama saja dengan membiarkan kebisingan tak terdengar mengaburkan makna-makna terdalam dalam pikiran kita. Maka, menjauhkan perangkat tersebut bukan hanya soal efisiensi kerja, melainkan sebuah upaya asketis untuk merebut kembali kebebasan berpikir.

Sebenarnya, fenomena brain drain ini dapat mengancam apa yang disebut Hans-Georg Gadamer sebagai “fusi cakrawala” (Horizontverschmelzung). Bagi Gadamer, pemahaman mendalam hanya terjadi ketika kita benar-benar meleburkan diri ke dalam teks atau percakapan. Jika perhatian kita terfragmentasi oleh kehadiran gawai, cakrawala pemikiran kita tidak akan pernah benar-benar bertemu dengan objek ilmu pengetahuan. Kita hanya akan mengambang di permukaan makna tanpa pernah menyelami hakikatnya.

Kondisi ini juga mengingatkan kita pada kearifan dalam Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah, “Idfin wujudaka fil ardil khumul“, yang artinya benamkanlah eksistensimu dalam tanah kerahasiaan/ketidakpopuleran. Dalam konteks intelektual modern, nasihat ini bisa dimaknai sebagai urgensi untuk membebaskan diri dari jeratan eksistensi digital yang dangkal. Kehadiran gawai di sisi kita adalah representasi dari keterikatan pada dunia luar yang terus-menerus menuntut perhatian, yang pada gilirannya menghalangi hati dan pikiran untuk mencapai tajrid, yakni keadaan murni di mana fokus hanya tertuju pada satu kebenaran yang sedang digali.

Sudah saatnya kita sebaiknya “mengambil” kembali ruang kognitif kita. Bukan dengan memusuhi teknologi, melainkan dengan memberi jarak fisik yang tegas antara diri kita dan perangkat tersebut saat sedang berkarya. Karena pada akhirnya, kejernihan bahasa hanya bisa lahir dari pikiran yang benar-benar merdeka dari gangguan.

Kita harus berani memilih, menjadi tuan atas teknologi yang kita ciptakan, atau menjadi tawanan kognitif dari perangkat yang kita genggam sendiri. Saya masih meyakini bahwa dalam kesunyian tanpa gangguanlah, intelektualitas kita yang sejati menemukan suaranya yang paling murni.

————————————–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.