Oleh: Susanto Saman
Di sebuah negeri yang selalu merayakan angka-angka pertumbuhan, berdirilah dua struktur yang dipisahkan oleh sepetak aspal hitam dan jurang prioritas yang dalam. Sebut saja tempat itu Ruang A dan Gubuk B.
Gubuk B adalah sebuah bangunan tua yang kulitnya mengelupas seperti luka yang tak pernah kering. Di sana, anak-anak duduk di atas kursi-kursi kayu yang ringkih, memegang pena seolah memegang tongkat penopang nasib. Setiap kali angin berembus, debu dari dinding yang retak rontok ke atas buku-buku mereka, sebuah pengetahuan tentang kerapuhan yang tidak ada di kurikulum mana pun.
Atapnya bocor. Jika hujan turun, mereka tidak belajar tentang sains, melainkan tentang cara menghindar agar tidak basah. Guru mereka, seorang lelaki dengan sepatu yang solnya hampir habis, sering menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
Hanya beberapa langkah dari sana, sebuah keajaiban beton baru saja selesai dibangun, Ruang A.
Ruang A adalah sebuah dapur raksasa yang berkilau. Dindingnya putih bersih, catnya masih berbau harum kemenangan. Di sana, uap makanan bergizi mengepul tinggi ke langit, membawa aroma daging dan rempah yang sanggup melumpuhkan akal sehat mereka yang lapar.
Ada seorang anak kecil di Gubuk B bernama Alif, sebuah nama yang berarti “satu,” namun ia merasa seperti nol. Perutnya sering berbunyi, sebuah simfoni kemiskinan yang ia mainkan setiap hari.
Suatu siang, Alif berdiri di ambang pintu Gubuk B yang miring. Ia melihat truk-truk besar menurunkan logistik ke Ruang A dengan gerakan yang sangat efisien. Orang-orang berseragam sibuk memastikan setiap kalori terhitung dengan akurat.
“Lihatlah, Alif,” bisik sang Guru yang berdiri di belakangnya. “Negara sedang ingin memastikan perutmu kenyang.”
Alif menengadah, melihat retakan di langit-langit kelasnya yang menyerupai peta wilayah yang terlupakan. “Tapi Pak, kalau perut saya kenyang di bawah atap yang rubuh, apakah saya akan mati sebagai orang kenyang yang tertimbun puing?”
Guru itu terdiam. Ia tidak punya jawaban dalam buku panduannya.
Logika negeri itu sederhana namun kejam, “Memperbaiki yang lama adalah beban sejarah, tetapi membangun yang baru adalah panggung politik.”
Mereka bisa mendirikan tembok baru dalam hitungan minggu karena ada kamera yang menunggu di sana. Namun, menambal dinding kelas yang retak dianggap sebagai “proses birokrasi” yang memakan waktu bertahun-tahun. Seolah-olah semen untuk sekolah memiliki massa jenis yang lebih berat daripada semen untuk dapur.
Di Ruang A, piring-piring berdenting riuh. Di Gubuk B, pena-pena tergores pelan.
Suatu hari, sebuah retakan besar di dinding kelas Alif akhirnya menyerah pada gravitasi. Bukan karena gempa, melainkan karena kelelahan menjadi saksi ketidakpedulian. Saat debu mengepul, Alif merangkak keluar dari reruntuhan, tangannya masih menggenggam sebuah buku yang kini kotor.
Ia berdiri di tengah jalan aspal, memandang Ruang A yang megah. Orang-orang di sana tetap sibuk memasak. Baginya, pemandangan itu adalah ironi yang paling sadis. Negara sedang sibuk menyiapkan perjamuan terakhir untuk anak-anak yang rumah belajarnya baru saja dikuburkan.
Cerita ini bukan tentang lapar atau kenyang. Ini tentang sebuah bangsa yang lebih memilih mempercantik etalase daripada memperkuat fondasi.
Ketika sebuah negara lebih cepat membangun tempat makan daripada memperbaiki tempat berpikir, ia sebenarnya sedang berkata pada generasinya, “Makanlah yang banyak, agar kau punya cukup tenaga untuk meratapi nasibmu sendiri.”
Kamis, 16 April 2026
Susanto Saman







