Kolom

3 Aspek keunggulan Generasi Emas Indonesia

×

3 Aspek keunggulan Generasi Emas Indonesia

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr.dr.Wahdi, Sp.OG(K), S.H,M.H.
Ketua GEMASIC INDONESIA ( Generasi Emas Indonesia Cemerlang).

Di zaman teknologi digitalisasi saat ini Negara berkewajiban lebih mengutamakan pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola “BONUS” Demografi. Salah kelola maka akan muncul Generasi “MODUS” Demografi (generasi yang akan membebani).

Sangat benar bila siklus pembangunan harus berpijak kepada siklus kehidupan manusia ( Across the life cycle) secara berkelanjutan dan berkemampuan unggul (sustainabelity)

Ada 3 (tiga) kemampuan unggul yang harus dimiliki Generasi kedepan ( the future generation), selain tentunya yang paling utama adalah sehat jasmani dan rohani, mempunyai kemampuan spiritual dan sistem berfikir dan mental model yang dapat terukur ( realible) sehingga mampu membangun visi kedepan dan mampu bersinergi untuk sebuah lompatan kemajuan membangun Indonesia Emas dalam peradaban dunia.

3 ( tiga ) keunggulan generasi millenium (Gen M -Gen Z) di era ini.

Keunggulan yang pertama yang harus ada dalam Generasi Emas adalah keunggulan dan kemampuan dalam menguasai digital yang menjadi aspek yang sangat penting saat ini. Aktualisasi diri pada era digital dapat memudahkan hidup di masa depan (future is digital ) dengan tetap berpedoman kepada etika yang berlaku. Disinilah dapat kita lihat model generasi yang berintegritas.

Kemampuan kedua adalah kemampuan berjejaring atau networking ( termasuk dalam ekological system ) manusia dan lingkungan, karena manusia tidak diciptakan hidup sendiri dalam berinteraksi sebagai makhluk sosial.

Keunggulan yang ketiga adalah kemampuan dan inovasi berkelas dunia dalam menghasilkan produksi barang dan menguasai distribusi dan pengelolaan keuangan ( financial strategic ) yang baik. Konsentrasi saja kepada apa yang dibutuhkan orang dalam bentuk jasa dan barang secara kontinyu yang dikelola dengan teknologi terbarukan.

Kemajuan teknologi digitalisasi harus menciptakan jejaring bisnis yang memudahkan orang dalam mendistribusikan barang yang dihasilkan dengan tingkat kepercayaan yang optimal ( economic trust buiding ).

Kita perlu berbenah diri (introspeksi) untuk mencapai keunggulan dalam 3 (tiga) dimensi tersebut, yang tentu tidak bisa dihadirkan seperti “makanan siap saji” yang diberikan pada kelompok usia tertentu dengan permasalahan yang masih ruwet dan belum sepenuhnya menyentuh 87 juta anak usia sekolah.

Untuk itu perlu program berkesinambungan melalui siklus kehidupan manusia melalu 7 (tujuh ) PILAR Jaringan kehidupan :

1. Masa PRA KONSEPSI. Hindarkan seks bebas dan nikah dini, hindarkan narkoba, persiapkan remaja sehat dengan kadar Hemoglobin bagi pemudi Indonesia lebih dari 12 gr% dan Pemuda 14 gr %.

2. Hamil diatas usia 20 tahun untuk wanita dengan suami yang sudah punya bekal berumah tangga dengan baik.

3. Susui bayi secara eklusif 6 bulan dan upayakan genapkan penyusuan selama 22 bulan.

4. Jaga masa anak usia dini dengan pendidikan keluarga dan lingkungan yang menyamankan dan menyenangkan.

5. jaga masa anak usia sekolah dan remaja dengan lingkungan belajar yang memberi semangat dan daya kreativitas dan inovasi dengan mengutamakan pendidikan kemandirian dan moral serta cinta tanah air. Berikan pendidikan kepemimpinan yang bertanggungjawab dalam bentuk organisasi ( mampu menghormati perbedaan pendapat dll.).

6. Generasi yang mampu berinteraksi dan menjaga lingkungan. Biasakan untuk peduli lingkungan dalam kebersihan dan keteraturan.

7. Kehidupan keluarga yang mengajak harmoni dengan mengajak semua yang ada di rumah untuk bertanggungjawab terhadap aktivitas sejak bangun tidur.

Para pemimpin Indonesia akan mendapatkan generasi pemimpin yang berkelanjutan untuk melanjutkan kehidupan ketika nilai-nilai suri tauladan tercermin dalam melayani masyarakatnya dengan bijaksana.

“Leadership hanya ada disatu masa dan terus berganti, namun followership yang harus terus terbangun menjadi Leadership selanjutnya”

#GEMASIC
#Generrasi Emas Indonesia Cemerlang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kolom

Oleh Naim Emel Prahana   INI tentang ‘pemaknaan’…