Oleh Naim Emel Prahana
Pulau Di Tengah Kepulauan
ombak tetap bergulung
angin terus melaju
dahan, ranting dan dedaunan
bersentuhan
seakan tak hiraukan
penghuni pulau di tengah kepulauan
dikelilingi laut di terpa angin
semula senyap sepi
kemudian berubah hiruk pikuk
kata yang di sana
“ini zaman kebebasan”
yang di sini kemudian
muncullah aneka judul berita
tentang pergesekan para ranting
tentang tiupan isu angin berlalu
tentang perbisikan peraduan
kata yang di sini
“ini pro kontra”
di sana tak lagi menjawab
gelombang laut menari-nari
terus menghantam keretakan bibir pantai
kepentingan nelayan terhempas
tak lagi sempat buang gas dari pantatnya
kata yang di sana di sini
“gas poll” bro sambil menunggu ponsel berbunyi
kata anggota parlemen “kebagian nih?”
beritanya laju diam mendadak
pulau terpencil dikelilingi lautan
tak sunyi diterpa angin menuju
‘kepentingan!’
(Metro, 29 Maret—5 April 2026)
GORESAN aku buat di pulau kecil ini. Pulau yang tak punya hutan belantara, tak punya laut tak punya sumber alam yang menghidupi. Tapi, pulau ini selalu ramai selalu ada yang menuai tanpa ‘bertanam!’ Lalu, ada mereka yang mencoba menggoyangkan beberapa pohon, untuk menarik perhatian burung-burung camar. Lagi, lagi MPO (minta perhatian orang) tidak terkabul, kecuali mengumbar kebodohan, kepicikan dan kelicikan. Makna, itulah bedanya antara mereka yang cerdik dan mereka yang pintar.
Lolong anjing seperti cerita-cerita di negeri luar, di sini tak ada walau banyak orang yang memelihara anjing-anjing dengan bangganya menulis di depan pintu masuk rumah mereka dengan tulisan “Awas, Anjing Galak!”
Kawan-kawan yang membawa tak kuasa menahan tawa, sama seperti halnya tumpukan sampah di beberapa tempat di kota. Di tumpukan itu tertulis pengumuman, “Jangan Buang Sampah Di Sini!”. Tapi, sampah tetaplah sampah di buang di situ.
Ada juga yang berkoar-koar membela kedudukan, status, pangkat dan golongan di pulau di tengah kepulauan itu. Pembicaraan sedang hangat setelah ke luar dari sebuah bank setelah mengajukan pinjaman. Tapi, pledoi mereka tidak fokus. Melebar ke mana-mana, menyinggung orang yang tak ada kaitannya. Bicara “blak-blakan” (katanya sih), tapi, gak jelas ke mana arahnya.
Lalu, dari sini menanyakan, kok bicaranya ke mana-mana dan disebar luarkan melalui pemberitaan? Apa jawabannya? Sungguh mengagetkan.
“Kok saya yang disudutkan, saya nggak ngomong apa-apa!” Lalu, saat ditelepon juga ngomong begitu, berani sumpah he he he. Nggak lama kemudian, yang di sini menerima kiriman video wawancara. Ya yang dikatakannya mirip 100% dengan isi pemberitaan.
Pulau ini yang dulunya ‘wawai’, kembali ‘ramai’, padahal antara ucapan dan kenyataan bertoilak belakang. Banyak yang bilang sih, di sini pemain galo, sikok pajak bagi duo. Jugo pacak di makan dewe. Ha ha ha ha. Padahal, harus diketahui isi Rangkiang (tempat penyimpanan padi hasil panen) digerus terus menerus dengan pledoi politik yang aduh gak kuat telinga dan mata mendengar dan menatap riuh ramai rendahnya cara berpikir dan cara bersosialisasi (bermasyarakat, mengabdi, bersahat dan berjuang untuk kemajuan).
Terima kasih para sahabat yang selama ini masih berpikir jernih dan membantu banyak hal. Maka, mari kita guyub memberantas hama wereng, agar dapat hasil panen yang surplus. Jangan biarkan terang menjadi ‘digelapkan’ terus dengan upaya-upaya kerdil.







